#AnatoliaTimur: Perjalanan Ke Timur Mencari… [Bagian 0]

Sebelum saya memulai tulisan pertama tentang jelajah saya ke Anatolia bagian timur tempo hari, izinkan saya mengganti ‘kode sandi’ yang sempat saya singgung sebelumnya, karena setelah dipikir-pikir penggunaan kode sandi #PJKT akan menimbulkan banyak prasangka, takut entar para fans *halah* menyangka saya penggemar berat #JKT48 padahal iya bukan. Jadi, sebelum isu bergulir kemana-mana, kode sandi akan saya ubah menjadi #AnatoliaTimur.

***

“Yang mau ikut makan-makan, silahkan datang ke Yesilova Buyuk Evi, sore ini jam 6″

Begitu pesan yang masuk kedalam grup whatsapp PPI Izmir, seorang teman sekaligus si-tuan rumah yang membuat pesan tersebut. Ceritanya, kawan-kawan PPI Izmir (laki-laki) akan masak-masak sore itu, syukuran dari salah satu kawan karena klaim asuransinya baru saja cair. Oya, Buyuk Evi itu berarti ‘rumah besar’ sedangkan Yesilova adalah nama daerah dimana kawan saya tinggal, jadi Yesilova Buyuk Evi adalah sebutan untuk apartemen sekaligus basecamp kawan-kawan PPI Izmir.

Membaca pesan tersebut, langsung terbayang ayam goreng -gorengan favorit saya, maklum sebagai anak asrama saya sangat jarang makan-makanan Indonesia, paling puuol cuma masak Indomie pakai rice cooker.

“Oke, aku ikut ya, kebetulan sore in juga ada agenda ke Izmir”

Begitu, balas saya ke grup. Siang itu agenda saya di lab cuma sampai setengah hari, saya mesti balik asrama dan packing buat perjalanan beberapa hari kedepan. Ya, jadwal pesawat saya memang masih esok hari, karena berhubung tiket murahnya hanya ada di pagi-pagi sekali (jam 7.00) saya harus berangkat sehari sebelumnya, karena jam segitu belum ada ‘angkot’ kalaupun ada takut tidak keburu, karena jarak asrama saya ke airport lumayan jauh.

Selepas packing, saya langsung meluncur ke rumah teman saya. Beruntung hari itu, semua transportasi umum di kota saya lagi gratis. Penyebabnya adalah sedang pergantian sistem, jadi meski ‘kartu pintar’ saya kosong, saya di izinkan naik semua jenis transportasi kota, mulai dari bus sampai kereta listrik.

_DSC9073

Tas baru 😀

Sebelum kerumah teman saya yang terletak di sekitaran kampus Ege University itu, saya nge-mall sebentar ke mall terbesar di kota saya. Tidak pakai ribet, langkah kaki saya langsung melangkah ke oulet Decathlon, outlet yang khusus menjajakan aneka peralatan outdoorTujuan saya kesana untuk membeli sebuah travel backpack, karena tas saya sebelumnya nampaknya sudah tidak layak dilihat, meskipun secara fungsional masih layak pakai.

Saya memilih tas merek Quechua, semacam Eiger-nya Prancis. Kalau disuruh memilih sih, sebenarnya saya lebih prefer merek Eiger (selain harga lebih murah, produk aseli Indo, juga kualitasnya sudah tak diragukan lagi), namun berhubung di toko tersubut cuma itu yang tersedia, ya sudah.

Setelah dapet tas yang cocok, saya mampir bentar ke masjid di mall tersebut karena sudah masuk waktu Ashar. Ya, semenjak pemerintahan Erdogan yang dimulai 13 tahun yang lalu itu, perlahan tapi pasti fasilitas umum (dari mall, stasiun, terminal dll) mulai dilengkapi sarana ibadah. Masjid di mall tersebut cukup luas, bahkan lebih luas ketimbang masjid (mushola) yang ada di mall-mall Jogja, selain itu juga bersih terawat (standard mall).

Jam 20.00 saya tiba halte bus dekat apartemen kawan saya, jam segitu di waktu menjelang summer begini masih terhitung siang, karena matahari masih tampak kuning belum jingga.

“Mau dibeliin apa?” tanya saya melalui telepon.

