Rekayasa Futur

futur1

Dalam kitab Madrijus Salikhin, Ibnul Qayyîm Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Saat-saat futur bagi para salikhin (orang-orang yang meniti jalan menuju Allah) adalah hal yang tak dapat terhindarkan. Barangsiapa yang futûrnya membawa ke arah murâqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan senantiasa berlaku benar, tidak sampai mengeluarkannya dari ibadah-ibadah fardhu, dan tidak pula memasukkannya dalam perkara-perkara yang diharamkan, maka diharapkan ia akan kembali dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.”

Terminologi futur 10 tahunan yang lalu memang sempat populer, namun di tahun 2014 ini futur mempunyai nama lain yang lebih gaul dan lebih meng-Indonesia yakni galau. Menurut KBBI galau didefinisikan sebagai kacau tidak karuan atau keadaan yang tiba-tiba ‘jatuh’ dari biasanya. Begitu juga dengan futur, menurut Ar Ragaib futur adalah diam saat giat, lunak setelah keras dan lemah setelah kuat. Galau atau futur adalah penyakit yang tak terhindarkan oleh kita semua. Futur adalah sedikit dari dunia ini yang anti SARA. Karena ia dengan mudah hinggap kepada siapa saja, tidak mengenal tingkat keimanan, ketampanan maupun tebal tipis kantong seseorang. Meski begitu, masih ada kesempatan untuk melakukan rekayasa terhadap penyakit satu ini untuk menuju arah muraqabah. Seperti dalam ilmu fisika kita mengenal efek hydrostatic, dimana semakin besar beda ketinggian maka tekanan yang akan dihasilkan akan semakin besar, kemudian jika tekanan itu bisa di konversi menjadi energi positif tentu akan timbul manfaat yang banyak.

Lantas, bagaimana mendiagnosa diri kita, apakah kita sedang mengidap penyakit satu ini apa tidak. Jelas, setiap penyakit pasti ada gejala. Berikut adalah sebagian gejala-gejala itu;

  • Merasakan kekerasan dan ketidak stabilan hati. Di mana kita merasa hati kita menjadi tidak stabil, tiba-tiba mudah marah atau sebal terhadap sesuatu dan yang paling parah adalah mulai sulit menerima nasehat.
  • Menunda-nunda pekerjaan. Ini adalah gejala selanjutnya yang mengiringi disaat kita sedang galau. Suasana hati kita yang tidak stabil berakibat kepada menunda-nunda pekerjaan. Lalu puncaknya setelah terbiasa menunda-nunda pekerjaan adalah kemudian menjadi bermalas-malasan.
  • Bermalas-malasan dalam hal apapun. Ibadah sunnah ditinggalkan, shalat fardhu menjadi kacau atau Quran dibiarkan bersarang laba-laba. Dalam kondisi ini efek yang sangat kelihatan adalah banyak aktivitas harian menjadi tebengkalai, target tidak tercapai dan sebagainya. Meskipun tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan itu tapi dikerjakan tanpa semangat, seperti yang Alloh firmankan “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS At Taubah: 54).
  • Perhatian besar terhadap urusan dunia. Diawali dengan kesibukkanya dengan kehidupan yang menjauhkan kepada urusan ibadah lalu berani untuk melakukan kemaksiatan baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
  • Dan yang terakhir adalah kehilangan jati diri. Sudah mulai merasakan kehilangan prinsip dalam hidup, mudah terpengaruh dan terombang-ambing oleh keadaan. Mulai menyalahkan orang lain dan merasa sangat sedih tiba-tiba.

Lalu apa obatnya?

  • Bermuhasabah. Karena dengan ini kita akan sadar tentang apa-apa yang sudah kita lakukan.
  • Berhenti. Yakni berhenti untuk melakukan maksiat dan hal yang sia-sia.  Sebagaimana ibadah bisa menghindarkan diri dari maksiat, maksiat juga bias menjauhkan seseorang dari amal amal kebajikan.
  • Istiqamah dengan amalan-amalan harian untuk meningkatkan kekuatan rohani dan jasmani. Hanya dengan persiapan rohani dan jasmani sajalah kita dapat mengarungi berbagai macam rintangan kehidupan.
  • Memberi jeda. Jeda sangat diperlukan oleh hidup. Ditengah rutinitas yang menjemukkan, hendaknya memberikan jeda terhadap tubuh dengan bertamsya atau mengasingkan diri.
  • Berkumpul dengan orang-orang shalih. Dengan terbiasa berkumpul dengan mereka kita tidak merasa sendiri dan lebih mudah kita menemukan orang-orang yang bernasehat dan memotivasi.
  • Menambah tsaqofah keislaman. Memahami tentang kesempurnaan Islam. Dilakukan dengan membaca buku maupun menghadiri majelis-majelis ilmu.
  • Berbagi. Berbagi apapun yang kita miliki baik harta, tenaga maupun ilmu. Sering-sering lah kita bersedekah, sering-sering lah kita berbagi ilmu. Karena dengan berbagi mudah bagi kita untuk mengingat segala sesuatu dan sekaligus bentuk syukur atas ilmu dan harta kita.

Meskipun kita tidak punya antibodi yang mujarab terhadap penyakit ini, namun masih ada peluang bagi kita untuk menghindar darinya. Yakni dengan jangan berlebih-lebihan, baik dalam hal ibadah atau urusan-urusan yang lain. Melakukan urusan yang berlebihan akan memunculkan efek negatif pada tubuh. Yakni tubuh akan merasa letih secara fisik maupun psikis. Jika sudah begitu sangat mudah bagi penyakit galau menyerang.

Jangan suka menyendiri. Menghindari maksiat disaat banyak orang akan terasa lebih mudah dibanding kita sendiri. Keberadaan orang disekitar kita memberikan rasa sungkan untuk melakukan keburukan. Seperti sabda Rasullulah “Syetan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (HR. Ahmad).

Bersiap terhadap kondisi. Perubahan kondisi yang tiba-tiba kadang tidak diikuti dengan respon yang baik, dikarenakan tidak adanya kesiapan pada diri. Jika sudah begitu, kita akan merasa jatuh dan kalah.

Dan yang terakhir adalah menghindari hal-hal yang syubhat maupun yang haram. Selama masih ada hal-hal yang syubhat kita akan terbebani dalam menjalani ibadah apalagi jika hal-hal itu jelas hukumnya haram. “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam keharaman.” (HR. Bukhari no. 52, dan Muslim no. 1599).

Penutup

Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, mari jadikan setiap futur atau perasaan galau yang muncul secara tiba-tiba di saat yang kita tidak ketahui menjadi sebuah energi positif bagi kita untuk kembali mengingat dan berjuang di jalan Allah Azza wa Jalla. Semakin lama membiarkan diri kita dalam keadaan futur, akan semakin sulit untuk kita menemukan jalan kembali. Mari saling memperbaiki.

Dari berbagai sumber.

Diantara rak-rak buku, Kampung Taman Bunga
21 Agustus 2014.

Advertisements

One thought on “Rekayasa Futur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s