Buku Lusuh Mamak

closed-book

Semenjak menikah Iqbal lebih memilih tinggal bersama istrinya. Meninggalkan Mak Aisyah, mamak tercintanya yang telah merawat ia selama ini, sendirian di rumah kecilnya di pinggiran kota. Rumah itu sebenarnya rumah dinas sebuah perusahaan tekstil milik pemerintah, yang kemudian dihibahkan ke Mak Aisyah sebagai kompensasi atas tewasnya suaminya karena kecelakaan industri. Saat itu Mak Aisyah sedang mengandung delapan bulan. Tak lama setelah lahirnya Iqbal -anak yang dikandungnya- Mak Aisyah terpaksa mengajar sambil membawa Iqbal yang masih bayi di sebuah sekolah swasta sebagai guru bahasa di sana. Karena mengingat tabungan yang dihasilkan suaminya selama ini semakin menipis.  

Keputusan Iqbal untuk meninggalkan mamaknya sebenarnya bukanlah keputusan yang mudah baginya. Hati kecil Iqbal sebenarnya tidak ingin meninggal mamak yang selama ini bahkan tidak pernah memarahinya sekalipun, meskipun dulu ia sering kali membuat sakit hati Mak Aisyah. Namun, setelah wanita dari kota yang sekarang menjadi isterinya itu terus membujuknya untuk tinggal di kota ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan dari pada ia terus bertengkar dengan wanita yang baru ia nikahi itu..

***

Tak terasa waktu sudah berjalan 10 tahun. Iqbal dan istrinya hidup bahagia bersama dua anaknya, meskipun mereka hanya tinggal di rumah susun yang sederhana. Semenjak perpindahannya ke kota, ia kurang beruntung dalam persaingan mencari pekerjaan. Yang pada akhirnya ia hanya menjadi seorang sales buku, sedangkan istrinya sendiri hanya tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaannya sebagai sales mengharuskan ia sering ke luar kota untuk pameran, lebih-lebih lima tahun belakangan ini. Tidak pasti sebulan sekali ia bisa pulang bertemu anak-anaknya, apalagi menengok mamaknya yang tinggal di pinggiran kota.

Suatu hari ada panggilan masuk ke telepon genggamnya.

“Assalamualykum, dengan siapa ini?”

“Waalaykumsalam, ini Iqbal ya… anaknya Mak Aisyah? saya Pak Burhan tetangga mamakmu”

“Oh Pak Burhan, iya pak ini saya Iqbal. Ada apa pak?” tanya balik Iqbal kepada Pak Burhan, tetangganya yang dulu sering membantu mamaknya jika ada atap rumah yang bocor.

“Nak, kamu harus pulang sekarang. Mak Aisyah sedang sakit keras”

Tanpa sempat menjawab saat itu juga ia pamitan kepada supervisornya untuk kembali ke kotanya untuk menjemput istri dan anak-anaknya lalu kemudian ke rumah mamaknya.

***

Perjalanan ia dari kota sebelah dan kembali ke kotanya lalu diteruskan ke rumah Mak Aisyah memakan waktu delapan jam. Kondisi Mak Aisyah semakin kritis. Sesampainya Iqbal di rumah, ia langsung mendekat dan memegang tangan ibu tercintanya itu.

Mengetahui anak tercinta memegang tangannya, dengan terbata-bata Mak Aisyah berkata lirih.

“Nak, tolong ambilkan buku kecil mamak di laci meja bapakmu” Iqbal segera beranjak dari tempatnya dan menuju meja kecil yang dulu sering di pakai ayahnya. Di dalam laci terdapat sebuah buku catatan kecil yang terlihat lusuh termakan usia.

“Ini Mak…” kata Iqbal sambil menunjukan buku itu kepada mamaknya.

“Bukalah…” kata Mak Aisyah lirih. Iqbal kemudian membuka perlahan-lahan. Halaman pertama kosong, hanya tertulis nama mamaknya dan ayahnya. Kemudian Iqbal melanjutkan ke halaman ke dua, tidak ada yang menarik, hanya terdapat daftar judul buku-buku. Judul buku-buku yang sangat ia kenal, karena ia juga menjual buku-buku best seller yang telah dicetak berkali-kali karangan seorang pengarang bernama Humaira. Lalu ia membuka halaman selanjutnya, hanya tertulis deretan angka.

“Tidak ada apa-apa Mak, hanya daftar buku dan deretan angka” kata Iqbal keheranan, karena tidak ada apa-apa lagi yang tertulis di buku kecil itu, selain yang sudah disebutkan tadi.

“Nak, itu buku yang ayahmu beli saat kamu masih di dalam kandungan. Waktu itu mamak dan ayahmu berjanji; jika suatu saat anak kita menyakiti hati jangan sekalipun memarahinya, cukup diam dan menulis sesuatu.” Iqbal hanya bisa terdiam dan mulai menangis. Tidak habis pikir bahwa buku-buku karangan Humaira yang ia jual selama ini adalah buku yang dikarang oleh mamaknya sendiri.

“Lalu mak, ini bagaimana dengan angka-angka ini?” tanya Iqbal kepada mamaknya.

“Itu nomor rekening atas namamu, hasil royalti buku-buku itu. Mamak tak tau berapa isinya, karena tak pernah mengambilnya sekalipun”

“Mak….” tangis Iqbal sambil memegang erat tangan mamaknya.

Gambar ilustrasi dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Buku Lusuh Mamak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s