Pilih Kerja atau Shalat? Pelajaran Hidup No. 8

islamic-banking

Ilustrasi dari sabilulilmi.wp.com

Adalah seorang Suman Jaya, seorang yang biasa saja (nampaknya) tapi di dalam hatinya teguh menegakkan prinsip. Suatu ketika, ia yang saat itu mengabdikan diri sebagai seorang sopir di sebuah Bank Swasta besar di negeri ini (sebut saja BII) dipanggil oleh atasannya, yang sekaligus Bos Cabang dari bank tersebut.

‘pilih kerja atau shalat?’ tanya sang bos, sebut saja namanya Nyonyah Novi, diambil dari Novita ini nama sebenarnya bukan samaran.

Mendengar pertanyaan yang singkat, menohok sekaligus prinsipil itu, seorang Suman Jaya menjadi dilematis dibuatnya. Shalat tidak hanya kewajiban baginya, melainkan juga kebutuhan atas asupan batin yang sangat ia butuhkan setiap hari. Namun, di saat yang sama terbayang wajah polos anak-anaknya yang masih kecil, bocah yang belum lama mengenal dunia, yang tentu belum cakap untuk mencari peruntungan di dunia yang semakin liar ini. Belum lagi, terbayang akan ‘perasaan bersalah’ yang datang saat melihat ujung bibir istrinya semakin menurun di setiap ujung bulan.

Ya, ia adalah seorang kepala keluarga dan sekaligus sumber ‘energi’ satu-satunya di keluarga kecilnya itu. Bilamana sumber ‘energi’ itu dicabut, maka padamlah rangkain-rangkain kehidupan yang mengikutinya. Pada akhirnya, siklus kehidupan yang ia jalani penuh kebahagian selama ini akan terganggu bahkan bisa saja berhenti.

Akan tetapi, pertanyaan dilematis yang mengancam sumber ‘energi’nya itu ia jawab dengan mantab dan penuh keyakinan.

‘pilih shalat’ jawabnya, yang tak kalah singkat.

Sejak beberapa hari yang lalu (25/04) ia resmi berhenti bekerja dari perusahaan yang sudah dua tahun ini ia mengabdi, belum berhenti di situ, malang nasib baginya ia ‘dipaksa’ dengan status mengundurkan diri ketimbang status dipecat. Selain dari istilahnya yang berbeda, hak dan kewajiban dari istilah itu tentu saja akan merugikannya sebagai korban (baca UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Kebijakan perusahaan yang angkuh di zaman modern ini, di negara yang menjadikan pengabdian kepada Tuhan menjadi sila yang pertama. Namun faktanya, masih banyak pelaku usaha yang menjadikan sila kelima justru mengalahkan yang utama.

Sama sekali tidak ada penyesalan dari seorang Suman Jaya. Baginya, pekerjaan itu bukanlah sumber ‘energi’ satu-satunya, dengan penuh keyakinan kelak di waktu yang tidak akan lama ia akan segera menemukan sumber energi alternatif yang lebih renewable dan sustainable bagi ia dan keluarganya. Baginya, kehilangan satu sumber ‘energi’ bukan deal yang besar, namun kehilangan sumber ‘energi’ yang hakiki jauh-jauh lebih ia takutkan. Makanya ia lebih memilih Allah sebagai sumber ‘energi’ yang hakiki, energi yang tak pernah padam, energi yang ‘mengakali’ hukum kekekalan energi (1st Thermodynamic Law) atau energi yang menciptakan energi. (Baca beritanya di sini)

Hal yang sama, pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Selepas saya lulus dari S1, saya resmi menjadi seorang jobseeker. Tak lama kemudian, aplikasi kerja saya banyak direspon meski hanya bermodal dua lembar CV. Hingga suatu ketika, ada panggilan test dari sebuah perusahaan besar yang menurut saya cukup bonafit. Banyak sekali applicants yang bersaing, tidak peduli dia S1 ataupun S2. Test pertama saya lulus, lalu test kedua di lain hari juga lulus, hingga akhirnya tiba saat test wawancara pertama (HRD).

