Saya dan Angkringan

sego-kucing
Sego Kucing (mahirbelajar.wordpress.com)

‘Urip kudu belajar prihatin’. Itulah salah satu filosofi dan ajaran maarifat kehidupan dari Simbok yang selalu saya ingat. Dengan hidup prihatin artinya kita menghayati kehidupan, memahami arti perjuangan, dan menempa kemandirian. Dan salah satu bentuk keprihatinan itu adalah mengakrabkan diri dengan angkringan. Kenapa angkringan? tentu bagi sampeyan yang sudah pernah makan di angkringan-angkringan Jogja tahu maksudnya.

Angkringan pertama yang menjadi korban nangkring rutin saya adalah sebuah angkringan sederhana di sebelah utara Masjid Al-Mujahidin UNY. Manajer angkringan (baca: penjaga part-time) adalah teman kampus kakak saya. Mas penjual angkringan itu namanya Mas Hadi. Orangnya kocak, lucu dan selalu periang. Mahasiswa Sastra Inggris UNY itu sudah sekian lama menjadi part-timer, alasannya sederhana selain menambah uang jajan, juga sudah dipastikan jam kerja tidak akan menggangu aktivitas kuliah ataupun kesibukannya di lembaga kampus. Seperti kebanyakan angkringan lainnya di Jogja, seorang penjual angkringan belum tentu memasak sendiri menu-menu yang disajikan. Biasanya ada yang bertugas nyetori menu-menu itu, penjual tinggal menyediakan lapak (gerobak angkringan). Begitu juga angkringan milik mas Hadi. Menurut saya, menu paling enak di angkringan ini adalah kualitas sambel terinya. Sambel terinya diolah dengan sempurna, paduan antara cabe, bawang dan teri yang dimasak tak terlalu matang yang menghasilkan rasa pedas menyengat meski secara kuantitas hanya sakiprit.

Setelah cukup akrab dengan angkringan Mas Hadi, saya mulai mencoba angkringan-angkringan lain. Kali ini sasarannya adalah angkringan pertigaan kampung Kuningan (sebelah barat FBS UNY). Yang khas dari angkringan ini adalah sate kulitnya apalagi setelah minta untuk dipanasin di arang sebentar, rasanya bakal lebih maknyusss. Di angkringan ini, untuk pertama kalinya saya melakukan eksperimen. Yaitu mengoplos teh panas dengan jahe, atau yang sering saya sebut TJP (teh-jahe-panas). Motifnya waktu itu sederhana, tampil beda. Karena kebiasaan pembeli angkringan waktu itu cuma sebatas wedang jahe, susu jahe atau teh saja. Dan ternyata kombinasi ini memiliki citarasa unik dan sangat berkesan, halah. Akan tetapi di angkringan ini saya belum begitu puas. Teh yang disajikan menurut saya masih dibawah standar.

Petualangan selanjutnya adalah angkringan Lapangan Klebengan (utara Peternakan UGM) yang persis terletak di pesisir selokan Mataram. Di angkringan ini, tidak terlalu memiliki citarasa yang menonjol. Semua makanannya biasa-biasa saja, bahkan minumannya juga. Meski begitu, untuk masalah jumlah pengangkring di saat jam-jam puncak bisa ngalahin angkringan Tugu. Ramainya kaya pasar. Mungkin alasan angkringan ini ramai adalah letaknya yang strategis dan harganya yang sangat bersahabat. Kalau semisal taksi, angkringan Klebengan masuk katagori angkringan tarif bawah.

Kemudian pernah juga nyobain angkringan Tugu, awalnya tak terlalu berminat kesana. Angkringan ini memang sangat terkenal, sudah beberapa kali masuk tipi. Pelopornya adalah Lik Man, pria aseli Bayat-Klaten. Sekarang ini, angkringan Lik Man sudah dikelola oleh generasi kedua atau ketiganya. Selain itu, di kawasan stasiun tugu ini juga berjajar beberapa angkringan lain yang berharap kesuksesan seperti Lik Man yang katanya mempunyai omset sampai 3 juta semalam itu. Kenapa saya katakan tadi tak terlalu berminat, alasanya karena kelewatan ramai. Tiap kali kesana, pasti susah nyari tempat. Selain itu menu utamanya yang teramat biasa ditambah lagi angkringan ini memiliki tarif premium dibanding angkringan lain. Pamor memang mengalahkan segalanya. Termasuk isi kantong mahasiswa, halah. Tapi yang unik, seperti yang sampeyan ketahui, angkringan ini menyediakan kopi joss yang melegenda. Yaitu paduan antara kopi tubruk dengan arang kayu yang membara. Saya sendiri tak terlalu suka, mencobapun dulu karena penasaran karena secara rasa biasa-biasa aja persis seperti rasa kopi pada umumnya.

