Talak 3 dan Dukun Saripin

Di artikel sebelumnya pernah saya bahas kisah Buddi si-pengantin yang tak kunjung resepsi. Si-Buddi yang hendak meyunting kembang desa itu tak kunjung resepsi karena adanya sebuah badai yang datang tiba-tiba, meski sebelumnya ijab kabul sudah sempat digelar. Dan kini setelah menunggu hampir sebulan lebih, drama itu berakhir dengan dramatis sekaligus menjadi gunjingan para tetangganya.

palu3

Benar, badai sudah berlalu. Berkat usahanya yang melawan hukum alam, hujan angin yang sempat menggagalkan acara resepsi kini sudah mereda. Namun sayangnya pihak mempelai wanita sudah terlanjur dengan keputusannya. Talak 3 untuk si-Buddi. Keputusan yang tidak lazim memang, jika pihak wanita yang justru menjatuhkan talak kepada suami, talak tiga sekaligus. Karena menurut kaidah hukum talak, mereka baru bisa rujuk setelah si-wanita sudah ‘ditidak-gadisi’ dan kemudian diceraikan kembali oleh laki-laki lain (suami barunya). Namun, apa mungkin si-suami barunya ini mau melepaskan wanita yang menjadi primadona desa itu? hal yang mustahil bahkan tidak mungkin.

Meski begitu, si-Buddi boleh bernafas lega. Kini, ia tak harus direpotkan dengan urusan badai hujan yang menggangunya. Hali ini tak lepas dari usahanya yang sedikit berbau klenik alias diluar pemikiran (out of mind). Berkat bantuan dukun kondang dari bukit seribu bernama dukun Saripin, ia berhasil merekayasa hukum alam untuk pertama kalinya terjadi di desa tersebut. Asal kita tau, hujan badai adalah bagian dari sunatullah, sebab akibat yang pure berasal dari alam. Apa yang terjadi di alam adalah sebuah proses keseimbangan. Pamali jika ada warga desa yang berani menentang hukum alam tersebut. Tapi, itu dulu. Berkat usaha klenik si-Buddi dan dukun Saripin, kini para penjahat lain seperti dirinya ikut-ikutan mengikuti jejaknya. Tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana akibatnya kalau alam terus-terusan diperkosa keluar dari treknya.

Saya menjadi khawatir, jika usaha berbau klenik dari para penjahat, koruptor, maling dan para bedugal tengik lainnya terus-menerus memperkosa hukum alam. Khawatir tentang alam yang akan membalas dengan lebih sadis, kejam, dan tak pandang bulu dengan alasan proses keseimbangan. Dan di sinilah, kadang saya merasa sedih. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s