Jokowi, Syiah dan Batu Akik

palsu
Topeng

Bermacam kehebohan bermunculan seiring permulaan tahun ini. Bukan tentang ramainya mall-mall saat tahun baru atau meriahnya pesta kembang api, bukan pula tentang meroketnya harga-harga kebutuhan pokok (kalau tiga hal ini memang udah biasa terjadi), melainkan kehebohan yang didatangkan oleh tiga sumber yang berbeda. Yaitu kehebohan yang ditangkan dari Jokowi, Syiah dan Batu Akik.

Ketiga entitas ini secara kasat mata atau historis memang tidak ada kaitannya, ngga nyambung dan sulit dihubung-hubungkan. Bahkan kisah historis mereka juga punya ruang waktu yang berbeda. Banyak dari kita mengenal Jokowi baru beberapa tahun yang lalu (melalui proyek esemka yang gagal itu), sedangkan syiah sendiri punya akar sejarah yang lebih lama ratusan bahkan seribuan tahun yang lalu. Beda lagi tentang batu (akik), yang satu ini punya era tersendiri dan terkesan langgeng dari zaman ke zaman.

Meski begitu, antara Jokowi, Syiah dan Batu Akik mempunyai satu kesamaan, yaitu yang Ayu Ting Ting sering nyanyikan: Kepalsuan (yang bener Alamat Palsu). Jujur dari hati yang paling dalam, sebagai anak bangsa saya merasakan, menyaksikan dan sekaligus menjadi korban akan kepalsuan pemimpin yang saya sendiri mengakui akan kepemimpinannya (meskipun saya tidak punya kesempatan mencoblosnya saat pilpres tahun kemarin, surat suara terlambat sampai dimana saya tinggal).

Presiden seumur jagung ini sudah tak terhitung (hiperbola) berapakali ia telah bertingkah penuh kepalsuan. Singkatnya, dia yang berjanji dia pula yang mengkhianati. Berbagai kebijakannya adalah anomali, langkah-langkah dibidang energi, ekonomi, demokrasi dan kepastian hukum berbanding terbalik dengan apa yang ia janjikan dulu.

Analoginya seperti ada remaja labil yang sok ganteng dan hobi nge-PHP-in gadis lugu -yang suka berbonceng tiga tanpa helm itu-. Saat ditanya kapan nikah, jawabannya belibet dan pura-pura hilang ingatan. Meski begitu sebagai orang yang taat kepada pemimpin, saya masih menaruh harap kepada beliau sebagai presiden lima tahun yang akan datang. Menunggu Indonesia Hebat yang ia janjikan.

Belum habis saya melumat Kepalsuan dari sang petugas partai itu, belum lama ini Kepalsuan datang dari kelompok Syiah. Kita tahu sendiri kalau jumlah kelompok syiah di Indonesia yang tidak seberapa, dan akhir-akhir ini sudah mulai membuat keresahan bahkan mulai berani membuat teror. Persis seperti yang mereka lakukan di beberapa negara Islam (Syria, Irak, Bahrain dan hari ini Yaman).

Mereka yang awalnya diberikan ruang, dilindungi kini mereka berbuat onar. Nyawa-nyawa tak berdosa menjadi korbannya. Kehancuran fisik, budaya, dan kemanusiaanpun sudah tak terbendung. Demi merebut kekuasaan secara tidak sah. Sebelum berkuasa mereka berteriak, saat berhasil merebut kuasa mereka represif. Dan sayangnya, kepalsuan demi kepalsuan mereka, terus didukung oleh kekuatan tertentu secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Di Indonesia sendiri mereka yang mengaku paling pintar, paling liberal, dan sering merasa benar sendiri juga tak kalah membabi-buta mendukungnya. Makanya sebagai anak bangsa kita mesti siap jika suatu saat nanti ‘agenda menusuk dari belakang’ mereka datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kepalsuan terakhir adalah tentang batu. Sudah sejak jaman nabi kalau material alam yang satu ini sudah menebar kepalsuan. Yang paling parah adalah menjadikannya sebagai ‘pengganti’ Tuhan (seperti zaman nabi Ibrahim dan Musa) atas ketidakmampuan manusia waktu itu akan bagaimana mengekspresikan wajah Tuhan.

Dan kali ini fenomena batu muncul kembali, tepat awal tahun ini popularitasnya sudah tak terbendung. Dari anak-anak sampai kaum dewasa, dari buruh tani sampai pegawai negeri, dari mereka yang miskin papa sampai mereka yang kaya raya. Mereka gandrung bahkan bertaruh nyawa demi batu satu ini. Batu alam yang menurut para ahli tidak memiliki ukuran akan nilainya secara jelas ini tengah menjadi primadona. Harganya otomatis naik tajam meski seperti yang saya bilang tadi ‘tanpa ukuran’. Harga batu akik adalah hanyalah kesepakatan akan penjual dan pembeli.

Para ahli mengatakan fenomena (kepalsuan) ini hanya bersifat musiman. Di saat para pemain sudah jenuh, harga akan jatuh secara sadis. Persis seperti kepalsuan tanaman gelombang cinta beberapa tahun silam. Belum lagi kepalsuan saat menganggap bahwa batu akik memiliki khasiat tertentu, mulai dari menyembuhkan penyakit, medatangkan rejeki atau yang ekstrim membantu mengakhiri masa-masa jones. Kasihan sekali.

Sikap saya sendiri, saya tidak membenci manusia dan agama-agamanya. Biarlah orang-orang itu bergumul dengan agama dan keyakinannya. Namun, saya menolak dan memusuhi kepalsuan dan kepura-puraan. Janganlah pura-pura bernegara dan beragama.

Melihat hal di atas, lantas saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apa yang salah dengan manusia? mengapa manusia (termasuk saya) begitu mudah terperangkap kedalam kepalsuan. Sudah banyak pelajaran (sejarah) yang manusia saksikan tapi tetap saja tergoda untuk mengikutinya. Asyik menikmati hal palsu nan sesat tapi merengang kesakitan di akhirnya. Apa yang salah?

Advertisements

2 thoughts on “Jokowi, Syiah dan Batu Akik

  1. Apa karena Anda berada di barisan kelompok “beruntung” yang tidak terperangkap dalam kepalsuan, sehingga seolah banyak “musuh berbahaya” di mata Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s