Aroma Alam

Siapa sih di dunia ini yang tidak suka dengan aroma atau bau-bauan. Entah itu bau-bauan yang berasal dari bunga, parfum, maupun bauan masakan. Setiap orang tentu mempunyai baun-baun favorit yang tentu semuanya bersifat relatif. Ada yang suka keenakan atas aroma gulai ayam ada juga juga yang muntah-muntah keenegan. Tentang bau parfum pun, tiap orang juga berbeda-beda. Tapi, dari itu semua ada titik temu yang menyatukan, bahwasannya kita sepakat, bahwa kita memilih bau-bauan atas dasar wangi apa tidak dan enak apa tidak, tentu saja disini parameter wangi dan enak punya cakupan yang luas.

Lebih lanjut lagi, ternyata di sekitar kita ada bau-bauan atau aroma yang datangnya dari alam (non-bunga), yang memiliki penggemar cukup banyak, salah satunya adalah saya sendiri.

Pada dasarnya saya sendiri gagal membahasakan aroma-aroma alam ini, apakah masuk parameter wangi ataupun enak. Karena, saya belum menemukan ada merek parfum di dunia ini yang mengadopsi bau-bauan ini, dan tentu saja aroma ini juga tidak berasal dari sumber yang edible (bisa dimakan). Nah, Bau-bauan atau aroma apa aja itu?

Aroma rumput yang habis dipotong

Pernahkan Anda mencium wangi rerumputan yang habis dipotong? kalau belum pernah, kapan-kapan kalau ada tukang kebun di rumah atau di kantor sedang bekerja (potong rumput) tongkrongin aja di dekatnya. Ngga perlu dekat-dekat, jarak lima meter aja cukup, kalau sudah begitu Anda akan mencium aroma rerumputan yang samar-samar dan ngangenin.

potong rumput d4

Aroma itu tak lain adalah aroma perubahan. Aroma unik yang seakan-akan rerumputan itu memberi kode akan pentingnya perubahan. Ya, tak hanya manusia yang butuh perubahan alampun juga butuh. Jadi jangan bersedih kalau ada masanya daun-daun berguguran, rumput mengering, tanah yang tiba-tiba longsor, dan kali yang tiba-tiba banjir bandang. Mereka (alam) butuh perubahan, perubahan atas tatanan dan laku dari manusia terhadapnya, sehingga dengan begitu, alam akan kembali seimbang.

Aroma hangat jemuran

Dari semua aktivitas di rumah, maka mengangkat jemuran adalah kegiatan yang paling saya suka. Saya selalu bermuka masam kalau Ibuk meminta mencuci atau menyetrika pakaian, tapi akan semangat 45 kalau disuruh ngangkatin jemuran. Ya, bau jemuran memang sangat khas. Ikatan kimia antara bahan tekstil, wangi sabun dan bau panas matahari memang memberikan paduan yang luar biasa. Hal ini tidak akan kita temui, jika membauinya dengan cara terpisah.

clothespins-9272_640

Coba Anda sempatkan 5 detik saja untuk mencium khidmat sebelum jemuran diangkat. Maka, Anda akan merasakan Aroma keberhasilan, aroma khas yang berasal dari tekstil kering itu. Ya, jemuran kering adalah hasil transformasi panjang dari bau pakain kotor menuju mewangi tekstil yang layak pakai.

Aroma daun pinus

Ngga tau kenapa, saya sangat menyukai aroma yang satu ini. Sejak pertama kali tau, mengenal, dan lalu bercengkrama *halah* dengan pinus-pinus di Hutan Donoloyo sampai sekarang saya sangat menyukai pohon yang satu ini. Aroma kenangan, mungkin pohon satu ini mengingatkan saya akan mbolang perdana saya waktu kelas 2 SD dulu. Ya, saya harus berjalan berkilo-kilo meter, menyebrang sungai dan mendaki gunung (sebenarnya cuma bukit) untuk mendapatkannya.

daun pinus

Ya, keluarga saya memang bukan tipe keluarga masa kini yang suka mbolang bareng dengan anak-anaknya (misal ke gunung atau ke pantai) lalu foto groufie terus update di socmed, dulu mereka lebih suka kalau saya mbolangnya ke sawah aja (baca: ngarit atau jaga burung emprit), jadi kalau memang pengin mbolang ya usaha sendiri, entah solo travelling, ikutan studytour sekolah ataupun ikutan trip karang taruna. Tapi kini, setelah anak-anaknya pada gede dan punya cucu malah mereka seneng nagih mbolang (biasanya saat puasa atau lebaran).

Aroma tanah di hujan pertama

Tidak seperti aroma rumput yang bisa kita dapatkan kapan aja (asal ada rumput tentunya), aroma tanah di hujan pertama boleh jadi hanya bisa kita cium sekali dalam setahun. Yaitu saat akhir dari musim kemarau atau di bulan Oktober biasanya. Meskipun begitu, kita juga bisa mengakalinya di bulan-bulan sebelumnya dengan cara menyiram tanah super kering (akibat panas kemarau) dengan air bersih. Namun, cara ini tentu tidak senikmat aroma tanah yang diguyur oleh hujan pertama setelah berbulan-bulan rindu akan hujan.

DSC09664

Aroma kehidupan, mungkin itu yang pantas untuk mendiskripsikan aroma maskulin yang datang setahun sekali ini. Ya, hujan adalah tanda akan kehidupan setelah kematian, dengan hujan maka berhentilah masa-masa penuh keputusasaan. Begitulah yang Alquran sebutkan.

Nah, itu beberapa aroma alam yang membuat saya gandrung. Bagaimana dengan Sampeyan?

Advertisements

12 thoughts on “Aroma Alam

  1. Saya suka aroma tanah di hujan pertama, karena itu mengingatkan akan saya saat kecil main bal-balan waktu hujan. Saya suka aroma rumput dipotong, karena itu mengingatkan saya lapangan sepakbola yang selalu saya lewati waktu mau kuliah dulu.
    Ah, setiap aroma ternyata punya kenangan.

  2. Waduh, tertekan :hehe. Sejauh ini wangi favorit saya itu wangi hutan dan pepinusan di pinggir jalan pada ketinggian, rasanya mendamaikan :)).

  3. saya paliiiingggg suka aroma tanah di hujan pertama. tapi katanya malah gak sehat ya mas menghirup aroma yg kayak gini. saya pernah baca dimana gitu (lupak!) kalo aroma tanah pas kena hujan pertama kali itu gak sehat untuk paru2 karena yg kita hirup adalah partikel2 debu yg paling kecil katanya.

      • tapi kalo diperhatiin pas tetes hujan pertama jatuh ditanah itu emang ada partikel2 debu kecil yg naik karena ‘hantaman’ tetesan air hujan ditanah yg kering. once I saw the first rain drops carefully (lagi melow galao critanya waktu itu 😛 ) makanya jadi keingatan pernah baca artikel tentang itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s