Berjudi Di Lepas Pantai

Menuju Ujung Senja
Menuju Ujung Senja

Pak Kahar, begitu saya memanggilnya. Perkenalan singkat kami di tepi muara sungai kecil itu, berbuah ajakan untuk melaut bersamanya atau lebih tepatnya saya yang meminta -setengah memaksa- untuk ikut melaut. Mungkin setelah melihat mata memelas saya, beliau jadi tidak tega membiarkan keinginan aneh orang yang tak dikenalnya ini. Pak Kahar tempo hari sudah mengatakan, bahwa melaut itu tidak ada enaknya sama sekali. Terhanyut oleh ombak, gelap gulita, sepi dan dingin menusuk oleh angin malam, begitu Pak Kahar menakut-nakuti. Mungkin baginya, saya ini tidak ada tampang gurita atau bau ikan teri. Namun, keinginan untuk melaut memang sudah saya pendam begitu lama. Ya, iyalah masa cucu dari nenek seorang pelaut belum pernah melaut seumur hidup. Saya mau jawab apa coba kalau nenek saya bertanya, kenapa cucunya yang imut nan kalem ini belum pernah melaut?. Ok, abaikan aja yang terakhir.

Awan Batman
Awan Batman
Siap menerjang ombak
Siap menerjang ombak

Di muara sungai yang sama, sore itu saya sudah menunggu Pak Kahar, setengah jam lebih awal. Tak lama kemudian, sosok yang saya tunggu akhirnya datang. Pak Kahar dan seseorang lagi yang saya rasa umurnya lebih tua dan memiliki postur wajah yang mirip dengan Pak Kahar. Dugaan saya benar, seseorang yang bersama Pak Kahar adalah saudara kandungnya, Pak Zul namanya.

Pak Kahar dengan lampu petromaksnya
Pak Kahar dengan lampu petromaksnya
Pak Zul dengan kemudinya
Pak Zul dengan dayungnya

Singkat cerita, saya dengan dua orang nelayan Bugis yang sudah turun temurun menetap di perairan Sumbawa ini mulai meninggalkan pantai. Perlahan tapi pasti, perahu kecil bermesin yang kami tumpangi melaju mengarah dimana matahari tenggelam. Sedikit berombak, tetapi perahu kami tetap tegar. Setegar saya menunggu sang pujaan hati berlabuh. Halah.

Satu jam lebih berlalu. dari posisi kami sekarang, sudah tidak terlihat lagi garis pantai. Di kejauhan hanya terlihat samar-samar lampu-lampu kampung nelayan. Sementara, Pak Kahar mulai bersiap untuk melempar jaring, Pak Zul tetap pada tugasnya -mengoperasikan mesin- di belakang. Jaring-jaring itu perlahan mulai di julurkan, ukuran jaring tidaklah terlalu besar mungkin menyesuikan ukuran ikan yang habit di daerah perairan ini. Saya membantu Pak Kahar, karena ternyata jaring itu cukup panjang. Oh, hampir lupa. Sebelum jaring mulai dijulurkan, pertama yang harus dipersiapkan adalah lampu petromaks. Fungsi utama dari lampu berbahan bakar minyak tanah berkompresi ini adalah untuk menarik perhatian ikan untuk muncul ke permukaan. Fungsi lain adalah untuk menerangi aktivitas di perahu, karena kondisi malam yang semakin gelap gulita. Tangan legam namun kekar Pak Kahar sangat membantu usaha kami menurunkan jaring.

