Banyak Begal di Sekitar Kita

Begal sebenarnya terminologi lama, digunakan untuk penyebutan tindak kriminal perampasan-pencurian dengan memakai kekerasan. Sebelum istilah ini kembali populer belakangan ini mungkin kita lebih sering mendengar atau membaca di media dengan istilah curanmor (pencurian kendaraan bermotor), curas (pencurian dengan kekerasan) atau jambret.

Begal by jppn.com
Begal by jppn.com

Kemudian hari ini, istilah begal menjadi populer lagi. Bahkan mungkin sedikit banyak mengubah perilaku masyarakat. Namun, hebohnya berita tentang pembegalan yang berakhir sadis (baik si-korban maupun begalnya sendiri) akhir-akhir ini sebenarnya belum tentu indikasi bahwa negara kita sudah tidak aman lagi. Bukan.

Kenyataannya tindak kriminal yang mirip dengan aksi-aksi pembegalan dan turunannya sudah marak sebelumnya. Jadi, untuk kenyamanan anda sendiri hidup di negeri yang makin susah ini, saya sarankan njenengan tidak perlu paranoid. Waspada boleh, tapi jangan terlalu lebay. Karena pada akhirnya njenengan sendiri yang repot.

Bicara tentang begal, di sini saya akan mengejawantahkan tentang begal informasi. Ya, aksi kriminal satu ini memang tidak merugikan secara fisik maupun materi. Melainkan kerugian secara mental maupun harga diri seseorang.

Modus operandi begal informasi bisa banyak hal. Pelaku bisa saja mencuri informasi dengan sembunyi-sembunyi, memaksa ataupun tanpa sengaja (artinya pelaku kejahatan mendapat informasi justru dari korbannya sendiri). Nah kali ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman hasil pengamatan saya selama ini tentang begal informasi yang tanpa disengaja.

Begal informasi yang tidak disengaja juga memiliki sub-modus tersendiri, mulai dari update status si-korban, curhat secara lisan, ataupun chatting pribadi dengan si-pelaku.

Sudah banyak orang yang menjadi korban dari kejahatan satu ini. Contoh yang paling populer adalah kasusnya Florence Sihombing yang sempat menghebohkan itu. Umpatannya tentang Jogja di jejaring sosial Path (yang mana hanya terbatas orang yang bisa melihat) tersebar keluar, bahkan diberitakan berbagai media. Yang akibatnya, mba Flo ini mesti bermasalah deengan hukum ataupun kode etik dari kampusnya.

Lalu, dimana peran begal di sini. Ya, pembocor yang sejatinya adalah temen dekat dalam lingkaran pertemanan di Path adalah tersangka utamanya. Andai saja, teman-teman Mba Flo di jejaringnya itu tidak membegal (baca: membocorkan) umpatan itu keluar, maka kasusnya tak akan menjadi heboh kala itu.

Modus operandi pada begal informasi yang tidak disengaja yang lain adalah curhat lisan. Awalnya si-korban berniat berbagi informasi (curhat) tentang apapun kepada si-pelaku atas dasar kepercayaan. Namun, di belakang diam-diam tanpa izin dari si-korban membocorkan informasi itu. Aksi pembegalan ini biasanya akan melahirkan apa yang kita namakan black campaign, ghibah, fitnah yang berujung perseteruan adu domba antara keduanya ataupun pihak ketiga.

Nah, yang terakhir adalah pembegalan informasi melalui media private chatting. Ya, yang namanya private chatting tentu domainnya sangat-sangat terbatas. Hanya si-korban dan si-pelaku yang seharusnya mengetahui informasi itu. Private chatting ini biasanya terjadi antar teman sendiri. Namun, karena terkendala jarak atau sesuatu hal yang lain maka aksi curhat ini mau tidak mau harus melalui aplikasi online misal whatsapp, facebook, email dan sebagainya.

