Virus Doing Nothing Menyerang

Tak hanya flu yang suka hinggap ke tubuh kita, virus Doing Nothing sering kali mampir dalam setiap kesibukan, sela-sela aktivitas dan tak jarang menyita banyak waktu. Yak, virus kalem luarnya tapi berbahaya dan bersifat menular ini menjadi ancaman bagi siapapun. Gejala awal saat kita mulai terjangkit virus ini adalah ketika kita mulai malas-malasan, menunda-nunda, hingga yang terburuk tak melakukan apa-apa.

Lalu apa sih penyebabnya? menurut observasi scientific yang saya lakukan, baik pengamatan teman-teman lab saya, teman kamar, bahkan apa yang saya alami sendiri biasanya dimulai dari munculnya rasa kecewa atau wagol kalau istilahnya orang Jawa. Yak, ternyata kekecewaan membawa penyakit turunan. Dari malas-malasan, menunda-nunda, hingga doing nothing.

Menurut kebiasaan, rasa wagol ini muncul tanpa bilang-bilang, bersifat mendadak dan tanpa kompromi. Contohnya, saat kita lagi semangat-semangatnya bimbingan, eh tiba-tiba professor yang kita tunggu mendadak batalin janjian. Jadilah wagol. Atau saat kita lagi asyik ketik-ketik, eh listrik njepret tanpa bilang-bilang. Mendadak wagol. Atau-atau saat kita udah sabar berharap nunggu si-dia, eh orang yang kita harapin tanpa kompromi pergi dengan orang lain. Mendidih wagol.

Akibatnya, jika akumulasi wagol ini udah tak tertampung dalam bejana hati, maka siap-siap imunitas kita terhadap penyakit yang lebih buruk akan semakin melemah. Yang pada akhirnya kita terjerumus pada virus doing nothing yang berbahaya.

Gimana kaga berbahaya, jika untuk membangkitkan motivasi, semangat kerja, ghiroh perjuangan butuh waktu, duit dan treatment yang lama, nih virus seenaknya ngancurin itu semua. Akibatnya? banyak sekali. Mulai dari schedule yang berantakan, target-target yang berceceran hingga hilangnya orientasi.

Lantas, gimana dong biar kita ngga terjebak oleh virus ini? Yak, satu-satunya solusi yakni jangan sekalipun kita membuat kecewa. Karena sekali kita membuat kecewa orang lain, maka dilain waktu rasa kecewa itu akan berbalas kepada kita.

“Allahumma inni ‘auudzu bika minal hammi walhazani, wa ‘auudzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa ‘auudzu bika minal jubni wal bukhli, wa ‘auudzu bika min ghalabtid dayni wa qahrir rijaali”

Udah gitu aja. Let’s back to the thesis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s