Tiada Kemuliaan Tanpa Kesungguhan

Kesungguhan (Sumber Foto: http://elziyad9tsn.files.wordpress.com)

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’aam: 162-163).

Seorang mukmin paripurna sesungguhnya adalah ketika dirinya sudah selesai dengan urusan dirinya sendiri. Dimana waktu-waktunya adalah hanya untuk kepentingan manusia lainnya. Sedangkan sisa waktu yang lain adalah bagaimana untuk terus meningkatkan ketaatan kepada Alloh. Akan tetapi, seringkali seorang mukmin lalai akan satu hal, yakni Ikhlas. Ikhlas adalah membersihkan segala amal perbuatan dari segala campuran. Diantara buah hasil keikhlasan adalah hati yang selamat dari penipuan dan kesesatan, dan dijauhkan dari perasaan ragu-ragu. Ciri ikhlas tahap selanjutnya adalah bersikap biasa atau tidak ada perasaan yang berbeda ketika sesudah melakukan sebuah amalan, baik pujian maupun celaan. Tidak ada rasa kecewa karena tidak mendapat pujian dan tidak pula merasa menyesal karena telah melakukan amal shalih. Puncak dari ikhlas itu sendiri adalah ia lebih menyukai amal baiknya tidak diketahui orang lain sebagaimana ia menyembunyikan amal keburukannya.

Satu kunci penting dalam manajemen ikhlas adalah meluruskan niat. Karena semua amal itu pasti diawali dari niat. Niat yang bersih, tanpa ada kotoran di dalamnya maka akan mengantarkan seorang hamba jauh dari rasa bangga akan pujian dan jauh dari rasa marah karena cacian.

Seringkali ikhlas hanya dikaitkan dengan bagiamana melakukan suatu amalan, tapi bagaimana dengan meninggalkanya?.

Imam Fudhail bin ‘Iyadh memberikan nasehat tentang ini “Beramal karena manusia adalah syirik, dan meninggalkan amal karena manusia adalah ria”.

Maksud meninggalkan amal karena manusia, selain karena ingin mendapat pujian atau posisi aman dihadapan manusia juga dikarenakan rasa takut akan dianggap ‘aneh’ dan ditinggalkan oleh manusia lainnya karena amalan itu. Seringkali seorang hamba mengkerdilkan dirinya sendiri dari kebiasaan beramal shalih karena takut dijauhi oleh komunitas sekitarnya. Jika ini menjadi kebiasaan, maka imbasnya adalah ia akan terbiasa meninggalkan amal hingga akhirnya dia tidak melakukannya sama sekali.

Kesungguhan
Setelah fase ikhlas dilalui oleh seorang mukmin, maka kesungguhan adalah fase berikutnya. Jika ikhlas itu membenarkan arah tujuan, maka kesungguhan adalah berusaha sebaik-baiknya dalam menggapai tujuan. Artinya ketika seseorang hamba sedang melakukan shalat yang hanya ditujukan kepada Alloh yang Maha Agung bahwa sesungguhnya ia sudah mencapai ikhlas, namun berusaha shalat berjamaah, memperbaiki bacaan dan shalat dengan khusyuk itulah kesungguhan.

Menurut Syaikh Mu’min Fathi al-Haddad, dalam Kaifa Takhsya’u fi Shalatika wa tadfa’u min Wasawisika, menyatakan bahwa, keikhlasan tidak akan sempurna tanpa adanya kesungguhan, dan tiada kesungguhan tanpa adanya keikhlasan. Sedangkan kesungguhan dan keikhlasan tidak akan dapat sempurna kecuali dengan kesabaran.
Jika seorang mukmin menginginkan kemulian dalam hidupnya, maka berusaha semaksimal mungkin dan sungguh-sungguh adalah pilihan yang tidak bisa ditolak.
Laa izzata illa bil jihad, Tiada Kemuliaan Tanpa Kesungguhan.

NB: Tulisan ini pernah tayang di situs Dakwatuna.

Advertisements

One thought on “Tiada Kemuliaan Tanpa Kesungguhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s