Dokter Mercon

dokter

Ilustrasi dari family.fimela.com

Pertanyaan khas kaum dewasa yang sering ditanyakan ke anak-anak adalah ‘apa cita-cita mu?’ atau ‘besok kalau sudah besar mau jadi apa?’.

Begitu juga dengan saya, orang dewasa di sekitar saya, dari Pak lik dan isteri, Pakdhe dan isteri, tetangga, teman bapak seringkali menayakan pertanyaan itu. Sayapun sudah mempunyai jawaban mantab, langgeng tidak berubah sampai beranjak SMA.

“Aku ingin jadi dokter!” jawabku penuh keyakinan.

Dokter? kenapa harus dokter? terlalu mainstream kedengarannya.

Ada sebuah kejadian bersejarah mengapa dokter menjadi pilihan saya. Bahkan, kalau telapak tangan kiri saya buka akan teringat kejadian bersejarah waktu itu.

Waktu itu adalah bulan Ramadhan persis seperti sekarang. Saya sendiri masih belum masuk TK kala itu. Ibuk yang biasa menemani saya kala beliau di rumah, kadang sesekali di ajak ke pasar kalau hari pasaran. Yu Lasmi, rewang yang membantu Ibuk merawat saya juga sudah pensiun alias tidak lagi bekerja di rumah kami. Untungnya, Mas Sus (kakak saya yang paling besar) masuk sekolah siang hari. Jadi, kalau Ibuk sedang repot berdagang di pasar, maka Mas Sus yang menjaga sampai sebelum dhuhur, setelah dhuhur kakak kedua atau ketiga yang bergantian menemani itupun kalau mereka langsung pulang setelah sekolah selesai. Selebihnya saya dibiarkan sendiri. Karena Bapak punya pekerjaan di Jakarta, yang pulang dua bulan sekali kadang lebih.

Nah, kalau sudah sendiri ini saya mbolang kemana-mana. Ini yang ditakutkan Ibuk. Sampai ketika saya kenal dan sering main ke rumah Mas Nonit, anak juragan emas di kampung saya. Seperti anak-anak di jaman itu, dikala ramadhan tiba masing-masing anak pasti berlomba-lomba menyalakan petasan (mercon), dan begitu pula dengan Mas Nonit. Namun, meski dia itu seumuran dengan kakak saya yang ketiga tapi dia ini tipe orang penakut, sering kali dia beli mercon tapi tidak berani menyalakan lalu kemudian meminta orang lain untuk menyalakan.

Hingga suatu ketika, saya menjumpai Mas Nonit mencoba menyalakan mercon, dengan takut-takut ia menyalakan sumbu. Namun, ia gagal, mercon tidak jadi meledak meski sumbu sempat terbakar sedikit. Lantas, Mas Nonit ini pergi begitu saja dengan meninggalkan mercon yang ukurannya cukup besar bagi anak seusia saya waktu itu.

Saya ambil mercon itu, merek merconnya adalah Leo, bewarna merah dengan corak kebiru-biruan dengan gambar seekor leo yang sedang berlari. Mercon Leo adalah petasan paling besar yang pernah saya temui kala itu.

Mercon itu saya bawa pulang, saya simpan di tempat rahasia biar tidak ketahuan Ibuk atau mas-mas saya. Ya, kala itu saya sering diremehkan tentang urusan mercon atau long bambu (petasan yang terbuat dari bambu petung berbahan bakar kerosin atau karbit). Tiap kali mereka main mercon, saya dipaksa jadi PMS (penonton mercon setia atau bahkan s-nya itu artinya ‘selamanya’). Jadi, nemu mercon Leo itu rasanya seperti baru saja menemukan harta karun.

Esok harinya, saya diajak Ibuk ke rumah nenek saya Mbah Ronggo. Kalau pas tidak hari pasaran Ibuk memang sering bantu-bantu di rumah simbah yang punya toko sembako. Rumah simbah sangat besar, terdiri dari beberapa bangunan. Ada joglo, bangunan utama, gudang, kandang kuda dan juga bangunan toko di bagian paling depan.

