Menghitung Dosa | Pelajaran Hidup No. 7

Ada kebiasaan baik yang dulu pernah saya lakukan menjelang tidur (meski pernah terlupakan dan kini pelan-pelan dijalankan lagi). Kebiasaan ini sebenarnya akibat dari susahnya saya tidur cepat, jika badan tidak benar-benar lelah, maka sulit bagi saya untuk bisa tidur dalam hitungan menit. Kadang saya cemburu dengan salah seorang temen pengajian di Jogja dulu, betapa mudahnya ia tertidur kapan dan di manapun bahkan sambil duduk melingkar di suatu kajian.

Penyebab saya susah tidur sebenarnya tidak lain karena waktu itu masih suka ngopi (semua jenis penyajian kopi). Yang paling favorit waktu itu kopi hitam (minim gula) dan es cappucino. Hampir tiap hari, pagi dan malam tak pernah lepas dari kopi. Jadi sangat wajar, baru bisa tidur di atas jam 1 malam atau yang orang-orang biasa sebut sebagai insomnia.

Efeknya pasti, saat jam-jam produktif (jam 9.00-12.00) rasa kantuk yang sempat terpotong akhirnya datang. Makanya, dulu waktu semester awal kuliah S1 saya sangat membenci kuliah pagi. Dulu saya pernah punya tagline kebanggaan sesat. 😀

Menghargai dosen itu, lebih baik bolos dari pada tidur di kelas.

Ya, bagi saya mahasiswa yang tidur/tertidur di kelas saat dosen sibuk menjelaskan itu sebuah kriminal dan layak dihukum. Makanya, saya sepaham dengan dosen-dosen yang mencak-mencak saat melihat anak didiknya molor di dalam kelas. Oleh karena itu, jika benar-benar ngantuk sudah tak tertahankan biasanya saya kabur dari kelas, lalu tidur di mushola atau yang ekstrim bolos sama sekali. Itulah bentuk penghargaan saya terhadap dosen #halah. Ini sesat jangan ditiru!

Namun untungnya, dosen-dosen saya di UGM dulu memang bijak (kebanyakan). Memberi nilai tidak semata tentang penuhnya absensi, tapi tentang interaksi dan hasil kinerja. Eiits bentar, kalau jarang masuk kelas dimana dan kapan interaksinya? Ah Anda ini, katrok sekali.

Begini, beruntung bagi saya, saya dulu tipe mahasiswa yang relatif ngaktivis jadi urusan mengenali tipikal dan bentuk interaksi yang tepat dengan dosen-dosen sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Membaca orang (semacam detektif) adalah salah satu pelajaran penting dan selalu saya delegasikan pada temen-temen Advokasi BEM dulu, terutama membaca elit-elit penting. Makanya, meski gaya bicara saya sedikit medok tapi urusan lobi dan negoisasi adalah salah satu keahlian saya (dulu). Tapi, bukan berarti IPK saya yang tiga koma sekian (sekiannya ini mepet sekali) hasil dari lobi ya, saya hanya berusaha menyakinkan dosen saya, sukses di mata kuliah tidak selalu harus masuk kelas tiap pekannya.

Menghitung Dosa

Oke, kembali tentang masalah susah tidur. Setelah penyakit insomnia ini menyerang hampir lima semester, akhirnya saya bertanya ke salah satu teman saya. Kemudian teman saya ini memberikan alternatif saran (selain disuruh mengurangi konsumsi kopi), yaitu dengan menghitung angka (sampai jumlah tak hingga) menjelang tidur dengan inotasi dari keras sampai lamat-lamat terdengar. Dan tips ini ternyata cukup manjur.

Lantas kemudian saya praktikan ‘amalan’ ini setiap malam, kemudian di suatu malam saya berpikir ‘kenapa saya tidak menghitung dosa harian saja ya, hitung-hitung muhasabah. Kan juga sama-sama menghitung…’

Mulailah saya tiap malam menghitung dosa, mulai dari dosa bolos jamaah shalat di masjid, lupa tidak tilawah, lupa atas janji dan seterusnya. Rasanya lega sekali disetiap melakukan ‘amalan’ ini. Kalian tau, amalan seperti ini juga dipraktekkan di gereja katolik, mereka menyebutnya sebagai sakramen rekonsiliasi atau pengakuan dosa. Bedanya, saya melakukan ini langsung antara saya dengan Alloh, bukan melalui perantara manusia bernama pastur (yang katanya langsung mendapat pengampunan), takutnya kalau melalui perantara malah justru salah sambung.

Bagi saya, ‘amalan’ menghitung dosa menjelang tidur selain untuk mempercepat proses fase gila alias tanpa sadar alias tertidur (dalam Islam, hukum fikih bagi orang-orang ini sama) juga sebagai bentuk muhasabah (introspeksi diri).

Ya, itung-itung sebelum saya di hisab di padang masyhar, ya saya berlatih untuk menghisab diri lebih dini. Seperti apa timbangan saya kelak, apakah condong ke kebaikan atau malah sebaliknya.

Kalau semisal saya cenderung ke kebaikan (semoga Alloh memudahkan), maka peluang untuk pulang kampung (surga) dengan lancar dan selamat semakin besar. Karena, sejatinya kampung asal kita sebenarnya adalah tanah bernama surga. Dan, saya ingin sekali langsung pulang kampung tanpa mampir kemana-mana dulu. Itu.

Untuk melengkapi bacaan tentang Menghitung Dosa bisa dibaca disini lalu untuk tips lain mengatasi insomnia disitu

Advertisements

17 thoughts on “Menghitung Dosa | Pelajaran Hidup No. 7

  1. kalimat pendahuluannya sempat membuat sy senyum2 sendiri.. hehehe..
    #pengalamantidurdikelas #gagalfokus..eh..

    Btw tipsnya boleh juga mas.. mengingatka n bgt..

      • Wah kejaam.. mainnya fisik.. :p heuheu.. masa push up dpn kelas? Klo sy jd mahasiswanya bakal nawar aja minta hukuman yg membobotkan intelektual dong.. bikin karya tulis gitu.. hihihi

        Negara insomnia? Negara memang harus insomnia mas.. :p apa jadinya klo negara tidur? Rakyat tak terurus.. #halah..

  2. Wew… keren prinsipnya. “Tidak tidur di kelas ketika dosen menjelaskan adalah sebuah kehormatan, jika tidak mampu melakukan yaaa mending kaburr, ngebolos, tidur di musolah” Xixixixi.. jadi terinspirasi ni mas..

  3. Good informasi,mas.. makasih infonya,, makasih sudah diingatkan ttg tatacara pengampunan dosa. Kadang kalo insomnia saya malah nyetel lagu cadas. Aaah, nda solehah *Tutupmuka* 😀

  4. Menghitung dosa itu juga bisa jadi bentuk introspeksi diri ya Mas. Buat mengakui kesalahan, terus jadi titik awal supaya jadi lebih baik lagi, kalau masih diberi Tuhan kesempatan bangun di esok hari :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s