Luku, Cara Menikmati Kehidupan

1362271986433294790
Luku

Dalam dunia dakwah khususnya di Indonesia, da’i terbesar menurut saya adalah Mas Said alias Sunan Kalijaga. Beliau tidak hanya ahli dalam ilmu syariah ataupun fiqih tapi pendekatan dakwah beliau yang luar biasa. Beliau sangat paham dengan realitas sosial masyarakat pada saat itu. Di saat rakyat Jawa masih terlena oleh tembang-tembang dan cerita-cerita hindu-kejawen yang sangat jauh dari sentuhan nilai-nilai Islam. Beliau menciptakan wayang dan tembang macapatan dengan kandungan nilai Islam yang sangat mendalam tanpa membumi hanguskan tradisi yang mereka anut. Kemudian saat rakyat Jawa kesulitan dalam mengelola lahan pertaniannya, beliau menciptakan ‘luku’ bajak tradisional yang ditarik menggunakan kerbau. Jadi selain sisi ruhiyah sisi ekonomi yang saat itu menjadi masalah besar rakyat Jawa saat itu tidak beliau lupakan. Dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang metode dakwah Sunan Kalijaga maupun beliaunya sendiri, tapi ingin sedikit membahas mengenai luku lebih tepatnya me-luku (membajak) dari sudut pandang petaninya.

Terkahir kali saya membantu me-luku adalah saat masih duduk di sekolah tingkat pertama (SMP) di saat saya belum mengenal kata merantau. Ternyata pekerjaan me-luku bukanlah pekerjaan murah ataupun mudah, yang mungkin kita pikirkan selama ini. Tidak murah karena pertama, kita perlu luku dan minimal satu kerbau untuk menariknya. Namun, biaya bisa dikurangi seandainya kerbau pinjam milik tetangga atau malah kedua-duanya pinjaman. Kedua, mahal karena kita akan kehilangan berpuluh-puluh juta karena kulit kita menjadi gosong saat me-luku di sawah. Coba tanyakan kepada artis-artis kita yang doyan perawatan kulit maupun yang hobi operasi kulit, berapa puluh juta, uang yang mereka keluarkan untuk itu? pastinya sangat-sangat banyak! Dan petani berani mengambil resiko untuk hasil yang tidak begitu besar.

Kemudian, tentang me-luku itu bukanlah pekerjaan mudah. Pertama, obyek yang akan kita kendalikan sebenarnya adalah pada sisi makhluk hidup yang tidak berakal yakni kerbau. Karena tingkat kedunguan kerbau ini diatas rata-rata manusia, maka komunikasi kita dengan si-kerbau juga harus di atas rata. Jika kita menggunakan frekuensi yang sama dengan orang yang mempunyai level kedunguan yang luar biasa maka seolah-olah kita berbicara pada tembok saja. Tidak ada respon. Itu artinya jika kamu berteriak pada presidenmu tentang masalahmu dan si-presiden tidak meresponnya itu artinya delta kedunguan kamu dengan si-presiden sangat besar. Maka, carilah metode lain untuk berkomunikasi denganya. Maaf, kembali ke kerbau.

Kita tidak bisa asal menyuruh si-kerbau untuk jalan ataupun untuk berhenti begitu saja. Jika kita melakukannya, yang ada si-kerbau hanya diam saja, atau kitanya sendiri yang ditendang oleh dia. Alasan kedua adalah medan yang sulit. Semakin miring kontur sawah yang kita garap akan semakin susah kita mengendalikan luku dan si-kerbau. Ketiga, susah karena banyak godaanya. Godaan terbesar saat me-luku bukan pada moncong merah meronanya si-kerbau bukan pula  bokong seksi-nya. Godaan terbesar adalah saat kita me-luku kita melihat belut yang bergeliat keluar dari sarangnya. Belut adalah harta terpendam dari busuknya bau lumpur di sawah. Setidaknya ada tiga metode yang biasa dilakukan petani dalam menghadapi godaan besar ini.

Metode pertama, fokus pada trek artinya saat petani sedang me-luku dia tidak menghiraukan kalau-kalau ada belut yang keluar dari sela-sela lukunya. Lurus terus. Kemudian yang terjadi adalah si petani puas karena tanah garapannya cepat selesai dengan hasil yang sempurna. Tapi itu tidak lama, sesampai di rumah sang istri sudah siap-siap untuk melempar panci kepadanya karena si-petani pulang dengan tangan kosong tanpa membawa harta terpendam yang kaya protein itu sebagai lauk yang lezat. Metode selanjutnya, buru godaanya!. Berhubung si-petani tergoda akan kelezatan belut dan juga karena ketakutan kalau-kalau sang istri akan melempari panci jika pulang dengan tangan hampa, maka saat me-luku dia tidak fokus pada tanah garapannya tapi kepada perburuan belut. Alhasil, tanah garapannya menjadi kocar-kacir dan tidak siap untuk ditanami padi esok hari. Metode terkahir adalah me-luku dengan serius tapi tidak acuh kalau-kalau ada belut yang menghampiri jalur lukunya. Jadi selain tanah garapannya bagus juga pulang-pulang dapat sambutan senyuman dari bibir merah merona dari sang istri tercinta.

Kehidupan kita juga begitu, di saat kita sedang melakukan laku luku kehidupan, menjalani kehidupan, seringkali kita berhadapan dengan godaan-godaan yang sejatinya kita tidak tahu apakah itu benar-benar godaan atau memang salah satu nikmat dari Tuhan. Jadi menjalani kehidupan dengan tanpa melupakan realitas sosial memang menjadi satu-satunya pilihan bijak jika kita ingin aman dari tujuan hidup dan menikmati kehidupan itu sendiri.
Selamat Menikmati Kehidupan!

Advertisements

One thought on “Luku, Cara Menikmati Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s