Tentang Kopi dan Nasionalisme

Kita patut bangga bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Vietnam dalam hal produksi kopi, meskipun dengan selisih angka yang sangat besar. Dari 8.46 juta metriks ton kopi yang diproduksi di seluruh dunia, kita menyumbang 0.68 juta sedangkan Brasil 2.7 juta metriks ton (data FAO tahun 2011). Jadi, jangan heran kalau produk Brasil memang sangat dominan di tengah pasar kopi. Hal ini karena, negara yang satu ini memang nampak selalu serius dalam memandang sektor pertaniannya. Hampir semua produk pertanian tropis (seperti halnya Indonesia) dikuasai oleh negara tempat si-Jambul Ronaldo ini berasal.

Tapi, taukah kalian dari mana tanaman ini sebenarnya berasal? sebelum kemudian menyebar terus menjadi salah satu minuman favorit hampir seluruh negara di dunia? Jawabannya ternyata bukan dari tiga negara yang sudah saya sebutkan diatas, meskipun ketiganya mendominasi pangsa kopi saat ini.

Baru-baru ini, saya melakukan riset kecil-kecilan tentang asal usul kopi. Ide riset ini muncul karena sabtu kemarin saya menyaksikan kejadian unik saat saya mengunjungi International Student Gathering (Turkish: Uluslarasi Ogrenci Bulusmasi) di kota saya, Izmir. Dari banyak negara yang membuka stand, mata saya tertuju pada dua stand yang terletak berdampingan, yaitu Yaman dan Ethiopia. Ada yang unik dari stand ini, mereka sama-sama memamerkan biji kopi baik yang masih mentah maupun yang sudah dalam keadaan roasted. Iseng saya bertanya kepada mereka (teman Ethiopia dan Yaman sekaligus).

Kopi itu, aslinya dari Ethiopia atau Yaman?

Kopi dari Ethiopia
Kopi dari Ethiopia
Kopi dari Yaman
Kopi dari Yaman

Serentak mereka menjawab “Dari negara-ku”. Kemudian saya ulang lagi pertanyaan yang sama, dan jawabannya tetap sama. Mereka tidak mau mengalah, saling mengklaim bahwa kopi adalah produk aseli dari negeri mereka masing-masing. Keributan kecil, karena rebutan kopi ini pada akhirnya saya redam, dengan mengajak mereka foto bareng hehe.

Foto yang menyatukan, paling kanan orang Ethiopia, 3 kiri saya adalah orang Yaman.
Foto yang menyatukan, paling kanan orang Ethiopia, 3 kiri saya adalah orang Yaman. (Abaikan rambut saya, efek kena angin musim semi jadi kaya orang habis tidur hehe)

Respon yang sama mungkin juga akan terjadi jika kita dan orang Malaysia ditanya dari mana kain batik atau nasi uduk (nasi lemak) sejatinya berasal?

Ya, negara yang bersebelahan dan bahkan berbatasan langsung memang sangat rentan terjadinya konflik akibat saling klaim atas produk, budaya, bahasa dan lainnya. Termasuk hal ini adalah kopi.

Bicara tentang asal kopi, saya mencoba membuat resume singkat tentang hal ini. Menurut sumber-sumber yang saya baca, sejatinya tanaman bernama latin coffea dengan dua jenis utama yaitu coffea arabica dan coffea canephora (atau kalu kita biasa mengenalnya sebagai kopi robusta) ini berasalan dari dataran tinggi Ethiopia.

Dahulu sebelum, bangsa arab melakukan hijrah ke negeri Habasyi (sekarang Ethiopia) kopi sudah banyak ditanam disana. Meski tidak jelas penggunaanya pada waktu itu, tapi yang jelas negeri Habasyi adalah negeri yang besar sejak jaman dahulu. Ingat tentang cerita ratu Saba’ dan Nabi Sulaiman? ya terjadi negeri ini.

