Si Budi : Kisah Resepsi Yang Tak Kunjung Digelar

photo by superbridezilla.blogspot.com
photo by superbridezilla.blogspot.com

Alkisah terdapatlah sebuah keluarga yang hidup damai di sebuah kampung entah berantah. Mereka menmpati sebuah rumah yang tampak asri dengan kebun hijau yang sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi sang empu rumah. Kebun yang besar itu, selain menghasilkan hasil kebun yang melimpah juga menyuguhkan pemandangan dan aroma sejuk dedaunan.

Orang-orang kampung yang sekaligus para tetangga keluarga itu begitu iri melihat keadaan ini. Betapa tidak, selain rumah yang apik dan kebun yang berlimpah tanaman itu, si-empu rumah beserta anggota keluarga lain hidup nyaman dan bahagia. Rasa iri yang terus tertahan perlahan berubah menjadi rencana licik nan jahat. Para tetangga itupun mulai membuat makar. Mereka pun berkongsi dan memutuskan satu tujuan: Mengusir si-empu rumah beserta keluarganya! secepatnya!

Singkat cerita, makar jahat itu dikabulkan oleh Tuhan. Para tetangga itu berhasil mengusir sang pemilik rumah. Cerita tak berhenti di sini, melihat rumah yang sudah kosong dan mulai tak terawat itu mereka ingin ada keluarga baru yang menempati rumah itu. Tak butuh waktu lama mereka menemukan calon penghuni baru. Sang penghuni baru ini sebenarnya tidak lain adalah pemimpin dari para tetangga licik itu.

Penghuni baru ini memulai kehidupan di rumah itu. Awalnya mereka pikir, mengurus rumah dan kebun adalah hal yang mudah namun kenyataan berkata lain. Kombinasi antara niat jahat dan ketidaktahuan mereka tentang bagaimana mengurus rumah dan kebun berdampak buruk. Kebun yang dulu begitu hijau dan subur serta rumah yang terawat baik itu kini tampak seperti salah urus. Satu-persatu bagian utama rumah mulai rapuh, tanaman-tanaman di kebun juga mulai layu bahkan sebagiannya sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk dipanen.

Masalah tak hanya berhenti disini. Ceritanya, penghuni baru itu mempunyai anak laki-laki. Sebutlah anak itu namanya Budi. Tak seperti namanya, Budi ini terkenal dengan sifatnya yang buruk, selain suka mencuri ia sering berbuat onar di kampung sebelah. Tak jauh berbeda dengan orangtuanya ia juga mempunyai pengaruh dan ditakuti oleh orang-orang kampung bahkan pamornya kini terdengar sampai kampung sebelah. Meski begitu, si Budi ini termasuk orang yang beruntung, betapa tidak ada kembang desa dari kampung sebelah yang bersedia untuk dinikahi olehnya. Entah karena terpaksa atau bagaimana nyatanya keluarga si-kembang desa juga merestui perkawinan itu.

Tanpa kendala yang berarti ijab-kabul antar keduanya pun digelar. Mereka pun sudah menjadi pasangan yang sah. Hanya saja, karena menimbang cuaca pada hari ijab-kabul yang kurang kondusif maka resepsi perkawinan terpaksa harus ditunda. Kali ini, sepertinya Tuhan tidak begitu memihak pada keluarga itu (tidak seperti waktu mengusir empu rumah lama dulu). Tuhan sedang menimpakan cuaca buruk yang uniknya hanya terjadi di kampung itu. Ditunggu berhari-hari cuaca tak jua berubah bahkan justru makin memburuk. Hujan-badai berubah menjadi banjir yang menggulung-gulung. Resepsi yang sudah tersusun serta undangan yang sudah terlanjur menyebar pun akan berakhir sia-sia. Dan sesuai hukum adat di kampung itu, seorang laki-laki haram hukumnya menyentuh pasanganya sebelum terlaksana resepsi meski ijab-kabul sudah lama berlalu.

Karena waktu yang terus berlarut-larut tanpa kejelasan, serta adanya desakan dari warga dari kampung sebelah agar pernikahan dibatalkan saja. Karena menurut warga menunda resepsi artinya menggantung pihak perempuan untuk segera mendapatkan haknya, sedangkan di sisi masih banyak pemuda dari kampung lain yang lebih layak dari pada si Budi.

Budi dan keluarganya pun kebingungan menghadapi situasi ini. Berbagai cara sudah ditempuh. Guna meredam badai, menenangkan angin. Karena melepas kembang desa yang sudah ditangan bagai memuntahkan makanan di tengah-tengah tenggorokan. Selain tak ada untungnya, kadang memancing isi lambung untuk ikut-ikutan keluar.

Bersambung…

Advertisements

One thought on “Si Budi : Kisah Resepsi Yang Tak Kunjung Digelar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s