Saya masuk ke sebuah ruangan di gedung university club di kampus saya, duduk seorang wanita seusia kakak ipar saya (lebih tua sedikit). Setelah dia memperkenalkan diri, kemudian ia mulai melakukan tugasnya. Mengorek abis tentang saya. Wanita itu seperti cukup cerdik sekaligus detail, karena ia cukup detail memahami CV saya. Tak terasa, sesi wawancara yang normalnya hanya memakan waktu 30 menit, sudah berjalan hampir tiga jam. Ya, dulu waktu masih kuliah salah seorang senior saya memberi tips dalam wawancara, yaitu sebisa mungkin mengubah alur wawancara yang biasanya satu arah menjadi semacam obrolan yang saling timbal balik. Dan tips itu sepertinya sukses. Hingga akhirnya, di akhir sesi sang pewawancara bertanya.

‘pilih kerja atau shalat?’

Ya, saya sudah mengetahui sebelumnya bahwa perusahaan itu adalah perusahaan yang beroperasi 24 jam penuh tujuh hari seminggu. Sehingga, tidak bisa tiba-tiba seluruh operasi berhenti begitu saja.

Mendengar pertanyaan itu, membuat saya berpikir. Cukup tricky memang, lalu saya menjawab dengan beberapa ‘jalan tengah’ yang intinya kerja tetap jalan, tapi shalat tidak sampai ketinggalan. Namun, wanita itu tetap pada pertanyaan yang sama sambil mengatakan seaindanya semua ‘jalan tengah’ yang saya ajukan tadi tidak bisa diterapkan oleh perusahaan.

Meski hanya sebagai seorang fresh graduate, yang belum banyak tanggungan tentu bepe ‘beban perasaan’ tidaklah sama dengan yang terjadi pada seorang Suman Jaya. Tapi kesempatan berkarir di perusahaan besar, tentu kadang membuat dilematis. Hingga akhirnya saya menjawab.

‘saya memilih berhenti bekerja, dan mencari perusahaan yang membebaskan saya menjalankan keyakinan saya’

Lalu apa yang terjadi?

Saya diterima kerja!, tapi di perusahaan lain. Setelah hampir dua bulan bekerja, tiba-tiba ada panggilan masuk.

‘Selamat siang, ini dengan saudara bla… bla…  bla….’

Ternyata wanita pewawancara yang pernah saya ceritakan masih ingat nomor dan kangen saya berbicara di ujung telepon, dia mengatakan bahwa aplikasi saya dulu masih lanjut. Intinya saya diminta untuk ke Jakarta untuk menjalani wawancara terakhir (dengan Presdir) dan juga test kesehatan. Karena waktu itu adalah bulan puasa yang sudah mendekati lebaran, dan harus mudik dulu, saya menawarkan waktu wawancara setelah lebaran dan wanita itu setuju. Dan akhirnya, saya resmi di terima kerja di perusahaan itu, meski dengan ‘jalan tengah’ yang pernah saya ajukan sebelumnya. Meskipun, pada akhirnya, kembali saya resign  karena harus pergi ke Turki untuk melanjutkan studi.

Yang ingin saya sampaikan adalah menjadi pekerja yang berkarir cemerlang itu boleh, menjadi engineer yang bergaji besar juga sangat dianjurkan, tapi menjadi insan yang berprinsip itulah yang utama. Kita bekerja hari ini tidak semata untuk hidup sekali, karena setelah dunia ini akan ada kehidupan lagi. Makanya kita harus cermat dalam memilah-milah sumber ‘energi’, yang mana energi itu benar-benar bisa mengantarkan kita pada ujung kehidupan tanpa takut kehabisan di tengah jalan.

Meneguhkan prinsip itu laksana menancapkan akar tunggak ke inti bumi. Semakin dalam, maka pohon semakin banyak mendapat manfaat, tidak takut kekeringan akan air hingga tegar mengahadapi angin yang menerjang. Jika kelak, ia ingin tumbuh besar dan tinggi maka akar-akar yang dalam cukup kuat mengimbangi.

Itulah pelajaran hidup nomor delapan.

Selamat hari Rabu!

