Soal Menangis di Pelaminan

Kisah Risna gadis manis *halah sok kenal* dari Bulukumba, Sulsel tempo hari yang lalu sungguh menyengat sense of emphaty laki-laki saentero jagad perjombloan. Gimana tidak, disaat banyak lelaki nganggur (boleh dibaca: belum beruntung) di luar sana, gadis berkerudung dan bisa dikatakan (cukup) cantik ini lebih memilih melempar umpan untuk sesuatu hal yang mustahil baginya, ketimbang menyimpannya untuk pertaruhan yang jauh lebih besar disuatu saat nanti. Masih mending, jika umpan yang ia taruhkan itu berupa uang atau harta sejenisnya, tapi Risna gadis semampai ini mempertaruhkan harga dirinya dengan menangis dipelukan sang mantan, saya ulang sekali lagi menangis dipelukan sang mantan!. Duh mbaak, sing bakoh yo.

sepasang-merpati-cincin

Kisah ala lagu nelangsa-nya Adele yang -Someone Like You- ini memang bukan pertama dan sekaligus bukan yang terakhir. Beberapa waktu silam, di tengah menghadiri walimahan teman saya di Jogja, saya mendapat wejangan lebih tepatnya kisah haru membiru mirip kisahnya Risna di atas. Sayangnya, kisah itu menimpa seorang akhwat yang dulunya  ‘terkenal’ di kalangan para ikhwan di kampus. Betapa tidak selain berjiwa aktipis, tutur kata dan pesonanya tak kalah manis dengan paras wajahnya. Kasarnya ia semacam bidadari kesasar, karena lupa ingatan *halah mau ngomong sempurna aja kelamaan*. Yak, meski ia (sangat) sempurna, tapi tetap dia mempunyai hak layaknya setiap manusia Indonesia berumur 17 tahun keatas, yakni hak memilih dan dipilih.

Iya, selain dia memiliki peluang besar untuk dipilih (dicintai) oleh para lelaki di sekitarnya tentu ia sendiri berhak untuk menentukan pilihannya. Dan, sayangnya hak kedua inilah yang justru menjadi penyebab jatuhnya buliran air mata yang tidak ia inginkan. Laki-laki beruntung yang menjadi pilihannya, justru mendahuluinya dengan menyunting akhwat ‘biasa’ jika dibanding dengannya. Ia hanya mampu bersembab mata di walimahan lelaki itu, wajah cerianya saat bersama teman-teman yang lain seakan hilang ditelan oleh monster jahat yang dingin. Di saat itu juga, ada kisah cinta yang dibangun ada juga cinta yang dijatuhkan. Antara perasaan bahagia dan haru membiru yang terpaksa bertemu, yang menghasilkan polarisasi yang sungguh menyakitkan.

Dari dua kisah ini, kemudian memberikan pencerahan kepada saya. Pertama, sampaikan walau cuma satu ayat kalimat, yakni “aku mencintaimu” atau “aku ingin dilamar olehmu”. Iya, pemenang itu kadang bukan ditentukan siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling dulu antri. Maka wahai para wanita (lelaki juga) saat kau yakin dan siap jangan takut untuk memulai, kalau tidak siap-siap menyesal tak berkesudahan.

Kedua, jangan terlalu mengumbar perasaan. Perasaan yang sering diumbar kadang kala mampir di dahan-dahan yang tak benar, bolehlah kalau dahan itu cukup kuat untuk menahan, bagaimana kalau tidak? boleh jadi akan jatuh, sakit dan bahkan mati penasaran perasaan. Manajemen perasaan (sangat) perlu, terutama bagi kita yang belum yakin dan siap akan tahap pernikahan.

Ketiga sekaligus yang terakhir, jangan datang ke walimahan. Tenang, bukannya saya menganjurkan untuk tidak menghadiri undangan, bukan. Namun, saat kita tidak siap (perasaan dan mental) tentu tidak menghadiri undangan bisa menjadi pilihan. Masalah hadiah yang sudah dipersiapkan, bisa kita titipkan. Karena menurut saya, mempertaruhkan harga diri untuk sesuatu yang mustahil (baca: sudah terlanjur akad nikah) tentu malah banyak menimbulkan masalah, entah bagi kita sendiri, bagi keluarga kita nanti atau bagi keluarga mantan.

Lalu, sudahkah Anda nembung si-dia minum Yakult hari ini?

Ilustrasi gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Soal Menangis di Pelaminan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s