Epistimologi Perjalanan

Berjalan adalah salah satu dari tiga hal dasar yang harus dimengerti sejak manusia menghirup udara di alam dunia. Tiga hal yang dimaksud adalah menangis, merespon, lalu baru kemudian berjalan.

Berjalan adalah aktivitas penting bagi manusia dalam meresapi kehidupan. Dikala menangis dan merespon (hanya) sebatas bentuk komunikasi, maka berjalan adalah bentuk aktualisasi dan kemandirian. Ya, dengan berjalan seorang bayi memupuk rasa kemandirian, rasa ‘ketidak-ketergantungan’, dari yang sebelum apa-apa harus dibantu oleh ibu/ayahnya, dengan berjalan maka ia bisa menggapai banyak hal, dari yang bermanfaat buat dirinya ataupun yang berbahaya.

Berjalan adalah aktivitas mengasah rasa. Dimana, berjalan tidak sekedar melangkahkan kaki kanan-kiri secara bergantian, tapi adalah sarana mendekatkan yang jauh dan merasakan yang selama ini hanya ada dalam bayang-bayang. Pengalaman nyata, inspirasi, dan kepekaan sosial secara real-time akan dialami oleh mereka yang mau melihat/merasakan segala sesuatu dari dekat.

Perjalanan adalah sebuah proses yang kompleks dari persiapan sampai terengkuhnya tujuan, yang dalam setiap tahapannya terdapat banyak sekali pelajaran-pelajaran atau ilmu pengatahuan yang bisa diambil. Maka, berjalan sesungguhnya adalah aktivitas mandiri manusia dalam hal mengumpulkan ilmu pengetahuan.

***

Adalah kemarin, sedari Kamis (4/06) sampai Selasa (9/06), perjalanan singkat yang sungguh banyak pengalaman yang didapat. Seperti yang sudah pernah saya singgung di artikel sebelumnya disini, tentang rencana mbolang ke Anatolia bagian timur. Dan alhamdulillah rencana itu terlaksana, meski target kota yang dikunjungi menurun drastis dari rencana sebelumnya, ya mau gimana lagi tersudut diantara ketersedian waktu dan lembaran Lira di dompet.

Maka perjalanan enam hari, menyusuri Turki bagian timur, menjelajah 6 kota (tidak termasuk yang hanya sebatas lewat atau transit), mengtadaburi alam dan pesona masakan, mengtafakuri sejarah era zaman batu, keperkasaan era Babylonia, era keemasan Islam, hinga takjub dengan tertatanya transportasi di era Turki modern. Sebuah perjalanan yang juga menghabiskan satu sepatu, satu jam tangan dan satu jamper kesayangan ini semoga menjadi penyemangat menyambut defense dan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi.

Perjalanan seminggu yang dimulai dari Izmir, hingga ke ujung timur Turki (Sanliurfa), lalu kemudian balik ke Kapadokya yang kemudian berakhir di Urla, adalah perjalanan paling berkesan di tahun ini, tahun dimana saya akan segera meninggalkan negeri yang sudah banyak menginspirasi.

***

Insya Allah, dalam beberapa hari kedepan saya akan mencoba berbagi dengan menuliskannya dalam bentuk bagian-bagian. Planning saya akan ada sekitar sepuluh bagian, yang berisi tidak hanya kisah perjalanan, tapi juga tentang pengalaman hidup, masalah ekonomi dan tata kota, hingga masalah politik dan konflik perbatasan yang itu semua saya dapatkan dari perjalan singkat itu.

Tulisan-tulisan itu nantinya akan saya beri kode sandi #PJKT (PerJalanan Ke Timur), jadi jika nantinya ada tulisan yang tidak ada kata sandi itu, berarti tulisan itu bukan bagian dari rangkaian perjalanan singkat tersebut.

Singkat kata, semoga Allah memudahkan segala, memperlancar proses defense dan lulus, dan tentu mempertemukan kita di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

***

Dari Kampung Gulbahce, dimalam Rabu (9/06), dihari-hari dibayangi oleh deadline.

Advertisements

8 thoughts on “Epistimologi Perjalanan

  1. Mengutip “Singkat kata, semoga Allah memudahkan segala, memperlancar proses defense dan lulus, dan tentu mempertemukan kita di bulan Ramadhan yang penuh berkah.”
    Aamiin ya Robb…

    Wah asik ya jalan2.. semoga sy bisa berkesempatan seperti itu juga (mengarungi samudera kehidupan).. hehe

  2. Perjalanan yang saya yakin sangat membuka mata, memperkaya, dan banyak ceritanya. Saya tunggu cerita-cerita menarik dan pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Teriring ucapan terima kasih yang mendalam karena sudah sudi berbagi dengan kami :hehe. Tapi Mas, meski tahun ini sudah kembali, bukan berarti tidak akan tandang ke sana lagi, kan? :hihi.

  3. Sepertinya perjalanannya keren sekali ya, ditunggu tulisan penuh inspirasinya 😀
    (Anyway ternyata sudah mau balik ke Indonesia ya? 🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s