Si-Manis, Hamil Muda dan Babaran

Ini kisah lain tentang si-Manis. Gadis imut nan manis itu kini berulah lagi. Setelah sebelumnya sempat saya usir, karena berani berbuat ‘dosa’ di rumah kecil kami. ‘Dosa’ yang membuat saya merasa bersalah atas perbuatannya terhadap tetangga saya dari negeri Asia Tengah, Afghanistan itu. Sedih sebenarnya, tapi demi melunasi janji kemerdekaan yaitu -menjaga perdamain dunia- saya rela melepas si-muka-polos-tanpa-dosa itu. Ya, sejak si-Manis masih anak-anak sayalah yang merawat, memandikannya, menyiapkan makanan dan kadang mengelusnya. Bahkan saya rela menyisihkan sebagian uang beasiswa saya demi menebus makanan favoritnya yang lumayan mahal tiap minggunya yaitu; sosis sapi.

Kali ini si-Manis kembali berulah dengan berbuat ‘dosa’, meski sedikit berbeda. Ia hamil muda, bukan hanya hamil, sejak sebulan yang lalu (pasca beberapa bulan sebelumnya saya usir) dia melahirkan atau kalau dalam bahasa Jawa disebut babaran bayi yang dikandungnya!. Dan kalian tahu berapa jabang bayi yang dilahirkannya itu? Lima!

Sempat kaget saya, saat memergoki si-manis dan kelima bayinya itu. Betapa tidak, selain kabar kehamilannya saya tidak tahu, waktu melahirkannyapun tidak pernah memberi kabar. Padahal, pasca ‘pengusirannya’ saya sempat beberapa kali berjumpa dengannya. Waktu itu, saya hanya sebatas menyapa singkat dan sama sekali tidak melihat perubahan fisik yang berarti.

Kini, Lima jabang bayi telah lahir kedunia dari laki-laki yang entah dari mana datangnya.

Si-Manis sendiri memilih tempat melahirkan di rumah tetangga saya yang orang Turki. Untung saja, orang Turki itu begitu baik dan sayang padanya, tidak seperti si-Afgani yang membenci dan suka mengusir itu.

Beberapa hari pasca melahirkan, saya sempat beberapa kali menengok mereka. Membawa bekal makanan dan tentunya susu. Tetangga saya orang Turki (OT) ini juga tak kalah sigap, berbagai merek susu sudah ia siapkan termasuk juga makanan-makanan kemasan. Namun sayang, si-OT tidak begitu memahami karakter si-Manis dengan baik, bahwa dia tidak terlalu menyukai makanan kemasan, ia lebih memilih sosis sapi yang lebih raw dan tentu lebih nikmat.

Kemudian, pasca si-OT pulang kampung karena sudah memasuki musim liburan. Otomatis si-Manis tidak ada yang merawat, makanya ia berusaha mencari tempat persinggahan yang baru.

Tidak lain tidak, rumah kami yang dituju. Untungnya, tetangga saya yang Afgani sudah balik ke negaranya, jadi tidak akan ada lagi yang akan mengusiknya. Saya sendiri, juga sudah melupakan dosanya dimasa lalu. Membukakan pintu, menyiapkan tempat dan menuangkan susu untuknya dan ke-empat bayi mungilnya. Loh kok empat? kemana yang satu? kemungkinan besar si-OT telah mengadopsi dan membawanya pulang kampung.

Kini, dirumah kami ada empat jabang bayi yang tak hanya pandai berlari, tapi bahkan memanjat pohon sekalipun. Dan pagi tadi, saat saya kembali menyapa mereka sambil membawakan sekotak susu -sisa sahur semalam- saya hanya mendapati 3 bocah-bocah yang sedang unyu-unyunya itu. Kemana gerangan yang satu?

Saya panggil-panggil bahkan dengan kode-kode khusus, tapi nas tak ada sahutan. Si-Manis yang notabene induk aselinya juga nampak biasa-biasa aja. Tak berusaha mencari. Melihat itu, saya sempat ber-suudzon jika peristiwa lenyap satu bocah untuk kedua kalinya ini, adalah hasil adopsi yang tidak sesuai UU mirip kasusnya Angeline.

Beranjak dhuhur, saya berinisiatif keliling blok, soalnya sewaktu shalat dhuha dikamar tadi, saya samar-samar mendengar ada bocah kecil yang seperti berteriak-teriak ketakutan. Dan benar firasat saya, ternyata si-bocah -anak ke-empat yang masih tersisa dari si-Manis- terkunci secara tidak sengaja di rumah tetangga sebelah, yang lagi-lagi penghuninya sedang pergi.

Setelah lapor ke satpam, tak lama bocah ingusan itu berhasil dikeluarkan dan kembali berjumpa dengan induknya. Saya-pun lega, karena bagaimanapun saya ingin memanfaatkan waktu demi melihat proses tumbuh-kembang mereka sebelum saya balik ke Indonesia. Ya, semacam memanfaatkan quality time lah. 😀

Berikut foto-foto si-Manis dan ketiga anaknya (diambil sebelum anak yang ke-empat ditemukan).

Kisah si-Manis silahkan baca di sini

Advertisements

17 thoughts on “Si-Manis, Hamil Muda dan Babaran

    • Pake banget mba… apalagi semenjak beberapa hari menginap diberanda kamar, anak kucing yg masih kecil itu mulai paham kode-kode panggilan. Lucu sekali saat di siul lalu mereka lari datang berhamburan… 🙂

  1. Si Manis, anaknya ada 4, Si Ikinci, Si Birinci, dan Si Ucuncu. Yang hilang itu namanya Si… Si Bocah #okesip. Apa ada arti khusus dengan tiga nama yang disebutkan di awal itu, Mas? Aaak, ini memang lucu banget tapinyaaa. Adorable! Kalau saya ada di dekat kucing-kucing kecil itu, bakal saya ajak main terus saya elus-elus perutnya, seharian! Btw bulunya Si Manis nurunnya ke si Ikinci ya Mas, habisnya dia mirip banget, sadar kamera pulak :haha.

    • Sebenarnya anaknya lima mas, tapi skrng terisisa 4. Nama-namanya, Birinci, Ikinci, Ucuncu dan Dortuncu, jadi yang terakhir bukan ‘bocah’ tapi dortuncu. Ngga ada arti khusus dengan nama2 itu, saya hanya berhitung (dalam bahasa turki) lantas kemudian jadi nama sekalian hehe

  2. Kasian anak yang kelima, diadopsi OT sendirian. Harusnya diajak juga satu saudaranya biar nanti ada temen main 😥

  3. wah mas, ntar kalau dikau balik ke indonesia mereka siapa yang ngasih makan tuh ya? kasihan juga kalo nanti gak ada yg ngurusin 😦 gimana kalo dibawa aja 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s