Beralih lagi ke daerah Timoho (APMD keselatan), ada angkringan yang dibikin lebih modern. Konsepnya seperti cafe. Bagaimana bisa nyasar kesana? ceritanya waktu itu jadi relawan gempa gabungan dari beberapa NGO dan partai politik yang bermarkas di sekitar jalan Timoho. Jadi waktu itu, kalau siang jadi relawan malamnya berkeliaran, ehh engga. Waktu itu kebetulan lagi musim piala dunia, kebetulan di posko tidak ada tipi. Jadi mau tidak mau saya harus mencari alternatif, nah kebetulan angkringan ini juga menyediakan nobar dalam bentuk seperti layar tancep. Jadi hampir tiap hari saya nongkrong di sana. Istimewanya dari angkringan ini, pilihan lauknya sangat komplit, lumayan murah dan tehnya lumayan enak.

Waktu terus berlanjut, tak terasa sudah waktu itu hampir 7 tahun saya di Jogja entah sudah berapa puluh angkringan yang saya cicip. Kemudian di awal tahun 2010, saya pindah kos di daerah jalan Monjali tepatnya sebelah selatan batas kota. Kos-kosan ini cukup nyaman, meski dekat jalan besar tapi suara bising tidak terdengar ke dalam kamar. Selain itu, didekat kos-kosan ini ada sebuah angkringan yang teramat istimewa kadang juga suka ngangenin. Angkringan batas kota, begitu tertulis dibalik tenda angkringan sederhana itu. Pak Min, penjual angkringan paruh baya ini berasal dari daerah Secang Magelang. Beliau hampir tiap malam jadi tempat ngobrol, tak sekedar menjual nasi kucing berkualitas beliau ternyata tidak buta dengan informasi-informasi terkini. Ngobrol apa saja sama beliau rasanya nyambung. Selain itu, beliau mempunyai tingkat kejujuran dan kebaikan hati yang di atas rata-rata. Betapa tidak, saya pernah ketinggalan dompet di angkringannya. Setelah saya kembali, dompet dan isinya masih utuh. Yang paling parah adalah saat saya ketinggalan motor. Ceritanya, saya berangkat ke angkringan Pak Min naik motor matic kesayangan, awalnya tidak berniat makan disana tapi entah kenapa setir motor seolah belok sendiri ke angkringan yang tidak jauh dari kosan itu. Setelah puas bercengkrama dan menikmati secuprut terakhir TJP di gelas, kemudian saya bayar dan pulang kekosan begitu aja. Jalan kaki. Tak merasa ada yang ketinggalan sama sekali. Jam menunjukkan jam 4.00, mata saya masih berkutat dengan layar laptop seraya otak berpikir tentang skripsi yang makin rumit itu. Di saat itu juga, tiba-tiba ada suara orang menggedor-gedor pagar kosan. Sambil teriak “Sopo sing ketinggalan motor” sekali dua kali saya belum juga sadar, baru setelah ketiga kalinya setelah orang itu menyebut secara spesifik jenis motornya saya langsung berlari ke gerbang kosan. Ternyata Pak Min. Beliau rela menunggui motor saya sampai jam 4 pagi. Asal sampeyan tahu, angkringan beliau biasanya tutup paling malam jam 2 pagi, hari itu beliau mesti menambah jam kerja. Nyuwun ngapunten pak, aku kangen sambel teri lan tempe bakar sampeyan.

Salam kangen untuk Pak Min di Batas Kota.

Advertisements

10 thoughts on “Saya dan Angkringan

  1. Benar, saya setuju Mas. Angkringan itu menyimpan filosofi yang dalam jika mau meresapi. Semacam media untuk andap asor 🙂

    Salam kenal ya, salam pelangi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s