ISIS dan Bekas Paku Yang Tak Hilang

Beberapa hari terakhir battery handphone saya seolah-olah mulai ngedropan lagi, padahal belum lama ini saya menggantinya. Iya ngedrop, cepat habis dayanya karena saking banyaknya pesan masuk. Teman-teman saya di sini heboh dengan pemberitaan tentang ISIS yang mulai berimbas pada kami.

isis
ISIS by nbcnews.com

Di mulai dari pemberitaan tentang hilangnya 16 orang wisatawan WNI di Istanbul awal bulan Maret lalu, berbagai media TV, online maupun cetak di Indonesia jor-joran memberitakan. Padahal, media lokal disini waktu itu tidak memberitakan kasus itu sama sekali. Justru yang heboh waktu itu adalah pemberitaan 3 siswi Inggris yang akan menyeberang ke Suriah via Turki, lengkap dengan foto CCTV ketiga siswi itu.

Saya heran dengan hal itu, entah apa yang terjadi sebenarnya. Apakah intelijen kita yang kurang responsif atau sekedar pengalihan isu kenaikan TDL atau justru negara kita di pandang sebelah mata oleh polisi lokal di sini. Karena sampai kini 16 anggota rombongan itu tidak jelas keberadaanya. (Sekedar informasi, 16 WNI yang ditangkap belakang ini merupakan rombongan yang berbeda dari 16 wisatawan sebelumnya).

Namun, akibat pemberitaan yang tak berhenti itu (kata temen saya yang di Indonesia) cukup membuat khawatir keluarga saya dan tentu temen-temen saya yang lain. Bahkan pagi-pagi buta saya dikagetkan oleh dering telpon dari bapak. Belum ada sejarahnya bapak nelpon tiba-tiba begitu, kecuali kalau ada hal penting.

“Pye kabarmu? ora melu-melu ISIS tho?”

Singkat sekaligus menohok. Ya, saya sangat paham dengan kekhawatiran bapak saya itu. Dua anaknya saat ini merantau jauh di luar negeri. Kakak saya di Mekkah-Saudi dan saya sendiri di Turki. Merantaunya kami yang beribu-ribu mile ini aja sudah bikin khawatir, apalagi pemberitaan yang sering cenderung spekulatif tanpa dilengkapi data yang lengkap itu.

Dan akhir pekan lalu, kami yang tenang-tenang saja disini kembali dihebohkan. Salah satu mahasiswa di Turki yang kebetulan lagi liburan ke Indonesia sempat diwawancarai oleh media nasional. Sebut sajalah media itu inisialnya Koran Tempo. Bersumber dari mahasiswa itu, Koran Tempe memberitakan kabar yang cenderung meresahkan dan spekulatif.

Diberitakan kalau mahasiswa di Turki ikut-ikutan membantu WNI yang ingin menyeberang ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Di kabarkan pula mahasiswa itu cenderung berpikir radikal, dimana mereka itu cenderung suka menyendiri dan hobby main game online bergenre perang. Loh-loh kok bisa-bisanya. Coba lihat link-link berikut;

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/14/078649946/Pelajar-Indonesia-Radikal-di-Turki-Apa-Sebabnya

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/14/078649949/Jihad-Bintang-Lima-di-Turki-Apa-Maksudnya

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/14/078649922/1000-Pelajar-Indonesia-Tinggal-di-Turki

Apa ngga senewen baca berita-berita spekulatif tur ngawur bin palsu itu. Jadi wajar saja, kawan-kawan saya disini yang hidupnya adem ayem, meski hatinya gundah gulana karena jomblo Midterm atau otaknya anget karena research yang makin ribet, tiba-tiba diberitakan seperti itu. Terlibat dengan jaringan ISIS. Yo, mboten banget lah!

Ya, meski kini sang narasumber sudah mencabut pernyataanya itu (dan juga adanya kesalahan redaksi dari pihak Tempo) melalui hak jawab. Tapi, paku-paku sudah terlanjur menancap. Meski kini ada upaya untuk mencabut, tapi kayu-kayu yang ayu terluka itu tak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

Bagai bola api, apinya sudah terlanjur tersulut dan kini mulai menggelinding. Entah kapan bola itu akan berhenti dan apinya kembali padam. Tapi, tetap nantinya bekas luka bakar pada rumput dan bolanya akan selalu ada. Seperti berita satu ini;

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlb3d3-takut-gabung-isis-polri-dalami-pelajar-di-turki

Ya, kami (mahasiswa di Turki) khawatir di tuduh macam-macam. Padahal kami disini hanyalah mahasiswa yang disibukkan oleh tugas yang menumpuk, paper yang perlu dikritisi, pekerjaan di lab yang perlu diteliti dan seabrek kegiatan pengenalan budaya karena kecintaan kami akan bangsa sendiri. Mana sempat kami untuk aneh-aneh gabung dengan ISIS yang kejam itu, terlintas saja pun tidak. Lha wong, sama mantan saja masih sering kangen, ini kok bisa-bisanya dituduh berani kehilangan nyawa tanpa asuransi surga yang jelas. Yo, mboten banget lah!

Alhamdulillah, kini kami sedikit bernafas lega. Selain hak jawab dari narasumber atas pemberitaan ngawur bin ngga jelas itu sudah dimuat. Press release yang di keluarkan oleh temen-temen PPI Turki juga serentak hari ini dimuat oleh berbagai media nasional ditanah air selain Tempo tentunya (entah kenapa?). Dalam press release itu dinyatakan, bahwa: Mahasiswa di Turki sama sekali TIDAK terlibat dengan ISIS. #KamiBukanISIS.

http://nasional.kompas.com/read/2015/03/17/14093621/PPI.Turki.Bantah.Ada.Pelajar.Indonesia.yang.Bantu.ISIS

http://news.detik.com/read/2015/03/16/173350/2860245/10/ramai-soal-isis-begini-kondisi-para-pelajar-ri-di-turki

http://internasional.metrotvnews.com/read/2015/03/17/372572/pelajar-indonesia-di-turki-bantah-terkait-isis

Dan seterusnya. Karena banyak sekali media yang memuat dan mencoba meluruskan informasi yang salah itu, selain Tempo (tanya kenapa). 😀

Jangan khawatir lagi untuk ke Turki, baik belajar maupun wisata. Kami ora popo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s