“Minuman saja, Mas”

Setelah mampir minimarket buat beli beberapa botol ‘es teh’ dan jus, saya langsung meluncur ke ‘basecamp’. Di dalam ‘base camp’ sudah ada beberapa kawan yang lagi asyik meracik masakan, menggoreng bakwan ataupun sekedar ngobrol. Menu hari itu adalah sop ayam, bergedel kentang plus suir ayam, bakwan, dan tentu saja sambal. Oya, masih ada lagi emping melinjo dan kerupuk palembang (saya lupa namanya).

_DSC9072

Ifthar Jama’i with special menu Emping Melinjo!

Bagi kami, emping melinjo dan kerupuk palembang itu menu yang istimewa sekali, yang mana adalah oleh-oleh dari Ibu-ibu perwira TNI yang beberapa hari lalu ke kota kami untuk mengikuti workshop singkat. Terima kasih Ibu-Ibu semua, teruslah mengabdi untuk negeri dan jangan sungkan-sungkan datang lagi kesini bawakan kami sambal terasi *halah*.

Tepat saat adzan maghrib, makanan sudah siap untuk dihidangkan. Hari itu (Kamis 04/06) beberapa dari kami memang ada yang berpuasa sunnah, sholeh sekali ya kawan-kawan saya itu. Jadi sore itu, sekaligus buka bersama perdana sebelum Ramadhan tiba.

Setelah kenyang dan shalat maghrib berjamaah, kami ngobrol-ngobrol singkat. Lalu seorang kawan bertanya,

“Mau kemana mas? bawa tas besar gini”

“Mau ke timur, nyari calon isteri inspirasi” jawab saya sekenanya.

Kemudian, selapas Isya’ beberapa kawan ada yang pulang duluan. Saya sendiri disana sampai sekitar jam 00.00, biar tidak ‘terdampar’ di bandara kelamaan. Ya, saya berencana mau menginap di bandara malam itu. Memang, rumah teman saya relatif lebih dekat ke bandara, namun berhubung jadwal pesawat saya pagi sekali dan takut ngga kekejar kalau pakai transportasi umum, makanya saya rela nginep di bandara saja. Pakai taksi sih bisa, tapi ya mahalnya itu belum lagi terkesan manja sekali, masak solo travelling kok ngga berani susah.

_DSC9075

Suasana kereta dini hari, lenggang tanpa orang serasa milik sendiri.

Jam 01.20 saya tiba di bandara, malam menjelang pagi itu bandara di kota terbesar ketiga di Turki itu nampak lenggang. Nampaknya, tidak ada jadwal boarding jam segitu. Bandara bernama lengkap Adnan Menderes International Airport ini termasuk bandara favorit saya, desain bagus dan modern. Nama bandara ini diambil dari mantan perdana menteri Turki yang dihukum gantung gara-gara ‘nekat’ mengambalikan adzan keadaan semestinya, yaitu bahasa Arab. Asal kalian tahu, pasca revolusi sekuler yang meruntuhkan Kekhalifan Ustmani apa-apa yang berbau Arab dinasionalisasi, termasuk hal ini adalah adzan yang dulu harus menggunakan bahasa Turki.

Ya, meski status beliau sebagai ‘terpidana gantung’ ternyata nama beliau tetap harum, buktinya namanya masih dikenang sebagai nama-nama fasilitas publik, dari bandara, jalan sampai universitas. Bagaimana dengan Indonesia?

Setelah melewati pemeriksaan singkat, saya langsung menuju ke masjid bandara. Masjid ini, meski cuma satu lantai, namun luas sekali dengan karpet yang tebal dan juga lembut pas buat tidur. Di dalam masjid, sudah ada belasan orang bergelimpangan nyeyak dengan mimpi masing-masing. Fenomena orang tidur di masjid memang tidak hanya di indonesia saja. Namun bedanya adalah kalau di Indonesia hampir semua masjid boleh ditiduri hanya beberapa yang tidak boleh (contoh Masjid Kampus UGM), namun kalau di Turki justru kebalikannya. Hampir semua masjid di Turki dilarang untuk diinapi (menginap disini termasuk aktivitas itikaf), kecuali hanya beberapa saja.

Meski orang Turki itu pada dasarnya tertib dengan sedikit angka kriminal, tapi tidur sendirian diantara orang-orang yang tidak dikenal merasa was-was juga, apalagi saya bawa kamera, kalau uang di dompet sih ngga banyak (biasa transaksi pakai kartu buat mengurangi resiko dalam perjalanan). Saya beberapa kali terbangun, cuma gara-gara ada orang lewat di samping saya.