Pas Ibuk dan orang-orang sedang sibuk di depan, saya menyelinap ke belakang menuju halaman joglo yang cukup luas. Saya rogoh kantung celana saya, harta karun terbesar saya keluarkan.

“Ah! perlu korek” batin saya, tapi kalau minta Ibuk atau simbah pasti nanti bakal ditanyai macam-macam. Kemudian, saya menyelinap ke dapur untuk mengambil bara api, rewang simbah yang di dapur tak kuasa melarang cucu dari simbah yang katanya masih mempunyai garis keturunan dari Keraton Mangkunegaran Solo ini.

Bara api di tangan kanan, mercon Leo di tangan kiri. Sempurna!. Saya mulai menyulut sumbu dengan bara api, dengan posisi mercon saya gengam dengan tangan kiri. Dasar anak-anak, mercon itu sekonyong-konyong meledak keras.

Sayapun langsung shock, bukan karena rasa sakit tapi karena suara ledakan yang keras. Setelah beberapa saat, saya memandangi tangan kiri saya yang gemetar, tangan saya sudah berubah merah kebiru-biruan. Tidak sakit, hanya terasa berat, berat sekali rasanya. Saya juga tidak menangis kala itu, karena memang tidak terasa sakit atau perih sedikitpun.

Namun, perlahan tangan yang awalnya kering mulai basah oleh darah yang kemerahan, dan rasa berat itu mulai berubah perih. Saat itu juga, saya langung berlari ke depan sambil nangis teriak-teriak panggil Ibuk saya. Ibuk dengan sigap menghampiri saya, melihat tangan saya lalu membungkusnya dengan kain.

Simbah langsung meminta Ibuk untuk membawa saya ke puskesmas yang berjarak 300 meter dari rumah simbah. Sambil sedikit berlari dan menggendong saya, kami menuju puskesmas.

Di puskesmas, saya tidak langsung dilayani padahalkan ini seharunya kasus emergency. Ibuk diharuskan daftar dan anteri seperti pasien biasa. Saya yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit, lalu saya menjerit-jerit di ruang tunggu puskesmas.

Doktere endiiii, doktere endiii….. Pak Djarot endiii,… Obate endiii” 

Pak Djarot adalah dokter umum satu-satunya di puskemas kami. Saya sudah tahu dengan pak Djarot sebelumnya, karena beberapa kali pernah diajak ibuk ke puskesmas. Pak Djarot ini orangnya gemuk, berkacamata dan suka guyon.

Mungkin karena tidak tahan dengan jeritan saya, pak Djarot keluar dari ruangannya. Tak langsung ditangani, saya justru digodain sambil sedkit diledekin (mungkin maksudnya menghibur kali ya?).

Sejak peristiwa itu, saya jadi terkenal saentero kampung dan puskesmas. Di puskesmas, tiap kali kontrol pasti saya diledeki oleh suster-suster karena pernah meraung-raung di tempat itu, tapi kalau di kampung saya populer karena satu-satunya anak seusia belum TK yang berani menyalakan mercon leo dan langsung di tangan lagi. Hebat! lebih hebat dibanding mas Nonit!.

Dan sejak itu, sejak kejadian mercon meledak di tangan kiri dan Pak Djarot yang tak kunjung melayani, saya bertekad untuk menjadi dokter! dengan tekad suksesi atas dokter satu-satunya di kampung kami itu.

Namun, jalan hidup memang tidak selalu linear. Ditengah perjalanan saya malah semakin codong ke bidang Fisika, bukan Biologi kalau memang jadi dokter. Apalagi kini, saya semakin menyukai bidang saya sekarang. Jauh sekali dengan cita-cita waktu kecil. Seakan tidak mungkin untuk mengejar cita-cita jadi dokter di usia sekarang ini. Apalagi seorang dokter diharuskan banyak menghafal, dan itu yang paling tidak saya suka.

