Aku Dan Menulis

Aku dan Menulis (kompasiana)
Aku dan Menulis (photo by kompasiana.com)

Salah satu kelemahan saya dalam hidup adalah me-manage cinta tulisan. Sedari kecil saya lebih tertarik dengan gambar dan angka ketimbang menggoreskan kata demi kata pada buku. Saya paling tidak suka dengan pelajaran yang membutuhkan banyak tulis-menulis. Nah, ada hal yang paling menjengkelkan dari semua pelajaran menulis waktu itu, saat Bu Hartini mulai menyuruh kami untuk menulis (lebih tepatnya menyalin) beberapa kalimat dalam bentuk tulisan sambung, wong nulis gedrik aja blepotan apalagi tulisan bersambung. Sekedar untuk tahu, Bu Hartini termasuk guru favorit saya selama SD dulu, meskipun sedikit galak. Beliau memiliki jam mengajar cukup tinggi di sekolah kecil kami. Kakak saya pertama (umur kami berjarak 10 tahun) sudah mengalami bagaimana rasanya distrep untuk keluar kelas jika ribut di kelas. Bahkan menurut cerita kakak saya, dia pernah diikat di tiang gara-gara tidak mau diam. Hal yang saya sukai dari Bu Hartini adalah saat beliau mengajarkan kami mocopatan (membaca bait-bait Mocopat).

Kembali ke urusan menulis. Tahun berlalu, guru-guru SD saya sudah mulai memaklumi kelemahan saya itu. Mereka sudah tidak perlu repot-repot ngabisin tenaga buat menghujat keindahan tulisan saya. Pak Witno misalnya, guru saya waktu kelas lima dan enam ini sudah tidak lagi mempermasalahkan bentuk abstrak akan tulisan saya saat pelajaran mengarang Bahasa Indonesia. Cukup baginya ia untuk sekedar membaca, meski mungkin baginya susah untuk memahami. Beliau mulai tertarik dengan urusan saya bersama angka-angka dan ilmu alam. Jadi kalau ada lomba-lomba biasanya saya termasuk yang pertama yang ditanya. Meskipun jarang menang. Nasib.

Masuk jenjang SMP saya butuh penyesuaian lagi, karena guru-guru saya hampir semua tidak tahu tentang track record saya dalam bidang tulis-menulis. Sempat dianggap seperti huruf ‘ğ’ (dibaca yumusak g) di dalam bahasa Turki yang hakekatnya ada tapi dianggap tidak ada alias diabaikan berbulan-bulan. Melasi tenan kowe dab. Namun, mereka mungkin shock saat pengumuman juara angkatan di semester pertama. Manusia dengan tulisan blepotan ini bisa menduduki kursi pertama. Maka mulai dari situ, saya mulai digandrungi diperhatiankan, baik oleh guru-guru maupun para cewek-cewek. Aseli ora ngapusi.

Nah saat SMA kualitas menulis saya sedikit meningkat. Yang dimaksud ‘kualitas’ disini bukan untuk bentuk (karena bentuk tulisan tetap saja tak ada perkembangan berarti) tapi lebih kepada kualitas kemauan untuk rajin menulis. Waktu SMA saya mempunyai beberapa buku diary yang penuh dengan coretan tidak jelas. Cerita-cerita harian ngawur. Saya muulai rajin untuk menulis berbagai puisi, cerita, dan mengikuti lomba-lomba. Ya lagi-lagi, kualitas yang sudah saya sebutkan di atas bukan pada arti yang sebenarnya, tetapi tentang masalah habit untuk menulis apapun dan kapanpun.

Kemudian saat kuliah, kebiasaan menulis sudah mulai terlupakan. Saya mulai sibuk untuk urusan-urusan yang jauh dari tulis menulis. Tulisan yang sempat dihasilkan pun tidak jauh dengan urusan kuliah saja. Menulis makalah, laporan praktikum, slide-slide persentasi dan tentu saja skripsi. Bahkan dulu saat mempunyai tugas kelompok, saya lebih tertarik menjadi slide maker and designer ketimbang pembuat makalah. Tinggal copas sana sini dari makalah yang sudah dibikin anggota kelompak yang lain. Beres. Terbukti, beberapa kali dosen saya memuji ‘keindahan’ slide kelompok kami. Jujur, kalau sedang ada presentasi di kelas kadang ada kelompok yang membuat tampilan presentasi yang warna-warni dan norak. Tidak ada seksi-seksinya sedikitpun. Meskipun kualitas isinya jauh lebih bagus tapi kok rasanya pedih di mata, apalagi tertarik mendengarnya.

Kemudian, pada saatnya menulis laporan kerja praktek atau skripsi. Alhamdulillah karena berkat kebiasaan saya waktu SMA dulu, saya bisa menyelesaikan draft skripsi dalam hitungan dua minggu (tidak termasuk revisi). Waktu itu saya punya strategi cukup jitu kenapa skripsi saya bisa kelar dalam hitungan dua minggu (tentu saja sesudah didahului dengan penelitian intensif lebih dari dua bulan sebelumnya). Yaitu, dengan memberikan draft utuh dari Bab I sampai Bab VI kepada dosen pembimbing sekaligus. “Ini skripsi saya pak”. Dosen saya pun sempat kaget sambil berkata, “Loh udah jadi?”. Dengan strategi ini, bertujuan untuk ‘memaksa’ dosen saya waktu itu untuk tidak tega (terlalu banyak) mencoret-coret skripsi. Jadi cukup dua kali revisi saja, akhirnya saya siap untuk sidang pendadaran. Dan untungnya, waktu itu pihak jurusan memperbolehkan hal ini. Karena penyebab utama para penulis skripsi yang susah move on adalah seringnya menghadapi revisi yang tak berkesudahan. Coba bayangkan, kalau anda mengumpulkan skripsi dalam bentuk perbab bukan draft utuh, lalu tiap bab minimal dua kali revisi saja. Bisa dihitung sendiri banyaknya jumlah revisi jika standar skripsi berisi 6 bab.

Setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja (meskipun sekarang kuliah lagi), ternyata ‘kualitas’ menulis saya semakin hilang saja. Sekarang, malah cenderung sebagai silent reader ketimbang excellent writer. Untuk itu, saya bertekat untuk memperbaiki ‘kualitas’ itu kembali. Dengan project yang saya namai ODOA alias One Day One Article. Project ini bukan bertujuan untuk menjadikan saya penulis hebat, yang menyaingi para penulis best seller, bukan. Tapi sekedar untuk memperbaiki kualitas kebiasaan. Karena saya punya penyakit tentang mengelola kebiasan baik ini. Jadi, harap dimaklumi kalau banyak tulisan yang ngga jelas, bercanda, dan tak berstandar SNI. Harap maklum dan doakan istiqomah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s