Mungkin kasus yang paling populer dari modus operandi yang terakhir ini adalah Pitra Mulyasari. Mungkin tidak perlu saya jelaskan lagi tentang kasusnya mba Pitra ini. Justru saya ingin berbagi pengalaman teman saya sendiri tentang kasus ini. Yang boleh jadi, kasus seperti teman saya ini juga klasik terjadi pada kita semua.

Di mulai dari perkenalan teman saya (katakanlah namanya Mba A) dengan Mas B. Antara mba A dengan mas B ini kemudian terjalin hubungan pertemanan yang erat. Sering curhat dan sebagainya. Meskipun diantara keduanya memiliki latar belakang organisasi yang berbeda bahkan saling bertolak belakang.

Suatu ketika, Mba A ini mendadak ingin curhat tentang kehidupan pribadinya kepada Mas B (orang yang dianggap sebagai teman dekatnya, meski belum lama kenal). Mba A bercerita kalau dia sedang jatuh cinta dengan Mas C yang mana si-C ini memiliki background yang berbeda dengan Mba A. Kegundahan hati Mba A itulah yang memancing Mas B untuk mengorek habis tentang si A, termasuk tentang kehidupan dia di organisasinya.

Singkat cerita, di waktu yang lain setelah sesi curhat itu. Ternyata terjadi perselisihan antara organisasi Mba A dengan organisasi Mas B. Isunya pun sangat sensitif. Saling menjatuhkan dan seterusnya. Namun, malang nasib bagi Mba A dan organisasinya. Adanya permasalahan itu, dimanfaatkan si-B untuk menyebar obrolan (private chating yang harusnya bersifat rahasia) yang ia dapatkan dari si A beberapa waktu silam. Informasipun tersebar cepat. Dan kini, informasi ‘rahasia’ tentang organisasi A sudah menyebar luas. Si A tidak bisa mengelak, karena bukti-bukti chatting ada pada si-B.

Dari cerita diatas, saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal:

Pertama, Jangan terlalu percaya pada siapapun kecuali pada dirimu dan Tuhanmu.

Kedua, Teman, saudara, bahkan kekasih anda bisa saja akan menjadi begal informasi di kemudian hari. Maka jaga aib dan rahasia tentang diri anda, keluarga ataupun organisasi anda dengan baik-baik. Jangan mudah ’ember’ kepada orang lain.

Ketiga, Jika ingin curhat. Curhatlah kepada kucing atau hewan peliharaan anda di rumah. Dijamin rahasia anda akan terjaga. Itu saja.

Hati-hati banyak BEGAL di sekitar anda.

Terimakasih.

Advertisements

8 thoughts on “Banyak Begal di Sekitar Kita

  1. Tampaknya semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin modern-nya dunia yang diikuti dengan keterbukaan informasi mengharuskan kita untuk selalu waspada dan berjaga-jaga demi terhindar dari segala jenis kejahatan contohnya begal informasi ini. hehe 😀

    • Betul, terkadang kita terlalu ‘terbuka’ dengan orang lain. Bahkan mungkin aib kita secara tidak sadar kita sebar… padahal kita tidak tahu sampai kapan yang namanya teman tetap menjadi teman atau malah jadi musuh…

  2. Mas, saya setuju sekali dengan prinsip jangan percaya siapapun selain diri sendiri. Ini ibu saya kenceng banget ngajarinnya. Tapi namanya manusia ketika emosi di puncak biasanya langsung muntah aja, nggak pakai lihat-lihat siapa yang diajak ngomong.

    Di jaman digital ini, ketika semua hal gak bisa ditarik kembali emang sudah selayaknya kita lebih berhati-hati. Demi keselamatan diri sendiri.

    • Iya Mba, curhat kadang emang kadang bisa bikin lega (sedikit), tapi kalau salah orang dan masalahnya malah jadi bumerang. Apalagi di media social (chatting) yang datanya terdokumentasikan… jadi tambah hati-hati ya Mba. Thanks sudah balik berkunjung ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s