Advertisements

33 thoughts on “Pilih Kerja atau Shalat? Pelajaran Hidup No. 8

  1. Menurut saya, agama itu kebutuhan, bukan kewajiban. Jadi kalau ada sesuatu hal yang menutupi saya memenuhi kebutuhan, saya kayaknya akan berusaha buat kebutuhan saya terpenuhi terlebih dulu. Begitu, sih :hehe.
    Ceritanya inspiratif sekali, Mas. Kita hidup mesti punya prinsip, mesti punya keyakinan, mesti punya Tuhan. Soalnya kalau kita tak punya apa-apa tapi Tuhan bersama kita, itu akan lebih baik ketimbang kita punya semuanya tapi Tuhan tidak ada sama kita. :)).

  2. Waaah kisahnya menginspirasi sekali mas. Sebetulnya antara dilematis sekali ya kalau ditanya begitu dalam posisi cari kerja, tapi akhirnya kan kalau emang rezeki nggak kemana. luar biasa 🙂

  3. Mas, saya pernah beberapa kali berdebat panjang dengan orang asing yang ribut tentang sholat Jumat dan mengganggap orang tersebut tak bertanggung jawab dengan pekerjaan karena sholat. Ada banyak cerita yang saya dengar dan saya jadi tergelitik pengen nulis tantangan yang dihadapi teman-teman Muslim, terutama perempuan berjilbab, di negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

  4. Alhamdulillah kantorku membebaskan karyawannya menjalani kewajibannya beribadah, mulai dhuha, baca Quran, shalat pun kedapetan sunnah2nya alias nggak terburu2 :).
    MMng sesi wawancara sukak menjebak gitu yah Mas, mungkin mau tau seberapa kuat prinsip kita 🙂

    • Wah alhamdulillah banget tuh Mba Keke. Iya, kadang seorang tester suka membuat pertanyaan tricky semacam itu…

      Ohya, boleh dong kalo ada lowongan di kantor Mba, bisa dshare (maklum elegi mahasiswa tingkat akhir) #serius 🙂

  5. Sholat merupakan kewajiban yang harus dilakukan, dan pekerjaan juga sautu kewajiban agar bisa memenuhi kebutuhan hidup, jadi kedua-dua mesti dijalankan..

  6. Jadi ingat bapak tukang kebun di TOMER. Pas bukain pintu perpustakaan (untuk sholat dzuhur anak-anak TOMER), beliau bilang, “Saya juga sebenarnya pengin sholat. Tapi gimana lagi, ada pekerjaan terus.”

  7. Sungguh tulisan yang memberikan pencerahan! Terima kasih telah berbagi pengalaman n pelajaran hidup! Kenyataan lain yang pernah saya jumpai, di tempat kerja yang bernuansa Islami pun spt itu, mungkin pertanyaannya tdk “Pilih sholat atau kerja” tapi mungkin sebuah pernyataan seperti ini, “Rapat lebih penting daripada sholat”, akhirnya melalaikan sholat. Ini fakta di lapangan lho! Menyedihkan memang!

  8. Pas sama yang lagi ada di pikiran. Gegara sebuah kejadian di sebuah dunia yang akan dimasuki. Mau ditulis gak jadi2…hehe
    Alhamdulillah dulu perusahaan santai asal pekerjaan selesai. Semoga dunia kerja besok gak terlalu berat godaannya…

    Top lah (^^)b

  9. Saya baru tahu di Indonesia ada atasan yang sampai hati bertanya kayak gini. Miris dan geram, sok merasa dirinya Tuhan, rezeki bawahannya seakan-akan hanya dari dia. Mungkin kalau di negara yang mayoritas non muslim bisa dipahami jika pertanyaan semacam ini timbul. Alhamdulillah selama bekerja belum pernah merasakan pelarangan shalat, jilbab, dsb. Mudah-mudahan rezeki Pak Suman Jaya dimudahkan Allah SWT.

    • Sebenarnya banyak kok modus seperti itu, saya punya temen kerja di perminyakan akhirnya resign karena masalah yang sama.

      Aamiin, mbak berarti beruntung dapat perusahaan yang membebaskan pegawainya beribadah. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s