Setengah Isi Setengah Kosong | Pelajaran Hidup No. 3

setengah isi setengah kosong

Hampir satu dekade yang lalu saya membaca buku “Setengah Isi Setengah Kosong” karya Parlindungan Marpuang. Buku yang saya dapat secara gratis (hasil reject-an dari toko buku yang dikelola kakak saya, karena ada kesalahan cetak) ini cukup banyak memberikan pengaruh besar dalam hidup saya. Atau lebih tepatnya, bagaimana saya memandang kehidupan. Di salah satu babnya yang berjudul sama dengan buku tersebut, kita diberikan gambaran tentang bagaimana memandang kehidupan.

Sebagian dari teman kita (entah itu rekan kantor atau teman kuliah) kadang mengeluh tentang aktivitasnya, sementara kita sendiri merasa baik-baik saja. Sedangkan, beban kerja atau kuliah yang diterima masing-masing dari kita sama. Mengapa bisa begitu?

Menikmati hidup itu sebenarnya tergantung pada cara pandang kita terhadap kehidupan itu sendiri. Jika kita diberikan sebuah gelas, kemudian gelas itu diisi dengan air atau kopi, namun isinya tidak penuh, cukup setengah saja. Lalu, akan ada dua persepsi setiap orang tentang gelas itu. Yang pertama, boleh jadi orang mengatakan gelas itu setengah kosong. Di sisi lain, orang mengatakan gelas itu setengah isi.

Cara pandang. Cara pandang kita terhadap sesuatu akan berpengaruh besar terhadap kondisi psikologi kita, tak hanya itu, bahkan akan mempengaruhi targetan hidup jika diimbangi dengan kerja-kerja yang produktif. Misalnya begini, jam pulang di suatu kantor adalah jam 4 sore. Sedangkan sekarang, masih pukul 15.45. Orang-orang katagori pertama akan mengatakan 15 menit adalah waktu yang tanggung untuk melakukan pekerjaan. Bagi mereka, 15 menit lebih asyik untuk membuka social media atau sekedar ngobrol sambil menunggu waktu pulang kantor. Tetapi, bagi orang-orang katagori kedua, memandang 15 menit adalah kesempatan. Kesempatan menyelesaikan pekerjaan atau kesempatan memulai pekerjaan baru agar beban pekerjaan esok hari tidak terlalu membebani.

Tak hanya itu, cara pandang juga sangat penting untuk melihat potensi diri kita. Orang yang cenderung memiliki cara pandang positif akan fokus kepada kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Namun, sebaliknya, orang-orang yang cenderung memiliki cara pandang negatif lebih suka mengeluh terhadap hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan. Mereka pesimis dengan potensinya sendiri karena terlalu sering memikirkan kelemahan, hingga melupakan bahkan mengubur dalam-dalam kelebihan pada dirinya.

Jadi mulai sekarang, mari rubah sudut pandang kita. Biar apapun yang terjadi kita menjadi sesuatu yang menyenangkan dan patut disyukuri.

Ilustrasi gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Setengah Isi Setengah Kosong | Pelajaran Hidup No. 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s