Sampai menjelang shubuh, saya terbagun dan tidak bisa tidur lagi. Padahal waktu boarding masih tiga jam lagi, ya sudah sambil menunggu saya baca quran saja, nyicil jatah tilawah harian.

Jam 6.00 saya check-in, setengah jam kemudian ada panggilan boarding. Saya mendapat kursi 28A, samping jendela. Namun sampai di dalam pesawat, kursi jatah saya sudah di tempati oleh anak kecil seumuran keponakan saya, disamping ada ibu-bu, saya pikir itu ibunya si bocah. Ibu itu bertatap muka dengan saya tanpa berkata-kata, lalu beranjak mau pindah kursi. Saya balas dengan senyum dan gelengan kepala, isyarat tidak perlu. Ya, bagiamana lagi melihat bocah kecil yang lagi excited naik pesawat, mana tega. Makanya, saya rela duduk di pinggir tengah pesawat Boeing model 732-200.

Pesawat yang saya tumpangi ini bermaskapai Sun Express, harganya relatif murah atau justru murah banget. Dibandingkan dengan bus tujuan sama, harganya masih dibawahnya, mungkin gara-garanya saya beli jauh-jauh hari. Sun Express mungkin sekelas Air Asia atau Sriwijaya Air, soalnya jarak antar kursi lumayan mepet selain itu tidak dapat apa-apa selama terbang 1.5 jam ke Adana. Tepat jam 7.00 pesawat mulai lepas landas. Tepat waktu dan tak pakai delay. Alhamdulillah.

Ya, destinasi pertama saya adalah Adana, kota yang terkenal ‘hangat’ di wilayah timur-selatan Turki. Mengapa ‘hangat’? akan saya ceritakan di bagian selanjutnya 😀 .

Bersambung…

Advertisements

23 thoughts on “#AnatoliaTimur: Perjalanan Ke Timur Mencari… [Bagian 0]

  1. Mungkin yang dimaksud dengan krupuk Palembang itu kemplang, Mas? :hehe.
    Ya, makan bersama, di tanah yang jauh, terus apalagi ada yang puasa, berasa sekali suasana Indonesianya, karena kebersamaan kan nama tengah bangsa ini ya :hehe.
    Oke, cerita petualangan bahkan belum dimulai tapi rasanya saya sudah ikut naik kereta dini hari itu :haha. Suka dengan cara berceritanya yang mengalir, lanjutan saya tunggu! :)).

  2. ciee tas baru *salah fokus 😀
    Duh, enak banget itu keretanya sepi ya, beda sama commuter line jabodetabek yang kalau bisa masuk kaki aja syukur sangking padetnya 😀

  3. Maret tahun depan mau solo trip ke Turkey nih..aman kan buat solo trip female? Rutenya yang biasa diambil buat yang pertamax ke Turkey Cappadocia, pamukkale..ditunggu nih crita sambungannya..O ya klo boleh ada kabar Santorini aman gak ya scr negaranya lgi krisis..Thanks before

    • Iya nanti disambung lagi hehe.

      Insya Allah aman kok mba, dua tempat itu memang paling ramai unt turis2 asing. Oh kalo santorini aku juga belum kesana sih, tapi mending liat2 dulu situasi kondisi boleh jadi tahun depan yunani udah membaik.

  4. Sy sering baca tulisan2 mas slamet walaupun blm jd pembaca setia tiap tulisannya hehe.. klo sy perhatikan bahasannya menarik, ringan, dan mudah dipahami maknanya. 🙂 Terkesan tdk menggurui padahal sarat ilmu di dalamnya 🙂 keren nih mas jd banyak belajar 🙂

    Tulisan di atas sdh ada sambungannya belum mas?

  5. […] Bukit yang kedua ini, agak menantang. Jalan setapaknya benar-benar hampir tertutup, sepertinya memang jarang ada yang ke bukit ini. Sedangkan, panas matahari benar-benar menyengat. Karena, saat itu juga matahari benar-benar diatas ubun-ubun. Tanda, dhuhur akan segera tiba. Vegetasi di bukit kedua, tak jauh berbeda dengan yang pertama. Tumbuhan perdu berdaun runcing, pohon lavender liar, dan tentu saja pohon beri gunung juga ada. Yang cukup berat bagi saya adalah medan berbatu yang lebih labil dibandingkan bukit yang pertama. Apalagi, ditambah sepatu sneaker yang tidak cocok untuk mendaki. Maklum, sepatu gunung saya sudah saya pensiunkan beberapa bulan yang lalu, selepas mbolang ke timur sebelum summer break kemarin. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s