Mengangkat jaring
Mengangkat jaring

Satu tebaran jaring kurang lebih memakan waktu 30 menit, setelah semua jaring berhasil di turunkan kemudian mesin perahu dimatikan. Kemudian proses selanjutnya adalah menunggu, menunggu ikan-ikan malam tersesat, ikan-ikan yang tak sengaja terjaring. Kemudian saya membuka bungkusan plastik yang sejak sebelum berangkat sudah saya persiapkan. Bungkusan plastik berisi tiga bungkus nasi berlauk ayam goreng menjadi teman makan malam kami. Sambil makan di atas perahu yang terbuat dari bahan fiber ini, saya mulai mengajak dua nelayan paruh baya ini untuk bercerita. Mulai dari keluarga, asal-usul mereka sampai teknik-teknik dasar menjadi seorang nelayan. Obrolan kami berhenti, saat Pak Kahar merasa sudah waktunya mengangkat jaring. mengangkat jaring ternyata tidaklah lebih mudah dibanding melemparkannya. Kandungan air dan ikan-ikan yang tersangkut membuatnya menjadi berat. Perlahan jaring ditarik keatas perahu, sesekali ada ikan tuna (atau entah apa namanya) kecil yang tersangkut namun lebih sering tidak ada sama sekali. Hingga sampai jaring paling ujung, saya hanya melihat lima ekor tuna seukuran pergelangan tangan. Tertegun saya melihat ini. Melihat betapa timpangnya antara usaha yang sudah kami keluarkan dengan hasil yang didapat.

Pak Kahar, kembali ingin mengulur jaring. Beliau meminta Pak Zul untuk berpindah di spot yang berbeda, barangkali ada ikan yang sedang arisan di spot yang kami tuju, begitu canda Pak kahar saat saya tanya mengapa kami berpindah. Lalu proses yang sama dilakukan Pak kahar kembali. Dari mulai menurukan jaring sampai menariknya kembali. Tak banyak ikan yang didapat, bahkan kali ini hanya dapat ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil. Lagi-lagi saya trenyuh melihat kejadian ini. Lebih tertegun lagi, saat saya melihat raut wajah dua nelayan di depan saya ini tidak mengalami perubahan sama sekali. Biasa saja, seperti kejadian seperti ini sudah sering terjadi dalam aktivitasnya.

Hingga pada akhirnya, setelah tujuh kali lemparan jaring Pak Kahar memutuskan untuk kembali. Selain ombak yang kian tinggi juga jam beranjak hampir tengah malam. Mungkin, dalam hati mereka merasa kasihan dengan saya, selain salah kostum, mereka ragu akan kemampuan renang saya jika terjadi kondisi darurat.

Hasil tangkapan
Hasil tangkapan

Dalam perjalanan kembali ke pantai ini, saya kemudian bertanya ke Pak Kahar. Meskipun, sebenarnya saya ragu, acap takut membuat tidak enak kepada dua nelayan yang baik hati ini.

“Pak, dapat ikannya sedikit sekali ya?” tanya saya, saat menyaksikan ikan hasil tangkapan yang tidak seberapa kurang lebih 4 kilogram. Padahal hari itu, bulan purnama masih lama, dimana seharusnya musim tangkapan ikan.

“Iya dik, melaut itu seperti berjudi. Meskipun sudah mempertimbangkan waktu dan spot yang tepat tetap saja kita tidak tahu letak rezeki itu. Kita seperti hanya menebak-nebak mencari keberuntungan dan sepertinya kali ini keberuntungan sedang tidak memihak kita.”

“Kita hanya berusaha, alam dan Allah yang menentukan” sambung Pak Zul mantab.

Saya takjub mendengar apa baru masuk ke telinga saya ini. Sebuah pelajaran berharga akan tentang bagaimana menerima kenyataan. Bagaimana menatap sisi kehidupan.

Perjalanan malam itu kami tutup dengan perpisahan dan doa semoga di kemudian hari kami dipertemukan.

Permainan Senja
Permainan Senja

Pulau Sumbawa, akhir Agustus 2013.

Advertisements

6 thoughts on “Berjudi Di Lepas Pantai

  1. bapa aku nelayan juga di sini,di melaka,negeri kecil di malaysia..dia juga tak membenarkan aku ikut dia ke laut..katanya sama seperti pak kahar..tapi aku memang kepingan sangat mahu ke laut menangkap ikan

    • Benar mas, mereka adalah pemegang kehidupan yang sebenarnya. Menyelami hidup dengan penuh kejujuran. Makanya apa yang mereka sampaikan meskipun terkesan sederhana tapi terasa wise banget…

      Terima kasih sudah berkunjung 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s