Tentang Putri (pe)Malu [Sebuah Filosofi]

mimosa

Dulu saat masih duduk di sekolah dasar, saya terbiasa jalan kaki ke sekolah. Jarak rumah ke sekolah tidaklah terlalu jauh. Satu kilometer kurang lebih. Tidak seperti kisah Andrea Hirata yang mesti naik gunung, melewati rawa dan bertemu buaya untuk merasakan nikmatnya bersekolah dan bertemu teman-temannya. Justru, bagi saya satunya-satunya rintangan terbesar waktu itu hanyalah mesti melewati kuburan seram untuk sampai di sekolah. Namun, selama perjalanan satu kilometer itu saya selalu menemukan hal-hal baru. Diantaranya menemukan cara baru bagaimana bikin nangis anak-anak perempuan, cara godain si-boy (nama anjing tetangga saya dulu) tapi tetap aman, sampai bikin bendungan kala sedang hujan. Entah mengapa, air hujan dan anak kecil adalah hal yang tak terpisahkan. Selalu aja ada permainan baru yang bisa dilakukan, tidak melulu tentang sekedar hujan-hujanan. Dan permainan yang paling seru di kala hujan waktu itu adalah menggoda sang putri. Putri malu.

Di musim hujan di dusun kami biasanya banyak tumbuh tanaman jenis polong-polongan satu ini. Tanaman perdu yang bernama latin Mimosa pudica mempunyai karakter unik. Jika kita beri rangsangan, baik itu dengan sentuhan, panas atau sekedar ditiup maka secara cepat daun-daun kecilnya akan mengatup, seolah-olah tanaman itu sudah layu atau mati. Namun, tidak lama kemudian daun-daun itu akan kembali lagi seperti semula. Mengapa begitu? hal ini tidak lain adalah cara pertahanan tumbuhan ini dari pemangsa (herbivora). Ada kisah menarik tentang asal-usul mengapa tumbuhan ini dinamakan putri malu. Namun, silahkan gogling sendiri hehe, karena disini saya tidak akan membahas tentang cerita itu. Saya akan sedikit membahas tentang filosofi dari tumbuhan perdu ini.

Seperti yang sudah saya bahas tadi, tumbuhan ini memiliki ciri khas pertahanan diri dengan mengatupkan daun secara cepat jika kena rangsangan dari luar. Jika sudah sepenuhnya daun-daun itu mangatup, maka segan bagi pemangsa untuk memakannya. Hal ini memiliki filosofi yang dalam jika kita cermati. Jika diibaratkan tumbuhan putri malu ini adalah seorang wanita, maka wanita harusnya seperti itu adanya. Mereka malu untuk memamerkan bagian tubuhnya yang bukan hak, selain kepada suami dan mahrom lainnya. Malu merespon rangsangan vulgar dari lelaki asing di sekitarnya. Ia malu untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Sudah kodrat seorang wanita, ia cenderung mempunyai rasa peka yang lebih tinggi dibanding kaum lelaki. Rasa peka dan malu ini sejatinya sebagai benteng pertahanan bagi seorang perempuan. Bukan malah menjadi kelemahan. Coba tengok remaja-remaja perempuan sekarang. Susah bagi saya berkata-kata. Mereka sekarang jadi sales KFC semua, lha wong jualan paha dimana-mana dan gratis lagi. Maka, mana sempat bagi kaum laki berkata-kata, selain istighfar dan buang muka. #halah

Filosofi lain. Jika kita amati, di sela-sela daun tumbuhan ini terdapat duri-duri kecil. Duri ini berfungsi sebagai pertahanan dari pemangsa. Lagi-lagi pertahanan, tumbuhan ini udah kayak reaktor nuklir aja yang mempunyai pertahanan berlapis. Khusus buat temen-temen Nuke ’06 (yang baca) apa aja pertahanan berlapis itu? podo aku yo lali hehe. Seorang wanita juga begitu, harus mempunyai pertahanan berlapis. Wanita memang mempunyai banyak kelebihan, diantaranya ia adalah makhluk yang penuh kelembutan. Makna kelembutan di sini sudah seharusnya bukan berarti lemah, yang hanya bisa menangis saat kecil dibully dan galau saat besar didzolimi. Bukan. Seorang wanita harus tumbuh kuat, ikut lima jenis beladiri kalau perlu. Jadi sewaktu-waktu ada yang nyolek-nyolek manja langsung di upper cut kena ulu hatinya. #kejam. Memang harus begitu. Tapi mau gimana lagi, dulu di dojo tempat saya berlatih taekwondo aja masih didominasi anak-anak lelaki anak perempuannya bisa dihitung jari. Apalagi sekarang, boleh jadi para remaja perempuan itu justru menikmati berbagai godaan, buktinya banyak yang dicolek malah mbales nyolek berkali-kali malah. Tuh di fesbuk contohnya.

Tumbuh mandiri, mempunyai prinsip, gagah dalam kelembutan adalah sosok wanita yang kian punah di jaman sekarang. Pergaulan bebas lalu hamil saat anak-anak (bukan pra nikah lagi) sudah menjadi tontonan di media-media sekarang. Lantas, apa yang harus dilakukan? saran saya pahami lagi pelajaran Biologi. Buka lagi buku-bukunya waktu SD. Serap filosofi tumbuhan putri malu, kelak dikemudian hari kau akan menjadi Putri (pe)Malu yang ayu. Sungguh.

23 Agustus 2014
Di Kampung Taman Bunga, Negeri Kaum Pengelana.

*sumber gambar disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s