Kibar Sang Saka di Puncak Sikunir Dieng

Menanti Sang Fajar
Menanti Sang Fajar

Hampir semua tempat di Bumi Pertiwi ini seindah lukisan. Eh salah, tak ada lukisan di dunia ini yang seindah tanah di bumi pertiwi bernama Indonesia, termasuk juga Puncak Sikunir. Tak heran, jika banyak yang memilih merayakan 17 Agustus di sini. Menatap indahnya Sang Saka Merah Putih berkibar di atas sana, sambil merenungi perjalanan sebuah negeri.

Kemerdekaan sesungguhnya adalah anugerah Tuhan terindah yang diberikan kepada kita melalui para pendahulu. Karena dengan kemerdekaan kita bisa memiliki rasa aman, terhindar dari perasaan terancam dan nyaman menikmati kehidupan. Sungguh tidak mudah meraih kemerdekaan itu. Sudah berapa banyak darah para pejuang tumpah. Sudah berapa banyak harta-harta terbakar. Sudah berapa banyak para isteri menjanda kehilangan suaminya. Sudah berapa banyak anak-anak menjadi yatim. Tak terhitung. Banyak kita mengenal para pejuang, para pahlawan kemerdekaan. Mereka semua gugur hanya untuk menanamkan jiwa merdeka kepada setiap dada para generasi selanjutnya.

Kemerdekaan harus kita syukuri. Dengan kemerdekaan kita tidak lagi terkekang oleh rantai-rantai para penjajah. Kita bebas mengekspresikan jiwa merdeka kita. Bebas meraih cita setinggi mungkin. Dan tampak tegap ketika bangsa lain melihat. Banyak cara mengekspresikan jiwa merdeka dan sikap patriotisme itu sendiri. Salah satunya adalah berupacara bendera saat 17 Agustus tiba. Menatap tegap sang saka merah putih, mengilhami setiap himne, menginspirasi setiap detik-detik proklamasi.

Banyak cara merayakan kemerdekaan. Salah satunya dengan melakukan upacara bendera di Puncak Sikunir, Dieng. Puncak Sikunir terletak di Desa Sembungan, Dieng, Kabupaten Wonosobo. Desa yang diklaim sebagai desa tertinggi se-Pulau Jawa ini memiliki keindahan yang tiada duanya. Memasuki Wonosobo kita bisa langsung menuju dataran tinggi Dieng dengan kendaraan umum (minibus) atau kendaraan pribadi. Perjalanan Wonosobo-Dieng kurang lebih 30 menit.

Bukit Sikunir
Bukit Sikunir

Saran saya, jangan tidur sepanjang perjalanan ini. Karena di kanan dan kiri, kita disajikan pemandangan yang begitu luar biasa, jadi sayang kalau kita mengabaikannya. Di tengah perjalanan, Anda bisa berhenti sejenak di salah satu pasar untuk membeli tempe kemul, jajanan khas Wonosobo. Kemudian lanjutkan perjalan, lalu berhenti kembali di gardu pandang menikmati indahnya perkampungan dari atas bukit ditemani hangatnya tempe kemul.

Jarak antara gardu pandang dengan dataran Dieng tidak terlalu jauh, jadi hitung-hitung sebagai istirahat sejenak. Sampai di dataran Dieng sempatkan untuk membeli bekal selama perkemahan nanti. Jika Anda datang di sore hari, hendaknya langsung menuju ke Bukit Sikunir. Karena akan memudahkan Anda untuk mendaki.

Camping ground
Camping ground

Di kaki Bukit Sikunir kita bisa menitipkan kendaran kita di tempat yang sudah disediakan, termasuk jika kita ingin ke WC dan lain-lain. Asal Anda tahu, di puncak tidak tersedia fasilitas MCK, sehingga manfaatkan sebelum nantinya kerepotan setelah sampai di puncak. Setelah selesai urusan di tempat penitipan kendaraan, Anda bisa langsung melanjutkan perjalanan dengan mendaki bukit Sikunir.

Jangan khawatir tentang rute dan ketinggiannya. Pendakian ini masih tergolong pemula, jadi tidak terlalu sulit untuk menaklukkannya. Karena Anda sebenarnya sudah cukup banyak dibantu perjalanan dengan kendaran dari Wonosobo sampai tempat penitipan kendaran tadi. Pendakian kurang lebih memakan waktu 20 menit (tegantung stamina). Sudah ada trek khusus dan sepanjang perjalanan jarang kita temui trek yang menyulitkan. Selama mendaki, berhentilah sejenak untuk menghirup udara, memulihkan stamina.

Sesampai di puncak, dianjurkan untuk segera mendirikan tenda mumpung hari belum begitu gelap. Selain itu, untuk sarana berlindung dari sergapan udara dingin. Asal Anda tahu, bulan Agustus adalah puncak terdingin di Dieng. Karena dinginnya, kalau pagi kadang embun-embun sampai membeku.

Di malam hari, isi dengan bercengkrama dengan sahabat-sahabat perjalanan. Dengan membuat api unggun atau memasak mie instan yang ditemani kopi hangat. Jika anda beruntung di tengah malam, cobalah anda keluar tenda. Sejenak menikmati indahnya bintang-bintang di langit. Fenomena ini memang jarang terjadi, karena hampir sepanjang malam bukit Sikunir diliputi dengan kabut.

Di subuh hari, setelah Anda beribadah tentunya, siapkan gadget, bendera dan lainnya. Karena di waktu ini adalah puncaknya merayakan kemerdekaan di Sikunir. Siapkan tripod dan kamera di sisi bukit sebelah timur, sambil menunggu sang fajar menyingsing berkenalan dengan orang-orang di sekitar Anda. Ajak mereka untuk berupacara bendera nanti. Karena pengalaman saya, tidak semua pengunjung berinisiatif melakukan itu.

Mereka sekedar menikmati sunrise lalu pulang begitu saja. Ketika matahari sudah mulai bersinar, Anda akan menyaksikan sebuah guratan jingga di ufuk timur jauh sana, kemudian perlahan sang matahari menampakkan diri. Anda akan menyaksikan sebuah bulatan bercahaya terang berwarna keemasan. Itulah yang disebut The Golden Sunrise.

Golden Sunrise
Golden Sunrise

Sunrise yang dilihat dari Dieng tampak begitu besar dari biasanya. Sambil memotret keindahan sunrise, sesekali hirup udara panjang. Rasakan kenikmatan udara dingin dan sinar matahari hangat secara bersamaan.

Setelah matahari semakin beranjak, mulailah ritual upacara bendera dengan kelompok Anda. Sederhana saja bisa dengan menancapkan bendera kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya. Maka tidak lama, akan banyak para pengunjung yang ikut dalam ritual ini. Semakin banyak, semakin membumbung tinggi lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Hingga tidak terasa Anda terharu atas nikmat memiliki jiwa merdeka.

Telaga Cebongan
Telaga Cebongan

Persiapan perjalanan pulang, jangan lupa untuk membereskan sampah hasil perkemahan. Bawa sampah dan buang di tempat yang disediakan di tempat penitipan kendaraan. Sebelum Anda benar-benar pulang, mampir ke tempat-tempat wisata lain di sekitar Dieng. ada Telaga Warna, Telaga Cebongan, Dieng Plateu Theater, komplek candi, berbagai kawah dan lain-lain. Dan jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas Dieng, Rica-Rica. Semacam manisan yang dibuat dari buah carica.

Artikel ini juga di muat di DetikTravel

Advertisements

2 thoughts on “Kibar Sang Saka di Puncak Sikunir Dieng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s