Dia Memang Syiah, Lalu Apa?

A-boy-smiling
Bocah Afgan

Saat membuat judul tulisan ini, sempat saya gonta-ganti berkali-kali. Saya tidak ingin tertuduh sebagai orang yang terjebak pemikiran sektarian yang anti-sunattulah kemajemukan atau pula dicap sebagai orang liberal yang suka sembarangan membela orang, hanya gara-gara judul yang provokatif. Namun, perlu saya tegas. Saya tidak termasuk dari dua golongan tersebut. Bukan. Lalu poros tengah dari merekakah? saya rasa juga bukan. Karena bagi saya, poros itu bukan penyelesaian masalah justru bentuk sikap lemah tanpa prinsip, dan suatu tindakan sembrono tanpa pondasi kuat. #halah sok serius.

Jadi begini, dalam dunia pertemanan saya termasuk orang yang beruntung. Karena luasnya cakupan pertemanan saya, dari yang ndeso sampai yang ndeso banget, lalu dari yang bejat sampai yang ngustadz, lintas agama dan bahkan benua sekalipun. Nah, dalam tulisan ini saya ingin sedikit mengupas tentang salah satu teman (roommate) saya namanya Hamidullah yang berasal dari Asia Tengah (Afganistan) dan kebetulan dia penganut agama Syiah. Njut ngopo?

Ia Syiah, dan ia si-alarm hidup. Betapa tidak, dialah manusia yang mampu bangun lebih awal di pagi buta bahkan sebelum waktu imsak sekalipun. Entahlah, saya sendiri tidak begitu paham tentang keyakinannya. Kalau dalam Islam yang namanya shalat itu ya saat sudah waktunya (tidak sah shalat jika belum waktunya). Tapi ia lakukan sebelum waktunya. Shalat lail? boleh jadi. Kondisi ini, kadang membuat saya kesel tapi selebihnya saya bersyukur, karena saya tak perlu repot pasang alarm. Keributannya di pagi buta cukup membantu saya untuk beranjak dari tempat tidur untuk ikutan shalat lail sekaligus menunggu waktu shubuh.

Ia Syiah, dan ia si-penyabar. Ya, kalau dalam urusan sabar dalam ibadah maka saya ngaku kalah telak dengannya. Kita tau sendiri, waktu shubuh adalah waktu paling berat manusia untuk beribadah. Namun, ia mampu mengatasinya dengan bangun lebih awal dan shalat (kita sebut saja ritual) dengan durasi yang sangat lama. Ritual maju-mundur dan sedikit banyak berbeda dengan shalatnya umat Islam ia lakukan penuh dengan tuma’ninah dan lama. Pernah saya mendapati ia beribadah di waktu pagi, lebih dari sejam. Iya, sejam alias hampir sepuluh kali lipat waktu yang saya butuhkan untuk menunaikan dua rakaat shalat subuh. Luar biasa.

Ia Syiah, dan ia si-totalitas sejati. Nah, kali ini terjadi pada bulan Ramadhan kemarin. Waktu itu ia juga melakukan ibadah puasa. Puasanya juga sama, sahur sebelum imsak dan buka saat waktu maghrib. Terkesan sama dan biasa aja, tapi ada satu kejadian yang membuat saya takjub. Waktu itu, kampus kami mengeluarkan peraturan baru bahwa semua mahasiswa asing wajib memiliki asuransi kesehatan. Berhubung teman saya itu belum memiliki dan ia harus mengurusnya di kota provinsi yang jaraknya kurang lebih 50km dari kampus. Namun, masalah lain muncul, dalam keyakinannya orang yang berpergian lebih dari 35km dihitung sebagai musafir (orang yang ber-safar) dan menurutnya seorang musafir harus (kalau dalam Islam boleh iya boleh tidak) membatalkan puasa. Dan Hamid teman saya itu, memilih menunda mengurus asuransi yang mesti segera diurus itu dari pada membatalkan puasa. Singkatnya, ia lebih memilih akhirat ketimbang kadunyan. Totalitas bukan?