Akan tetapi, seorang kawan pernah berkata.

“Kalau ingin jadi Pak Dokter, kau tak harus sekolah kedokteran”

“terus?”

“Kau cukup jadi doktor, atau alternatifnya nikah saja dengan Bu dokter ntar kau boleh dipanggil Pak dokter, atau kalau ngga kunjung nemu bu dokter cari aja bu doktor, banyak kok”

Aha!

~Dan kamu, apa cita-cita masa kecilmu? ^_^

Advertisements

13 thoughts on “Dokter Mercon

  1. Malah lebih tertarik dengan energi yang terkandung di dalam mercon, yang bisa membuat tangan kirimu sampai jadi membiru dan memerah sedemikian ya, Mas :hehe. Saya pikir sampai sekarang itu masih meninggalkan bekas, makanya setiap membuka tangan kiri maka kejadian itu akan terulang kembali di dalam kepala? Makanya jangan nakal, Mas :haha *kemudian kabur*.

    Dulu itu sembuhnya berapa lama, Mas? Syukurlah kalaupun meninggalkan luka, hanya luka di kulit… bukan luka di hati #eh.

    • Ledakan mercon itu akibat reaksi kimia dari bahan tertentu diantaranya potasium nitrat, arang dan belerang. Kalo si-leo ndak tau dari apa…
      Iya, di jari-jari tangan sebelah kiri terutama jempol masih ada bekas luka. Lama sembuhnya ngga inget, tapi hikmahnya pas gede justru kuliah jurusan ‘bom’ Teknik Nuklir hehe (padahal aselinya bukan gara2 itu)

  2. saya mah ndak ingat dulu kecil pengen jadi apa XD. pengen jadi dokter kayaknya pernah soalnya kalau ditanyain orang, “kalau gede mau jadi dokter ya?” yaudah di iya in aja. pengen jadi penulis iya juga, soalnya waktu SD udah baca Pram trus bikin-bikin puisi, ngga dilanjutin waktu SMP, soalnya katanya cupu banget. sekarang udah gede nyesel kenapa hobi nulis puisi itu ga dilanjutin aja, ngapain juga dengerin omongan orang lain ~

    btw wah ada template baru nih! :))

      • saya juga ngeri .. waktu baca isi novel-nya pram, yang cerita dari blora. ternyata orang indonesia zaman dulu gitu .. hahai.

        sudah kak, dikit-dikit hehe.

      • Iya, soalnya mbah pram ituu sastrawan realisme sosial… siap2 nahan napas aja kalau anak SD udh baca karya2nya hehe

        Oya? nanti aku kepoin deh puisi2nya… lebih oke lagi kalo dibikin musikalisasi dan di uplod di soundcluod 😀

  3. Haha :”D anak kecil sih ya, maklum.

    Dulu aku jg pengen jd dokter, sejak sd sampai sma. Waktu sma, suka banget sm biologi, tapi fisika ga suka rasanya biasa aja.
    Eh taunya, pas pilih kuliah di snmptn, iseng mau coba fti-itb, trs fk-nya ditaruh pilihan kedua. Dann jalan hidup akhirnya adalah di t.industri 😀

    • Aha, ada yang mantan ingin jd dokter juga haha…
      ya begitulah jalan hidup Mba, makin kesini kita semakin menyadari bahwa hidup perlu sesekali berbelok arah. Dan itu penting bahkan harus, karena boleh jadi di depan ada tebing yang menjulang.

  4. Aku juga pengen jadi dokter, bahkan pas SD bikin kartu, macam KTP, ditempelin foto terus ditulisin: dia adalah seorang dokter yang akan mengobati orang sakit. Kocak banget deh.

    Sekarang saya gak jadi dokter, tapi emang pas SMA sudah gak minat lihat IPA. Gak menarik.

    • Beneran ya, cita-cita dokter emang terlalu mainstream hehe
      Bener Mba, SMA memang masa mulai menentukan arah sudah mulai ngerti karakter diri sendiri… makanya banyak transisi di masa itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s