Tentang Sambal Dan Abla Thesisyatunisa

Saya sendiri tak ingat kapan pertama kali menjadi seorang sambel geek. Bagi saya urusan sambal adalah urusan kepuasan dan lahapnya makan. Tak akan puas jika jangan bobor daun ketela tanpa dilengkapi sambal bawang goreng. Tak akan sempurna jikalau sego kucing tak lengkap dengan secuprit sambel teri.

Day 248: Sambal Oelek

Jika hidup saja butuh gairah, maka makan butuh rasa puas. Jika makan sekedar kenyang, maka kita kehilangan esensi dari proses terpenting dari metabolisme manusia ini. Esensi? iya, makan itu punya esensi bahkan punya etika. Coba, sampeyan berjalan ke belantara peradaban. Setiap kebudayaan pasti mempunyai etika dan etiket dalam urusan perutnya. Bagi orang Jawa misalnya ada adigum -ora ilok mangan karo ngomong- tidak baik makan sambil bicara. Ungkapan larangan ini berbeda dengan ungkapan –ora ilok perawan lungguh ngarep lawang, mengko iso dadi perawan tua- tidak baik gadis duduk di depan pintu, entar jadi perawan tua. Ungkapan ora ilok yang pertama, meski itu merupakan ungkapan larangan tapi tidak mengandung akibat. Jadi dalam adab orang Jawa, tetap makan sambil bicara adalah hal yang dianggap tabu, namun jikapun dilanggar tidak akan kualat atau akibat buruk nantinya. Beda orang Jawa beda orang Turki. Kalau orang Turki, jika kita diundang makan kerumah mereka dan kita hanya diam saja, maka kita dianggap sombong bahkan bisa jadi dianggap pelecehan bagi mereka. Karena bagi mereka, makan adalah sarana akrabisasi. Jadi sebisa mungkin, penting gak penting ladeni jika tuan rumah mengajak bicara.

Tata krama dalam hal makan setiap peradaban berbeda-beda. Jika suatu peradaban semakin sedikit adab makannya, artinya peradaban itu terhitung sederhana bahkan primitif. Dengan kata lain, jika sampeyan mangan tanpa memperhatikan adab (misal makan tanpa bismillah, sambil berdiri atau pakai tangan kiri) itu artinya sampeyan termasuk manusia primitif. Wis kui thok. Ojo nesu kalo kesinggung, sengaja kok.

Baiklah, kita kembali ke sambal. Bagi saya sambal adalah setengah din makanan itu sendiri, karena begitu berartinya sambal bagi saya. Tak hanya memberikan rasa puas, sambal bagi saya adalah obat manjur ketika saya sembelit atau masuk angin. Silahkan sampeyan coba, kalau tak percaya. Bahkan saya jauh-jauh merantau ke Turki, saya harus bikin request khusus dari Simbok untuk nyangoni sambal saat pulang tahun kemarin. Sambal bikinan ibu adalah juarannya sambal di dunia. #mulai lebay. Yak, pokoke sambal bikinan ibu itu dari level pedas sampai ketepatan rasa asinnya sangat pas dan maknyus. Tak hanya Ibu, Bapak juga spesialis dalam urusan bikin sambal pecel. Bahkan sampai sekarang (sudah setahun) sambal kacang hasil deplokannya (Bapak tak pernah menggunakan blender, katanya mengurangi citarasa) masih saya awet-awet sampai sekarang. Udah kadaluarsa atau belum saya ndak urus, yang penting masih enak dan baunya masih kaya sambal kacang.

Nah, kemarin sehari sebelum hari penyaesaran ibu saya mendapat hadiah istimewa dari kawan saya di sini. Sebutlah namanya Agung, orang asli Banjarnegara yang sedang mendalami ilmu hukum di Dokuz Eylul University ini membawakan saya sambal bawang goreng hasil bikinan ibunya sendiri. Luar biasa. Betapa tidak, makanan pelengkap ini hari melewati metal detector, melewati puluhan negara, mampir bentar di tiga negara, bahkan harus melintasi ribuan kilometer luasnya samudra untuk sampai di kulkas sederhana di kamar saya. Masih satu lagi kawan yang saya titipi sambal sekembalinya mudik. Resiko orang mudik, kena titipan. Dia adalah Erna, mojang Bandung pakar dunia ikan yang mendalami bidang yang sama di Ege University ini membawakan saya dua renteng sachet sambel trasi. Sambal ini yang kalau di Turki memiliki kasta tertinggi, selain tidak ada yang jual kalau mau bikin sendiri perlu perjuangan lebih dari dimarahi tetangga sampai langkanya cabe pedas. Untuk itu, saya haturkan rasa bersalah terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk kalian berdua. Saya nobatkan kalian sebagai pejuang sambal tahun ini. Selamat.

sambal-cabe

Akhirnya, “Dengan kekuatan sambal kacang special ala bapak, sambal bawang goreng ala ibunya Agung dan sambal terasi ala Erna, si-Abla Thesisyatunisa akan saya selesaikan dalam kurun waktu maksimal tiga bulan ke depan (Desember), Ciaaaat!!”. Dengan gaya ala Saipul eh Sailormoon.

Sepenuh daya juang,
dari kampung bunga mawar, di negerinya Muhammad Al Fatih.
25 Eylul 2014.

Gambar dari sini dan situ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s