Kemudian, pada abad ke 700 Masehi bangsa Arab mulai membawa benih kopi sekembalinya mereka ke tanah Arab bagian selatan (sekarang bernama Yaman). Lalu mereka mencoba menanamnya di daerah penggunungan subur yang bernama Mocha dekat dengan ibukota Yaman saat ini Sanaa (boleh jadi jenis minuman kopi mochacinno juga diambil dari kota satu ini). Nah, dari Yaman ini kopi di jadikan komoditas sebagai minuman supleman penahan kantuk saat mereka beribadah di malam hari. Kandungan kaffein di dalam kopi ternyata manjur untuk membuat orang arab bergadang sepanjang malam.

Selanjutnya, minum kopi sudah menjadi budaya di jazirah arab bahkan ilmuwan Islam waktu itu (Ibnu Sina) melakukan penelitian pertamanya tentang kopi dan membukukannya di kitab yang terkenal di dunia kedokteran.

Pada era Kekhalifahan Turki Ustmani, lahirlah sebuah kedai kopi pertama di dunia. Saat itu (bahkan sampai sekarang) mereka menyebutnya sebagai Kahve Hanesi. Yang kemudian istilah kahve di adopsi oleh bangsa Eropa yang sekarang ini kita mengenalnya sebagai ‘coffee’ dan untuk kedainya ‘cafe’.

Dari bangsa Eropa ini (terutama Belanda) benih kopi menyebar ke tanah Nusantara. Benih kopi ini sejatinya berasal dari Makkah, yang kemudian di tanam oleh orang Belanda di Bogor (Ibukota Hindia Belanda sebelum Batavia). Dari sini, perkebunan kopi menyebar keseluruh Nusantara, terutama adalah pulau Sumatera.

Uniknya, iklim dan tanah kita memungkinkan memanen kopi hampir sepanjang tahun. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan Brasil yang hanya bisa memanen saat musim dingin (wet season).

Jadi kesimpulannya adalah benar bahwa Alloh menganugerahi bangsa Ethiopia sebagai negara asal kopi, namun bangsa Arablah (Yaman) yang berkontribusi melakukan riset dan mempopulerkannya untuk pertama kali.

Jadi, jangan pernah ribut tentang sesuatu hal, mengklaim segala sesuatu adalah aseli dari negerinya, menafikkan bangsa lain dengan menuduh mereka mencuri yang lalu kemudian membuat negara-negara yang seharusnya bersaudara justru berperang dan saling mencidera. Bukankah dahulu, sebelum ada negara-negara, bangsa-bangsa, bahasa-bahasa kita adalah satu dan bertuhan (tauhid) satu?

Nasonalisme itu sudah seharusnya beroreintasi pada tujuan awal, yaitu mensejahterakan. Bukan kebanggaan sempit menciptakan kebencian baru dan menyulut perbedaan yang berakhir pada permusuhan.

Jika seandainya saya ditanya tentang nasionalisme, saya akan menjawab:

Saya adalah Muslim dari negeri bernama Indonesia 

Ya, sudah selayaknya kita mengedepankan yang dulu pernah menyatukan (Islam -sebagai agama paripurna dari agama-agama Nabi Adam sampai Nabi Isa-) baru kemudian hal-hal yang lahir setelahnya: suku-suku, negara, partai, ormas dan seterusnya dan seterusnya.

Kebencian yang terpupuk justru akan melemahkan, namun mendahulukan yang menyatukan akan menguatkan.

Hingga akan ber-ending seperti ini:

Diapit bidadari Turki dan princess dari negeri Balkan (Note: mereka yang minta loh, liat aja ekspresi grogi saya hehe)
Sang Arjuna diapit bidadari Turki dan princess dari negeri Balkan (Note: mereka yang minta loh, liat aja ekspresi grogi saya hehe)


Advertisements

16 thoughts on “Tentang Kopi dan Nasionalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s