Yang Kita Tunggu Selama Ini

“Hayiırlı Cumalar, Allah kabul etsin” ~Selamat Hari Jumat, semoga Allah mengabulkan.

“Aamiin, siz de, kardesim” ~Aamiin, kamu juga saudaraku.

Sambil menjabat tangan aku menyapanya. Dialah Shadeq, yang kisahnya pernah saya sebut. Hari Jum’at kemarin, percakapan itu terjadi, tapi baru hari ini sempat mengisahkannya. Hanyalah sapaan biasa, basa-basi -yang memiliki muatan doa- yang biasa kami ucapkan setelah menunaikan shalat Jumat. Tak ada istimewa hari itu, hanya saja saya tak melihat seseorang yang biasanya saya temui di kala Jumatan.

Setelah sapaan tadi, Shadeq mengabarkan tentang sosok yang ‘hilang’ tersebut.

“Onun annesi wefat olmus” ~Ibunya baru saja wafat.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun…”

Ya, namanya Khaled Bughara. Teman kampus saya yang berasal dari negerinya Qadhafi, Libya. Dua hari sebelum hari Jumat itu, ia mendapat kabar bahwa ibunya telah meninggal dunia. Makanya ia buru-buru untuk ‘pulang kampung’ tanpa sempat memberi kabar.

Dia salah satu sahabat saya, meski kadang suka merepotkan karena hobinya yang ’ember’ alias suka bicara tanpa henti. Tapi orangnya baik dan shalih. Saking baiknya saya suka memanggil dia dengan sapaan akrabnya ‘Qadhafi’, padahal di negaranya sana ia memiliki beda pandangan dengan sosok mantan presiden yang kontroversial itu.

Kemudian, setelah mendengar kabar itu saya sepontan mendoakan ibu teman saya itu dalam hati. Tak bisa berkata-kata, hanya bisa tertegun mendengar kabar duka itu. Sejurus kemudian, seiring langkah kaki saya menuju kampus (sepulang dari masjid) saya teringat Ibuk, Bapak, keluarga dan orang-orang yang saya cintai. Betapa ketakutannya saya saat mereka pergi meninggalkan saya, atau saya sendiri yang mendahului. Saya belum siap untuk itu semua. Rabbi, sesungguhnya saya menyadari betapa ajal itu begitu dekat.

Dan, apa yang kita tunggu selama ini tak lain adalah kematian. Yang setiap insan, mempunyai jatahnya masing-masing. Tak peduli siapapun itu. Dan, tak ada yang bisa mengubahnya.

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” QS. Al A’raf: 34

Ampuni kami Ya Rabb… teguhkan kami dalam berserah diri, berkahi waktu-waktu yang kami jalani ini, dan matikan kami dalam kondisi yang mulia, khusnul khatimah di sisi-Mu

Advertisements

9 thoughts on “Yang Kita Tunggu Selama Ini

  1. Saya terhenyak membaca tulisan ini. Terima kasih sudah mengingatkan, Mas :)). Maka dari itu kita mesti mengisi jatah waktu yang kita punyai ini dengan menjadi manfaat bagi orang lain, ya :)).

  2. Assalamualaikum Mas 🙂

    Betul sekali Mas, kita hidup di dunia tidak lain hanyalah untuk menunggu kapan kita dipanggil Allah. Makanya kadang merasa sedih saat tidak bisa memaksimalkan kesempatan yang sempit ini untuk mengumpulkan pahala, ntah apa bekal kita nanti saat kematian sudah memanggil 😦

    Dan kalau ditanya apakah siap, saya siap. Tapi saya tidak siap jika keduaorang tua saya yang lebih dulu dipanggilNya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s