Ia Syiah, dan ia si-rajin mandi. Nah, satu hal yang saya sukai. Saya adalah pembenci orang yang benci (jarang) mandi. Hasil pengamatan saya selama ini, menyimpulkan bahwa manusia-manusia empat musim adalah manusia yang jarang mandi termasuk juga negara teman saya ini berasal. Cek sendiri kalau ndak percaya. Tapi, untungnya Hamid bukan manusia jenis itu. Meskipun panas matahari semakin menghilang memasuki musim dingin ini, intensitas mandi hariannya Alhamdulillah tidak ikutan menghilang. Sehari sekali, setidaknya ia melakukan ritual berbesih diri. Sayapun senang dan nyenyak untuk tidur, tak terganggu bau-bau yang tak diinginkan.

Ia Syiah, dan ia si-pembenci kucing. Kali ini tentang konfliknya versus Pus aka si-Manis -kucing Turki yang demen nginep di kamar saya-, konflik yang mereka jalani sejak kucing itu pertama kali check-in di kamar saya. Beberapa kali, kucing saya ini ditendang kadang juga digebuk dengan apapun yang ia temui. Loh, emang salah apa si-Pus? batin saja menahan mangkel. Wealah, setelah sekian lama akhirnya ia cerita kalau menurut ajarannya kucing itu termasuk hewan najis sejajar dengan anjing. Berhubung, saya itu orangnya pangerten dan rajin menabung *halah* makanya saya ngalah, akhirnya si-Pus saya paksa check-out (usir) saya bawa jauh ke luar gerbang dormitory kampus. Eh, wong namanya kucing mau diusir berapa kalipun pasti balik lagi kalau sudah merasa itu rumahnya sendiri. Hingga akhirnya, teman saya ini ngalah dan pelan-pelan membiarkan si-Pus berkeliaran di kamar. Hati sayapun senang, njut ngopo?

Ia Syi’ah, njut ngopo?. Ya ndak apa-apa. Setiap manusia boleh dan bebas memilih keyakinannya. Tak ada paksaan dalam beragama. Melalui tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan tentang totalitas kita dalam berkeyakinan adalah berkeyakinan itu sendiri. Terserah Anda itu Syiah, Hindu, Kristen, Yahudi ataupun Islam akan sama aja kalau tidak ada totalitas. Tapi, bukan berarti agama-agama tersebut sebenarnya sama. Bukan. Saat kita berani bersyahadat, maka saat itu kita berjanji untuk totalitas kepada Allah dan Rosulnya. Saat itu juga, berlaku Al Wala wal Bara. Totalitas kita, sebagai bukti kita atas keimanan. Apapun kita, totalitaslah jangan setengah-setengah.

Gambar Ilustrasi dari sini

Advertisements

20 thoughts on “Dia Memang Syiah, Lalu Apa?

  1. Sepertinya ia Afghani yang “langka”, khususnya berkaitan dengan rajinnya ia mandi 🙂

    Setahu saya, tidak ada perbedaan mendasar tentang salat fajar (kecuali memang ia melakukan salat malam) dan… saya belum pernah membaca kucing adalah najis menurut Syiah, kecuali kalau itu Syiah yang dia pahami :scream_cat:

  2. Jadi ingat teman dekat saya yang beragama Katolik. Terkadang ia bertanya tentang Islam (Bagaimana Islam memandang Bunda Maria?) dan saya menjawab sesuai ajaran Islam; demikian sebaliknya.

    Saya merasa memiliki teman yang berbeda (suku, agama, keyakinan) itu Indah, dalam cerita Mas Parmanto, teman yang berbeda ternyata juga dapat menjadi cermin bagi diri kita sendiri. Tulisan yang bagus Mas 🙂

  3. njut ngopo itu terus kenapa gitu ya?
    aku saluuut banget cara dia totalitas beragama-nya. aku mah apa ~ sholat shubuh paling menit jam setengah 5 kalau kesiangan jam setengah 6 ._. Khilaf.

  4. […] Mengokang senjata? bukan! itu suara pintu kamar mandi ditutup dari dalam. Ternyata roomate saya tadi tidak keluar kamar, melainkan cuma ke kamar mandi. Lha terus ngapain bawa laptop? jangan ngeres dulu, teman saya itu penganut Syiah yang taat. Kepatuhan beragamanya itu super sekali. Kisah tentangnya bisa dibaca di sini. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s