Jadilah Lebah | Pelajaran Hidup No. 2

Seekor lebah mampir di meja belajar saya
Seekor lebah mampir di meja belajar saya

Hampir terlupa akan janji saya setiap hari Jumat. Ya, janji saya untuk berbagi hikmah, berbagi pelajaran hidup bagi saya, bagi kamu, bagi sampeyan dan bagi kita semua manusia yang masih hidup.

Alkisah, akhir-akhir ini kamar saya mulai banyak didatangi beberapa ekor lebah. Entah, apa maksud dan tujuan mereka sudi mampir ke kamar saya, padahal tidak ada apa-apa yang (seharusnya) menarik bagi lebah. Mungkin, bagi mereka sang penghuninya sebegitu menarik seperti mawar, seharum melati atau seatraktif bunga kenanga yang akhirnya menjadikan mereka begitu suka mendekati saya, merayu-merayu dan tentu tidak sedikitpun berusaha menyakiti. Hmmm, sebegitunya kah?

Lebah adalah salah satu hewan yang mendapat anugerah Allah SWT dengan menjadikannya sebagai sebuah nama surat Al-Quran, yakni Surat An-Nahl. Tak hanya lebah memang, dua hewan serangga lain yang dijadikan nama surat adalah semut (An-Naml) dan laba-laba (Al-Ankabut). Bicara tentang lebah, sesungguhnya kita bicara tentang keteraturan hidup. Kita bicara bagaiman manusia menjalani (seharusnya) hidup. Itulah mengapa Allah memberikan tempat yang spesial bagi lebah, sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari seekor serangga yang ukurannya tidaklah lebih besar dari jempol tangan kita.

Memakan Makanan yang Baik, dan Menghasilkan yang Terbaik.

“Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)

Lebah sungguh berbeda dengan lalat. Lebah hanya hinggap dan mencari makan di tempat-tempat (bunga atau buah) yang baik. Mereka mencari nektar dari bunga-bunga itu. Dari sini kemudian seekor lebah menghasilkan sesuatu yang tak kalah baik dari yang ia dapat yaitu berupa cairan bernama madu. Madu adalah cairan yang kaya akan manfaat. Sudah ratusan tahun madu dijadikan obat, suplemen dan sebagainya. Lebah hanya butuh yang baik dan menghasilkan yang terbaik.

Begitu pula seharusnya manusia. Makanan yang ia makan seharusnya dari tempat-tempat yang baik (halal) dan berkualitas baik (thoyiban). Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 168  “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.” Sehingga dari makan-makan itu, dihasilkan sifat-sifat terbaik manusia. Jika ia memegang jabatan ia akan amanah, jika ia berilmu maka ia memberi manfaat dan jika ia berharta maka ia akan berbagi.

Kehadiraannya Memberi Manfaat

Tak hanya manusia yang bisa mengambil manfaat langsung dari lebah. Sesungguhnya buah-buahan, bunga atau tempat-tempat dimana lebah mencari makan sesungguhnya mendapat manfaat langsung darinya. Saat lebah sedang bekerja mengumpulkan nektar, sesungguhnya ia membantu dalam proses penyerbukan, sebuah proses fundamental dari sebuah bunga atau buah-buahan dalam siklus kehidupannya. Karenanya, serbuk sari bisa bertemu dengan bertemu dengan kepala putik, dengan pertemuan inilah dihasilkan buah-buahan yang manis, biji-bijian yang bermanfaat dan bibit baru yang mempertahankan.

Kita sudah sepantasnya juga meniru perilaku lebah ini. Keberadaan kita diharapkan memberi manfaat, kehadiran kita menenangkan, dan adanya kita tidak merusak. Dengan begitu, kita adalah menjadi sosok yang diharapkan bukan sosok yang dibenci bahkan dicampakkan. Dunia begitu senang akan kita, menunggu-nunggu, bahkan mengingat disaat kita sudah tiada.

Beramal Jama’i

Dalam sebuah koloni lebah, sesungguhnya masing-masing dari mereka memiliki peran-peran masing. Ada yang menjadi pemimpin (lebah ratu), ada yang menjadi lebah pejantan dan ada pula yang menjadi pekerja. Tidak pernah sedikt pun dari mereka saling iri atau menyerobot urusan yang bukan kapasitasnya.  Mereka mengenyampingkan sifat itu, sehingga mampu bekerja sama dalam kelompok yang besar.

Sebuah pelajaran penting bagi kita. Saat kita berjamaah, berkelompok atau berorganisasi maka mengetahui peran masing-masing, tidak saling iri dan tunduk pada pemimpin maka akan menghantarkan kita kepada sebuah jamaah yang kokoh. Kemampuan kita bekerjasama dalam sebuah tim, akan sangat bermanfaat bagi tim untuk meraih tujuan yang sudah disepakati sebelumnya.

Bekerja Cerdas dan Keras

Jika diperhatikan, sesungguhnya seekor lebah memiliki kecerdasan yang tinggi. Keahlian lebah dibidang arsitektur diakui oleh para ahli sebagai hal yang menakjubkan. Sarang lebah yang berbentuk heksagonal adalah buktinya. Pilihan geometri ini memiliki banyak kelebihan jika dibanding bentuk geometri lain. Dengan sarang berbentuk heksagonal ini, para lebah akan menyimpan madu dengan jumlah maksimal, namun hanya dengan menggunakan material yang sedikit untuk membangunnya.

Selain itu, kemampuan lebah dalam usahanya menghasilkan madu sudah tidak diragukan lagi. Seekor lebah dalam sehari bisa terbang mencapai ribuan kilometer dan setiap detik seekor lebah mampu mengepakkan sayapnya sebanyak 250 kali.

Kita dalam bekerja, tak cukup hanya bekerja dengan giat. Kita butuh kerja cerdas dalam pekerjaan kita. Karena, efektifitas dan totalitas kerja adalah kunci keberhasilan kita.

Tidak Mengganggu kecuali Diganggu

Ini adalah salah satu keunikan dari seekor lebah. Lebah adalah makhluk paling cinta damai, mereka tidak akan mengganggu manusia jika tidak ada gangguan yang mendatangi mereka. Karena sesungguhnya mereka paham akan resiko jika ia memulai perkelahian. Karena ketika ia menyengat -mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya- maka resiko yang akan ia terima sangatlah besar, yakni nyawa mereka sendiri. Saat menyengat, kantung racun terbuka. Kemudian, di saat itu juga racun akan mengalir ke tubuh obyek yang disengat dan tubuh lebah itu sendiri.

Jika ibarat seekor lebah itu adalah hati kita, maka hati yang sering marah, jengkel, iri bahkan mendendam akan menjadikan hati kita sakit bahkan mati. Sebuah hati yang sakit maka peluang baginya untuk menerima kebenaran akan mengecil. Hati yang sakit atau mati akan melahirkan sifat Dumeh -sikap sombong- penyakit hati nomor satu yang membuat dua makhluk menerima murka Allah hingga hari kiamat.

Ingin hidup makin berkah? belajarlah dari seekor lebah.

29 Agustus 2014
Sepenuh Cinta
dari Kampung Taman Bunga Mawar.

Advertisements

One thought on “Jadilah Lebah | Pelajaran Hidup No. 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s