Menyusun Narasi Kehidupan

Spring at Sirince
Spring at Sirince

Entah mengapa setiap hari Jumat, di setiap kepulangan dari masjid kampung di seberang (jauh) kampus saya itu, saya selalu mendapati hal-hal yang menambat hati dan (menurut saya) layak tulis di blog ini. Bukan sesuatu hal yang besar memang, tapi perjalanan 20 menit jalan kaki melewati jalanan kampung yang di musim semi ini nampak indah dipenuhi bunga liar itu, yang membuat saya kadang terenyuh sekaligus jatuh hati. Seperti halnya siang tadi.

Selepas shalat sunnah dua rakaat ba’diyah jum’ah saya berjalan santai kembali ke dorm, tidak perlu tergesa-gesa mengejar servis bus, karena saya tahu hari ini adalah 1 Mei, yang artinya hari libur di Turki. Makanya servis bus dari kampus ke masjid kampung tidak ada hari ini (libur). Pilihannya adalah naik dolmus (semacam angkot) atau jalan kaki. Naik dolmus memang cepat, tapi bayar tidak bisa menikmati indahnya warna-warni bunga di musim semi. Ya, udah akhirnya saya putuskan untuk jalan kaki (ngirit 1 Turkish Lira).

Lima menit berjalan, saya bertemu dengan kawan saya yang dari Afganistan dan Libya yang sedang menunggu dolmus. Seperti biasa saya sapa mereka dengan sapaan basa-basi bermuatan doa.

“Hayirli Cumalar, Allah kabul etsin” ~Selamat hari Jumat, semoga Allah mengabulkan– kurang lebih begitu. Ya, orang Turki (seperti halnya orang arab) memang suka memberikan greetings pada ucapan-ucapan mereka. Hal ini kontras dengan budaya kita di Indonesia, boro-boro saling mendoakan setelah shalat, salaman aja kadang males.

Karena dari awal, saya sudah niat untuk jalan kaki. Saya pamit duluan ke dua teman saya itu. Baru sepuluh meter berjalan, ada mobil sedan silver berjalan pelan lalu berhenti tepat di depan saya sambil mengedipkan kedua lampu sign.

“Oh…kayaknya mau ngasih tumpangan nih” batin saya. Soalnya kalau mobil itu cuma mau berhenti tentu akan memilih sedikit lebih menepi dan tidak perlu menghidupkan lampu kedip. Saya dekati mobil itu, lalu sang sopir membuka jendela.

“Salamat… gel…” sapanya, sambil membuka lock pintu mobil.

~Salamat adalah panggilan saya dari orang-orang non-Indonesian. Orang-orang asing (khususnya turkish) sepertinya kesusahan menggabungkan dua huruf mati s dan l. Jadi kata Slamet (nama aseli saya) berubah menjadi Salamat bahkan ada yang ekstrim berubah menjadi Salman atau Sulaiman. kadang kalau mereka sudah sangat kesusahan, akhirnya saya minta mereka dengan menyebut nama akhir saya saja, Parmanto yang mana lebih mudah dilidah mereka. Sedangkan ~gel bisa diartikan ajakan datang/masuk/naik (ke mobil).

Ternyata, sang sopir adalah salah satu professor saya di jurusan. Professor muda jebolan dari negeri Paman Sam. Meski beliau bukan advisor thesis saya, tapi saya cukup dekat dengannya karena pernah ambil kuliahnya. Saya sangat kagum dengan beliau, dari sekian banyak dosen-dosen di kampus yang memilih hidup sekuler dan pernah hidup lama di negeri sekuler tapi beliau ini tetap humble dan sholeh. Buktinya adalah beliau adalah bagian kecil dari kebangkitan kembali Islam di negeri yang hampir seabad terjebak dalam sistem sekuler yang tidak demokratis.

Di tengah perjalanan (ceritanya saya lupa dengan niat awal jalan kaki hehe) kami ngobrol-ngobrol cantik #halah. Tapi ada hal yang sangat mengena dari perjalanan singkat sebelum saya di antar tepat di gerbang dorm. Beliau berkata:

Kita belajar di negeri asing, merantau di tempat yang jauh dari negeri sendiri adalah tidak lain untuk melihat indahnya dunia ini dari perspektif yang berbeda

Ya, benar sekali. Indahnya dunia tak akan terlihat jika kita hanya berhenti pada satu titik. Karena, faktanya berjuta-juta titik di dunia ini berlomba-lomba menampakkan keindahan yang sarat makna. Maka sejatinya merantau atau kuliah di kota-negeri asing adalah salah satu upaya untuk mengumpulkan titik-titik menjadi huruf, lalu menatanya menjadi kata dan bahkan menyusunnya menjadi kalimat-kalimat.

Ya, merantau adalah cara menyusun narasi kehidupan yang dipenuhi keindahan.

Terima kasih, Hocam.

~Hocam adalah sebutan untuk professor atau guru. Berasal dari kata ‘hoca’ (guru) dan akhiran ‘m’ (kepemilikan saya) yang kurang lebih berarti ‘Guruku’.

Advertisements

10 thoughts on “Menyusun Narasi Kehidupan

  1. Wow ternyata menetap di turki toh sekarang mas, Kuliha?
    Aku setuju banget nih, mengetahui indahnya apapun harus dilihat dari perspektif lain, sudut pandang lain. Karena tiap tiap apapun pasti punya sisi indah dan jelek. Ketika lihat dari satu titik, pasti yang ketahuan cuma satu sisi, bisa cantik bisa jelek. Bukankah demikian?

  2. Merantau, berjalan, adalah untuk menemui hal-hal baru, untuk menghargai apa yang sudah kita tinggalkan di rumah dan tanah kelahiran ya Mas. Untuk menyerap yang baik, menyebarkannya, guna membuang yang buruk, dan kalau bisa, meninggalkannya. Belajar bisa di mana saja, tidak harus duduk manis mendengar penjelasan di kampus, karena menumpang di mobil profesor ternyata bisa dapat banyak ilmu :)).
    Selamat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s