“Sekolah Munafik” Masuk Neraka

Negara ini bukan negara yang baru jadi. Negara ini punya sejarah panjang. Penuh kebanggan juga penuh kepiluan, yang selalu menghinggapi sepanjang jalan menuju kebangkitan. Negara ini bukanlah negara kecil. Bayangkan lebih dari 17.000 pulau yang terhampar 230 juta manusia yang menyesakinya. Masih kurang apa di negeri ini. Semua tersedia. Hanya salah kelola, itu saja tidak kurang tidak lebih.

Seorang Einstein pun bertanya tentang negeri ini.

“Tolong ceritakan tentang negerimu, adakah orang pintar disana?” menelan ludah aku mendengarnya.

“Hai goblok! pertanyaan seperti itu saja tidak bisa kau jawab” nada seorang Einstein mulai meninggi, dengan menarik kencang urat-urat lehernya. Menjadikannya semakin menakutkan. Perpaduan rambut yang sudah tidak pernah tersentuh sisir dengan urat leher yang keluar. Aku tergidik melihatnya. Takut dan ‘lupa’ untuk menjawabnya.

“Hei dengar tidak kamu!?”

Terpaksa akupun menjawab, ”Banyak sekali tuan”

Aku tidak berbohong karena itu benar-benar terjadi. Jika kamu tidak percaya berarti kamu sedang mabuk hari ini. Ya, negeri ini adalah gudangnya orang pintar. Pintar korupsi, pintar mark-up anggaran, pintar merubah pasal, pintar membuat alasan untuk menarik bayaran kepada pelajar miskin. Coba carikan sebuah tempat, dimana kamu tidak bisa mencari orang-orang itu di negeri ini.

Orang pintar adalah hasil dari sebuah pabrik pendidikan. Ya, Pabrik itu bernama Sekolah. Aku sangat yakin kamu juga pernah masuk kedalam pabrik itu dan akhirnya menjadi produk hasil manufacturing pabrik itu. Dalam industri manufacture hanya ada dua hal yang dihasilkan. Pertama barang jadi dan siap jual. Dan yang kedua adalah produk gagal alias sampah. Yang pertama ini yang akhirnya menjadi orang-orang pintar yang sudah aku ceritakan tadi. Produk ini hanya manut mengikuti instrument-instrument yang ada didalam pabrik. Mau dilebur dengan suhu tinggi kemudian dicetak dengan bentuk-bentuk tertentu kemudian dikondensasi dan selajutnya ditambah aksesoris pada dirinya. Dan dia pun manut saja. Yang penting laku dipasaran.

Banyak orang ketika mau masuk pabrik itu punya angan yang tinggi melebihi langit ketujuh. Ekspektasi ketika keluar dari pabrik itu menjadi dirinya sendiri seperti keinginan atau setidaknya klop dengan olah jiwanya. Tapi sayang banyak orang juga lebih memilih dikalahkan oleh sistem ke-manut-an itu. Dia lebih memilih mengikuti sistem itu dari pada olah jiwanya. Ada orang yang sebenarnya potensial dibidang perwayangan malah masuk Teknik Sipil, dengan alasan klasik, kurang laku dipasar. Ada orang yang sebenarnya lebih menjiwai di dunia ekonomi tapi akhirnya malah masuk ke jurusan Hukum, yah ujung-ujungnya di jadi businessman. Apa yang dijual? ya pastilah pasal dan keadilan. Dan ini merupakan bisnis yang mengiurkan.

Kalau aku ditanya memilih mana? antara produk yang pertama atau yang kedua. Pastilah aku memilih yang kedua. Biarpun itu menjadi sampah yang penting sama dengan olah jiwaku. Aku menjiwai dengan apa yang aku lakukan. Seperti kata seorang Thomas Alfa Edison, aku sekolah seakan-akan sedang bermain-main. Tentang masalah tidak laku di pasaran, aku tidak peduli karena aku bukan barang dagangan.

Bahasa sederhananya, seperti yang dikatakan seorang Dahlan Iskan. Potret produk yang pertama beserta sistem instrumentnya adalah tidak lain “sekolah munafik” dalam agama orang munafik itu tempatnya neraka. Neraka itu isinya para koruptor dan para penjilat. Negara Neraka adalah ketika orang kelaparan dibiarkan saja, ketika ada anak kecil yang perutnya bolong karena infeksi dibiarkan saja tanpa perawatan yang memadai, ketika membiarkan akses pendidikan tidak bisa dijangkau oleh rakyatnya, ketika jembatan runtuh karena arsiteknya bertingkah seperti seorang tengkulak “yang penting untung banyak” katanya dan ketika gerbang-gerbangnya dijaga oleh para iblis koruptor.

Mau jadi apa kita? terserah. Kalau kamu ingin masuk dan terus membiarkan Keabadian Negara Neraka itu, pilihlah nomor pertama.

Advertisements

3 thoughts on ““Sekolah Munafik” Masuk Neraka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s