Ayah Pencerita

Ayah (photo by empowered21.com)
Ayah (photo by empowered21.com)

Tulisan ini untuk Ayah saya Pak Marto Suwarjo- yang bulan Juli kemarin berhari lahir, dan kakak saya nomor tiga Mas Teguh- yang hari ini melangsungkan akad-nikah serta Mba Nurul- selamat datang di keluarga kami, semoga Allah Azza wa Jalla memberikan umur yang manfaat, kesehatan yang manfaat, rezeki yang manfaat, pernikahan dan amal ibadah yang barakah, dan keturunan-keturunan yang sholeh. 
Dan juga untuk para ayah serta calon ayah lainnya di luar sana.

Aktivitas paling mudah, tak perlu keluar uang dan tak banyak mengeluarkan energi adalah mendengar. Mendengar adalah aktivitas yang paling pertama yang bisa dilakukan manusia. Di dunia rahim saat Allah Azza wa Jalla memberikan pelajaran tentang tauhid kepada manusia (yang masih dalam bentuk janin), ia hanya bisa mendengar dan berjanji untuk taat. Ketika sang bayi lahir ke dunia, kembali ia diperdengarkan pelajaran itu melalui sang ayah dengan azan dan iqomah. Baru setelah itu sang bayi beranjak mendengarkan tangis haru, ungkapan bahagia dan seterusnya. Iya, aktivitas pertama-tama yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendengar.

Sebuah penelitian dari Universitas Miami mengatakan janin mulai merespon suara-suara dari luar saat janin usia 5 bulan. Itu artinya tepat satu bulan ketika ruh ditiupkan kedalam janin. Seperti dikatakan dalam sebuah hadist,

Dari Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda: ‘’Sesungguhnya, setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya…’’ (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Orang Jawa adalah termasuk pengamal hadist ini sejak dahulu. Seringkali kita dengar dalam tradisi Jawa bahwa seorang ibu hamil mempunyai banyak sekali pantangan saat mengandung. Salah satunya adalah tidak boleh berbicara kotor atau bersedih. Karena akan berpengaruh kepada sang calon bayi. Jadi di sini, penting sekali seorang ibu dan sekaligus sang ayah berkomunikasi, berbicara, dan memperdengarkan hal-hal baik sedini mungkin kepada sang bayi. Pernah dengar kalau musik Mozart atau lantunan murrotal mampu memberikan efek positif terhadap perkembangan otak janin? itu salah-satu contoh ilmiahnya.

Seiring bertambahnya waktu, mendengar menjadi hobi paling disukai dari anak kecil sampai anak tersebut tumbuh menjadi orang sepuh dan rapuh sekalipun. Anak kecil itu paling suka mendengarkan cerita. Beberapa kali saya berinterkasi dengan anak kecil, hal yang paling disukai mereka adalah saat saya bercerita, meskipun cerita yang disampaikan berulang-ulang dengan tema yang sama. Mereka tidak lelah mendengar.

Beranjak remaja, hobi mendengarkan mulai berkurang meskipun tidak sepenuhnya hilang. Remaja sudah mulai berhenti atau sedikit mendengar (nasehat atau perintah). Mendengarkan tapi tak sepenuhnya mencerna. Hormon remajanya bergejolak. Mengubah kalimat aktif menjadi pasif. Dari mendengar menjadi (ingin) didengar. Tapi seperti yang saya sampaikan tadi, hobi mendengar tidaklah sepenuhnya hilang. Toh, hampir semua remaja paling suka mendengarkan suara/musik entah apapun itu. Beranjak dewasa, orang-orang mulai berlatih kembali menjadi pendengar yang baik. Mencerna ilmu, mendengarkan nasehat dan memahami pembicaraan. Jadi aktivitas mendengar adalah awalan yang bersifat langgeng.

Menjadi sosok pencerita yang baik adalah salah satu tugas wajib bagi para orang tua, terutama Ayah. Kenapa ayah? karena kita semua tahu, seorang wanita atau ibu itu sudah terbiasa dan identik suka bercerita. Sudah naluri dari lahir mungkin. Jadi tidak perlu panjang lebar lagi, menjelaskannya. Namun, ayah pencerita belum tentu ada dalam setiap keluarga, apalagi doktrin ibu adalah sebagai madrasah pertama bagi seorang anak semakin menjadikan ayah atau calon ayah untuk irit berbicara. Jadi secara tidak langsung ia menyerahkan semua tanggung jawab pembelajaran anak kepada sang ibu dan ia cukup memberikan logistik yang cukup agar pembelajaran berjalan lancar. Tetapi, hal ini tentu tidaklah bijak. Seringkali kita melihat, ada beberapa teman kita jika ditanya siapa orang yang paling dekat dalam hidup? banyak sekali menjawab Ibu. Hal ini, mungkin efek negatif dari tidak adanya sosok ayah pencerita dalam keluarga mereka.

Menjadi ayah pencerita (sepertinya) tidak terlalu sulit. Cukup ceritakan kisah inspiratif di buku-buku atau lebih bagus menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui. Saya termasuk beruntung mempunyai ayah pencerita. Dulu saya sangat suka kita Bapak bercerita tentang kisah beliau. Beliau selalu bercerita tentang pengalamannya yang biasanya relevan dengan apa yang sedang saya alami saat itu. Misalnya, saat saya malas ngarit (mencari rumput) sepulang sekolah, setelah marah-marah di siang harinya entah malam atau esok harinya pasti muncul cerita beliau tentang petualanganya mencari rumput sampai ke hutan-hutan di Girimanik (rumah simbah saya dekat sana), dimana ia bertemu hewan-hewan berukuran besar dan seterusnya.

Terkadang juga bercerita tentang kisah pewayangan (hobi beliau adalah melihat wayang) atau juga tentang kesaktian para wali. Dalam kisahnya selain memberikan inspirasi beliau terkadang menyisipkan kisah prihatin, perjuangan berat dan sejenisnya. Hal ini mengajarkan saya untuk tetap prihatin dan tidak mengeluh dalam hidup. Sampai sekarang pun, masih seperti itu. Terkadang saat beliau telepon, pasti disisipkan tentang cerita atau kabar. Tentu saja, bukan lagi tentang kisah pewayangan atau sejenisnya.

Bercerita adalah aktivitas yang menyenangkan. Tidak banyak teknik khusus, yang penting mampu memilih tema dan timing yang tepat. Karena jika tema dan timing tidak tepat, maka tentu point cerita tidak sampai. Berikut mungkin bisa jadi tips bagaimana menjadi Ayah Pencerita.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjadi ayah (dalam arti sebenarnya) terlebih dahulu hehe. Kedua, sedini mungkin ciptakan pengalaman-pengalaman positif dalam hidup. Bahasa kerennya buat sejarah jangan hanya pengingat sejarah. Ketiga, tuliskan cerita-cerita itu jika khawatir akan lupa. Keempat, mulai berlatih untuk bercerita (verbal). Sekarang ini banyak sekali media tempat dimana kita bisa bercerita. Kita bisa lakukan di TPA kampung, komunitas anak-anak jalanan, anak-anak di desa binaan, ke keponakan-keponakan dan atau ke adik-adik kita.

Selamat menjadi sosok Ayah Pencerita!

Mari bercerita. Bercerita sampai senja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s