Ojo Dumeh | Pelajaran Hidup No. 1

4624-ojo-dumeh-kudu-tansah-eling-lan-waspada

Sebelumnya, kulo badhe ngapunten kagem para pini sepuh lan sepah kalau dalam tulisan ini banyak hal yang terkesan sok menggurui atau sok ngerti. Sungguh hamba yang ganteng perlu belajar ini tidak bermaksud begitu. Saya menulis, sekedar seperti Orhan Pamuk bilang Mutlu Olmak Için Yaziyorum (saya menulis untuk bahagia) bukan untuk yang lain. Jadi begini, setiap hari Jumat saya ingin berbagi serial tulisan tentang Pelajaran Hidup. Apa itu “Pelajaran Hidup”? ya tentang apa saja, asal bermanfaat bagi orang-orang yang masih hidup. Karena bagi yang sudah meninggal tentu ngga perlu baca. Kenapa perlu ditulis? karena saya ngga bisa nyanyi. Trus kenapa harus hari Jumat? karena itu…. Hari Jumatan!!!. Wis pokoke intine angger dino Jumat aku arep nulis bab sing wis tak jelaske maeng dadi ojo kakean takon dab.

####

Mas mba yang saya cintai dan saya banggakan. Sampeyan paham kan terminologi Ojo dumeh itu? kalau tidak, silahkan buka lagi buku Tomernya. #bercanda. Ojo dumeh itu biasanya, dikatakan orang Jawa saat melihat orang lain yang dengan sombongnya memamerkan sesuatu atau melihat seseorang itu bertingkah sombong. Misal; Ojo dumeh sugih kowe kemlinthi (Jangan karena kaya kamu sombong atas hartamu), Ojo dumeh dadi priyayi kowe jumawa (Jangan karena jadi pejabat kamu menindas), terus ada lagi Ojo dumeh mbujang kowe aleman (Jangan karena Jomblo kamu sok-sokan). #abaikan yang terakhir ini. Jadi intinya ojo dumeh itu sama artinya dengan jangan sombong. #wis kui thok.

Dalam sejarah, ada dua jenis makhluk yang dikutuk Tuhan karena mengabaikan ojo dumeh ini. Yakni, Iblis (dan seperangkatnya) dan Manusia (Adam dan isterinya). Pertama, Iblis dikutuk Tuhan haram baginya surga karena dengan sombongnya berani menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada manusia. Lalu ada manusia, yang diusir dari surga karena memakan buah (buah kuldi) yang seharusnya tidak ia makan. Terkesan, dua makhluk ini ‘hanya’ melakukan kesalahan kecil, tapi coba kita lihat apa akibatnya. Sungguh murka Tuhan terhadap dosa pertama yang dilakukan iblis dan manusia ini tidak bisa dianggap kecil. Semoga kita dijauhkan dari sikap sombong.

Dalam Islam, sombong adalah awal dari sebuah kesyirikan, dosa tertinggi yang tak terampuni kecuali Allah memberikan amnestinya. Ada dua cabang dalam kesombongan, pertama adalah menolak kebenaran dan yang kedua adalah menghina sesama manusia. Seperti Rasulullah jelaskan dalam hadistnya “Sombong ialah tidak menerima kebenaran dan menghina sesama manusia” (Maktabah Syamilah, HR. Muslim no. 131).

Kita dalam keseharian boleh jadi sering melakukan cabang-cabang kesombongan ini. Menolak kebenaran tidak sekedar mengingkari kebenaran, tetapi tidak melakukan kebenaran atas kebenaran yang diyakininya adalah bagian dari ini. Contohnya, kita menyakini bahwa wine atau arak adalah haram, namun ketika kita meminumnya artinya kita mengingkari kebenaran itu di saat yang sama.

Menghina sesama manusia adalah hal kedua yang sering kita lakukan secara sadar maupun tidak, dengan maksud bergurau atau sengaja. Penghinaan terhadap manusia pasti diawali dengan merasa berbangga diri,  merasa lebih dibanding yang lain, merasa punya segalanya dibanding sesama dan seterusnya. Lalu kemudian berani menyindir, menyinggung bahkan menghinakan sesama manusia.

Jumat hari ini, saya sangat bersyukur. Bahwa di negeri kita hilang sudah moment dimana sesama manusia mudah saling menghinakan, sesama warga negara mudah saling merasa benar dan sesama umat mudah saling memfitnah. Terpilihnya Jokowi sebagai presiden sudah tentu harus diikuti kerendahan hati oleh para pendukungnya dan Jokowinya sendiri. Berhenti untuk mengatai dan menganggap dirinya paling benar. Bagi Prabowo dan pendukungnya yang resmi menjadi ‘oposisi’ hendaknya berlapang dada. Berhenti menganggap yang juara pasti curang, menempatkan dirinya sebagai pihak terdzolimi. Mari kita kembali dalam satu barisan, merapatkan shof-shof yang sempat renggang, menyelaraskan setiap gerakan. Berhenti membenci. Berhenti berlaku sombong. Mari saling memperbaiki diri.

 Ojo dumeh menang kowe jumawa, Ojo dumeh kalah sing liyan salah.

Menanti adzan Jumat, di Kampung Taman Bunga.
22 Agustus 2014

Advertisements

6 thoughts on “Ojo Dumeh | Pelajaran Hidup No. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s