Sendiri dan Merasa Sendiri | Pelajaran Hidup No. 6

Dalam sebuah diskusi membersamai adik-adik PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di Izmir-Turkey, ada bahasan yang cukup menarik di balik formasi V burung camar. Formasi tidak biasa dari burung satu ini sering kali menjadi analogi oleh kebanyakan pemateri untuk menjelaskan apa itu kerja kolektif, makna kerjasama atau juga untuk mendefinisikan apa itu Amal Jama’i dalam Islam. Mungkin tak perlu saya sampaikan semua apa dibalik formasi itu, disini saya ingin mengambil salah satu kondisi dari beberapa kondisi. Yaitu, kondisi di saat salah satu burung camar itu terpisah dari rombongannya.

Sendiri Menyepi
Sendiri Menyepi

Seperti yang sudah kita ketahui, di saat terbang berimigrasi burung camar cenderung untuk berkelompok, namun adakalanya ada dari mereka yang terpisah. Hal ini wajar dan biasa terjadi. Terpisahnya burung camar dari formasi rombongan ini bisa disebabkan oleh banyak hal, entah karena kelelahan, cidera dan sebagainya. Akibat terpisahnya salah ekor camar itu dari formasi menyebabkan ketidakstabilan pada kelompok tersebut. Namun hal ini hanya terjadi sesaat, karena tak lama kemudian anggota lain mengisi posisi yang ditinggalkan oleh camar itu. Akan tetapi, yang patut diperhatikan adalah munculnya ancaman bahaya dari burung camar yang terpisah sendirian, karena rombongan lain mulai meninggalkannya. Nah disini uniknya, mengetahui salah satu anggota rombongan keluar dari formasi, rombongan itu mengutus anggota lain untuk menemani camar yang tertinggal. Ini bentuk kesetiakawanan, kemanfaatan, dan kepedulian kelompok burung camar pada tiap individu di kelompoknya.

Akan tetapi, ada kondisi lain yang sering terlupakan oleh para pemateri. Yaitu kondisi dimana seekor camar ‘merasa sendiri’ di saat ia ditengah-tengah kelompok. Perasaan ‘merasa sendiri’ adalah perasaan ketidak-ketautan hati, kehampaan rasa dan terasingnya jiwa di tengah-tengah keramain. Perasaan ini jauh lebih berbahaya dibanding dengan seekor camar yang benar-benar sendiri (terpisah). Merasa sendiri padahal ia memiliki banyak orang di dekatnya. Pelan tapi pasti akan berdampak buruk dari keutuhan sebuah kelompok.

Laksana bom waktu, kehadirannya memang tak nampak, namun pelan tapi pasti akibat perasaan ini yang terus menumpuk muncul berbagai macam hal buruk, mulai dari kehilangan fokus, runtuhnya kepercayaan hingga hancurnya kerja kolaboratif. Dimana anggota satu dengan yang lain mulai saling curiga, tidak peduli dan bahkan terancam. Penyebab munculnya perasaan ‘merasa sendiri’ adalah kejenuhan, jenuh akibat dari monotonnya aktivitas tanpa inovasi, kepuasan individu yang tak terpenuhi atau kekecewaan atas kegagalan. Selain itu, juga akibat dari hilangnya orientasi kenapa ia harus berkelompok dan yang paling utama adalah mengikisnya iman. Iman adalah alasan mengapa manusia dipersaudarakan.

Sehingga, dalam sebuah kelompok, jamaah ataupun organisasi kondisi benar-benar sendiri seorang individu (yang hatinya tetap tertaut dengan yang lain) jauh-jauh dan jauh lebih baik dari pada merasa sendiri ditengah-tengah lautan manusia. Jadi, jangan pernah merasa sendiri! Ada sahabat dan Allah bersama kita. 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Sendiri dan Merasa Sendiri | Pelajaran Hidup No. 6

  1. Bener, Mas. Sendiri itu bisa berarti secara fisik memang cuma sendirian, tapi secara bukan berarti kesepian. Sendiri tapi enggak sepi. Gitu deh… Bener kata Mas, hehehe…

  2. Penyebab munculnya perasaan ‘merasa sendiri’ adalah kejenuhan… dan yang paling utama adalah mengikisnya iman. Iman adalah alasan mengapa manusia dipersaudarakan.

    Berarti kalau merasa sendirian, imannya perlu dipertanyakan ya, Mas Slamet? *mikir* Tapi bener juga sih. Makannya itu ada sepotong frasa “Merindukan Tuhan”. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s