Cobaan Atas Kenikmatan | Pelajaran Hidup No. 5

Kenikmatan
Kenikmatan

Suatu hari saat saya sedang mengunjungi sebuah kota kecil di Turki bernama Urla, saya mengalami sebuah kejadian yang cukup mengoyahkan iman saya. Turki memang memiliki begitu banyak pesona di dalamnya, diantaranya alam yang menakjubkan, peninggalan sejarah yang luas, makanannya yang unik, sampai orang-orangnya yang cukup modis ditambah tampang mereka yang kebanyakan di atas standard (menurut ukuran saya).

Nah hari itu, meski ndak ada angin ndak ada badai saya bertemu dengan sesosok yang cukup menggoda saya (untuk berbuat lebih) dari sekedar memandang. Kemudian, saya melihat sekitar, orang-orang di dekat saya juga merasakan ‘perasaan’ yang sama, bahkan yang tragisnya sebagian dari mereka justru tenggelam dalam hasutan sosok tersebut. Sing bakoh yo le, batin saya menahan hasrat.

Sosok itu adalah anjing liar yang besar, putih, bersih dan bermata ganjil. Postur tubuhnya yang mirip dengan Ghost direwolf-nya Jon Snow di serial film Game of Thrones ini benar menguji nyali untuk mengelus bulu lembutnya. Yang uniknya lagi, anjing ini memiliki warna kedua mata yang berbeda, seperti kucing Van (salah satu daerah di Turki) yang memiliki keunikan sama. Saya mencoba mencari jawaban kepada orang-orang Turki di sekitar saya, dan mereka mengkonfirmasi hal itu. Sebagai manusia yang mencintai (menurut kadarnya) hewan-hewan normal (bukan yang pecinta kaya ular, biawak atau buaya) tentu kehadiran anjing itu begitu menggoda. Karena, sungguh benar-benar sosok cemekel dalam kamus orang Jawa.

Ghost
Ghost

Ya, anjing adalah salah satu hewan yang dalam Islam ditetapkan hukum najis padanya, khususnya jika kita mengikuti mahdzab Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Baik bulu maupun air liurnya adalah najis. Karena beberapa ulama mahdzab lain mengatakan sebaliknya, seperti Imam Hanafi mengatakan yang najis hanya bulunya saja bahkan Imam Malik berpendapat tidak najis keseluruhannya (baik bulu maupun air liur anjing). Tapi, tenang dari pendapat-pendapat itu Insya Allah semua mengandung kebenaran, karena bagaimanapun mereka adalah ahli-ahli fiqih yang masyhur. Tinggal pilih yang mana, sedangkan saya sendiri cenderung meyakini yang pertama seperti kebanyakan umat Islam di Indonesia yang mengikuti Imam Syafi’i.

Lebih lanjut lagi, menurut Syaikhul Islam bahwa hukum segala sesuatu itu boleh, kecuali jika ada dalil yang melarangnya. Termasuk hal ini adalah anjing atau benda-benda yang jelas-jelas berhukum haram lainnya. Namun, seringkali perasaan penuh dilema ini menghinggapi diri kita, yang saat kita jatuh maka akan terjerembab dalam lubang nista. Saat-saat itu terjadi ketika cobaan datang menjelma dalam sosok kenikmatan. Cobaan dalam ‘kenikmatan’.

Banyak sekali contoh cobaan dalam kenikmatan dalam dunia ini. Arak, ciu, cimeng, sabu, pil koplo, pil gendeng, pil edan dan sejenisnya itu mengandung kenikmatan, buktinya banyak yang menikmati benda-benda yang bikin gendeng di kepala dan di dopmet itu. Belum lagi harta, tahta, wanita yang didapat secara tidak halal adalah bagian dari cobaan dalam kenikmatan.

Pernah suatu hari, dua teman saya (Rendy dan Shindy) sedang beradu argumen tentang baik-buruknya wine. Rendy yang eropa-minded abis ini mengatakan wine itu baik untuk kesehatan bahkan menurutnya bisa memperpanjang umur dan sudah dibuktikan oleh orang-orang eropa sejak dulu, tak terima dengan pernyataan itu Shindy berpendapat sebaliknya. Dia memaparkan betapa banyak kasus-kasus kematian, kerusuhan dan kriminal akibat pengaruh minuman beralkohol itu. Saya, yang di samping mereka tak mampu berbuat apa-apa. Kecuali menonton sambil makan kuaci.

Setelah perdebatan panjang tentang wine itu, ternyata perdebatan mereka merembet kepada permasalahan daging babi. Hingga salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan kepada saya. “Mas, daging babi itu kan enak, dagingnya empuk dan kaya gizi, lalu kenapa Allah memberikan larangan terhadap hewan itu? kalau alasannya mengandung cacing pita, kenyataanya orang-orang Eropa baik-baik aja tuh.” Menohok sekali pertanyaanmu dik, batin saya.

Ya, perdebatan ilmiah untuk menentukan hukum syariat tidak akan ada habisnya. Selalu aja ada pembuktian ilmiah yang (sedikit) beririsan dengan hukum syariat, meskipun di sisi lain banyak (bahkan sangat banyak) pembuktian ilmiah yang jelas-jelas sejalan dengan hukum syari.

Iya, gadis cantik nan molek dijalanan itu indah, wine yang berumur puluhan tahun itu nikmat, dan atau danging anjing yang ditongseng itu maknyus. Namun, akan lebih enak memahami hukum halal-haram itu sebagai ujian dari keimanan, ketimbang memperdebatkannya atau mempertanyaakan keilmiahan disaat sudah ada dalil yang jelas. Karena jika kita tidak menemukan kepuasan dalam pembuktian ilmiah itu, maka akan berakibat mempertanyakan hukum Allah itu sendir. Atau yang lebih buruknya, sampai mengingkari hukum itu pada akhirnya.

Sebenarnya kita tidak butuh pembuktian ilmiah atas hukum syariat, karena dengan patuh dengan syariat maka itu bukti atas keimanan kita akan kebenaran Allah, dalam Quran dan Sunnahnya. Jadi, sederhananya jika segala sesuatu itu kembali pada yang benar tentu dan pasti itu benar hukumnya. Dengan memahami hal ini, dilema akan cobaan-cobaan atas ‘kenikmatan’ sendirinya akan tergantikan menjadi ‘menikmati cobaan’.

Selamat menikmati cobaan atas cobaan-cobaan kenikmatan.

Gambar ilustrasi dari sini dan sini

Advertisements

4 thoughts on “Cobaan Atas Kenikmatan | Pelajaran Hidup No. 5

  1. Saya sangat setuju dengan kata-kata
    ” Sebenarnya kita tidak butuh pembuktian ilmiah atas hukum syariat, karena dengan patuh dengan syariat maka itu bukti atas keimanan kita akan kebenaran Allah, dalam Quran dan Sunnahnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s