Sustainable Ibadah

Perkembangan teknologi saat ini bak mengedipkan mata sambil duduk di moncong putih seekor banteng concorde. Concorde adalah pesawat penumpang komersil yang diproduksi oleh BAC untuk Air France dan British Airways. Pesawat super jet ini diklaim sebagai pesawat tercepat dalam sejarah pesawat penumpang, meskipun hari ini kita hanya bisa melihatnya di museum karena sejak tahun 2003 pesawat tersebut resmi pensiun.

Pesawat dengan mocong super runcing itu memiliki kecepatan penuh yang mencapai 2.04 Mach. Jika satu mach sama dengan kecepatan suara, maka pesawat ini mampu melaju dengan melipat gandakan kecepatan suara bahkan lebih. Jadi, coba bayangkan Anda duduk di moncong itu cukup satu kedipan saja, apa yang terjadi?

Ya, kita dan teknologi juga seperti itu. Relativitas kedipan (waktu dan kapasitas individu) kadang tak mampu mengimbangi perkembang teknologi. Siapa yang tak mampu mengimbangi (diluar) akan terpental, tapi bagi mereka yang mengendalikan (didalam) akan mendapat banyak manfaat.

Bicara tentang perkembangan teknologi di bidang energi, saat ini dunia manatap pada era yang disebut sustainable energy atau energy for sustainability. Era dimana energi yang terfokus pada money oriented perlahan mulai ditinggalkan setidaknya oleh para ilmuwan, akademisi dan juga segelintir praktisi (pengusaha).

Konsep sustainable energy (energi berkelanjutan) dibangun atas dua pilar penting, yaitu; effisiensi (quality) dan renewable energy (source). Peningkatan effisiensi artinya peningkatan kualitas pada sebuah sistem, yang artinya jika kualitas suatu sistem baik tentu saja output yang dihasilkan akan lebih maksimal. Sedang pilar kedua lebih berorientasi pada sumber dari mana energi itu berasal, sumber energi itu bak anugerah dari Alloh yang manusia tidak mempunyai hak preogratif untuk menciptakan, selain hanya menkonversi atau mengembangkannya, karena semuanya pada dasarnya sudah tersedia di alam. Nah, sumber energi yang baik itu sumber yang bisa diperbaharui, bersih dan tentu saja ramah terhadap lingkungan.

Jadi, andai kata dua pilar itu kuat dalam menyokong konsep sustainable energy, maka implikasikanya tidak hanya terbatas meningkatnya profit tapi juga terjaminnya keberlangsungan teknologi, sosial dan alam, dalam jangka waktu yang tidak pernah kita bayangkan.

Dalam hal ibadah, kita juga mengenal konsep ini. Sustainable dalam beribadah, Islam menyebutnya sebagai barokah (البركة) atau berkah. Berkah dalam konsep Islam didefinisikan sebagai kebaikan yang bertambah-tambah atau nikmat yang langgeng. Kalau kata Imam Nawawi, berkah memiliki dua arti: (1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan. Ya, berkah itu sebuah nikmat (kebaikan) yang tidak bersifat temporal melainkan abadi atau berlaku terus menerus.

Lalu, bagaimana agar bisa mencapai keberkahan ibadah atau ibadah yang sustain?

Berdasar analogi dan konsep sustainable energy yang sudah saya sebut sebelumnya, maka sustainable ibadah juga memiliki dua pilar utama, yaitu dari sisi kualitas dan sisi sumber.

Dalam keberkahan kita harus memenuhi kriteria high quality dalam ibadah, salah satu poin utamanya adalah tentang ikhlas. Ikhlas artinya kita mendasarkan amal hanya semata-mata karena ridho Alloh, bukan yang lain. Sedang sumber disandarkan kepada sumber dari mana suatu amal, apakah dari sumber-sumber yang bersih (Quran dan sunnah) atau dari yang lain. Sumber disini juga tidak terbatas hanya pada aturan-aturan pokok, tapi juga sumber yang real. Seperti contohnya, saat makan dalam mencapai keberkahan ibadah kita harus teliti dari mana makanan itu berasal, halal dan toyyib tidak, dan seterusnya dan seterusnya.

Sehingga, seandainya kita mampu memenuhi dua hal itu, Insyallah kebaikan-kebaikan yang kita lakukan maupun yang kelak kita dapatkan akan terus langgeng sampai di ujung hidup kita, atau bahkan sampe akherat kelak yang abadi. Wallahu’alam bissawab

Bize Ramazan mubarek olsun. Semoga Ramazan kita barokah.

Advertisements

12 thoughts on “Sustainable Ibadah

  1. Mas, ganti nama blognya yak? :hehe. Saya baru sadar, nama blognya beda, kalau tidak ada komentar soal nama-nama kucing-kucing lucu itu :hihi.
    Buat yang ini, saya setuju, ibadah itu mesti tulus ikhlas, kalau tidak ikhlas itu selalu akan ada catatan yang nanti berujung kayak kita semacam ditegur begitu dengan cara yang paling convenient tapi sangat menyadarkan, soalnya saya sudah mengalami beberapa kejadian seperti itu dan rasanya makjleb banget :haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s