Jomblo dan Gairah

Saya itu paling mendhedhek kalau orang mulai bertanya “kapan nikah?” atau “pasangannya mana?” atau juga “masih sendiri aja, mana gandengannya?”. Jujur, dalam lubuk hati yang paling dalam pasti 89% dari pertanyaan-pertanyaan itu mengandung maksud yang tidak baik. Yak, kalau ndak ngece ya mereka sendiri mau pamer. Bagaimana tidak, lha wong yang bertanya sendiri pasti pernah ngerasain atau setidaknya tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti akan menyakitkan. Lalu baru sisanya, yakni 11% adalah benar-benar tanya antara kepo biasa atau kepo ada maksud. If you know what I mean, ukhti? #eh

Alone

Bagi saya, pilihan jomblo single hingga saat ini adalah pilihan pahit terbaik. Sebagai orang yang menganggap bahwa pacaran bukanlah jalan terbaik untuk menjemput jodoh tentu menjomblo sekian tahun adalah sebuah pilihan yang dipenuhi ragam rintangan. Banyak kok, manusia-manusia segenerasi dengan saya (dan juga memilih jalan yang sama) pada akhirnya goyah lalu roboh (atau merobohkan diri) kedalam jurang nikmatnya percintaan. Nikmat? ya tentu sesuatu yang menggoda setan untuk mendekat adalah ‘nikmat’.

Saya sendiri sadar, bahwa banyak kasus orang menemukan jodohnya lewat jalan ini (baca: pacaran) dan mereka baik-baik saja, bahkan kehidupan mereka harmonis, tenang dan anak-anak mereka berkualitas. Lalu, apakah akan berkah atau tidak tentu itu bukan urusan kita, itu urusan Allah. Nah, saya sendiri saat memilih single adalah jalan terbaik ketimbang pacaran (untuk saat ini) lebih karena saya tidak ingin ada anak manusia yang kelak akan tersakiti. #tsahh

Tapi beneran kok, saya itu tipe orang yang paling tidak tega melihat orang menderita atau tersakiti. Apalagi itu kamu… iya, kamu…

Masih tentang jomblo. Bagi saya, itu seperti saat kita sedang main badminton dengan permainan single (satu lawan satu). Pada saat itu, kita mempunyai satu tugas yakni mencegah agar bola (shuttlecocks) tidak banyak jatuh di setengah lapangan kita dengan seorang diri. Yak, pada saat itu segala potensi yang kita miliki dikerahkan untuk melakukan tugas itu. Pelatih, penonton atau pasangan yang lagi duduk ditribun sekalipun sejatinya tidak akan banyak membantu. Mereka hanya mampu bersorak-sorak dikejauhan, dengan sedikit efek yang didapat oleh kita. Dari sini, kita lalu memahami sampai mana potensi kita, apa kelemahan kita dan tau bagaimana memenangkan permainan.

Nah, begitu pula dengan pilihan hidup sebagai jomblo. Pada posisi itu, kita akan diuji untuk mengeluarkan segala potensi kita hingga sampai mana kita bertahan dan hingga pada akhirnya apakah kita akan menjadi pemenangnya atau malah sebaliknya. Dan, mengeluarkan segala potensi inilah yang saya sebut gairah. Hidup itu butuh gairah, dan gairah itu jalan kita untuk tetap survive dalam hidup. Saat kita sedang bergairah (dalam apapun) tentu banyak hal baik yang akan kita raih.

Hingga pada akhirnya, memilih jalan jomblo bukanlah hal yang memalukan atau menjadi bahan olokan. Tapi adalah sarana untuk memupuk gairah, gairah untuk hidup dan sekaligus menghidupkan sesuatu, yang kita menyebutnya sebagai keluarga (nantinya). #tsahh

Jangan berhenti untuk menjomblo eh bergairah!

Sepenuh Cinta ^_^

Gambar ilustrasi dari sini

Advertisements

One thought on “Jomblo dan Gairah

  1. karena saya tidak ingin ada anak manusia yang kelak akan tersakiti. #tsahh => baca beginian saya jadi ketawa hihihi, tapi kenyataannya ada manusia yang tersakiti 😀 kalau udh ngomongin rasa, rasa apaan yaaa hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s