Lombok: The Island of Hospitality [2]

Tulisan ini semacam tulisan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang bertajuk The Island of Hospitality, dan kisah kali ini adalah bagian kedua dari ke-hospitality-an Lombok. Sekaligus tulisan ini adalah sebagai (cicilan) pelunasan janji, janji terhadap orang-orang yang telah berbaik hati dan juga pada diri sendiri untuk menuliskan pengalaman perjalanan selama di Lombok dua tahun silam. Baru sempat sekarang dan sebelum ingatan semain kabur. Semoga tulisan ini sebagai pengingat bagi saya, anak-anak, cucu-cucu saya kelak dan tentu bagi umat manusia seluruh dunia *halah* bahwa si ramah dan si tamah hadir di segenap penjuru bumi. Let’s do some travelling!

***

Suatu ketika, disaat mentari sudah makin termaram dan bebintang timur mulai nampak. Saya dan Risal mulai beranjak meninggalkan Pantai Mawun, pantai yang sore menjelang malam itu resmi menjadi pantai pribadi kami (karena tidak ada pengunjung lain). Tidak ada penerangan di pantai itu, meski di sana berdiri beberapa gubuk  yang terletak di dekat pohon besar yang saya tidak tahu jenisnya apa. Pohon itu selain sebagai perindang, juga ikon dari pantai Mawun. Pantai ini luar biasa indah, terindah ketiga dari belasan pantai yang pernah saya kunjungi dua tahun lalu itu.

DSC_8690

Sunset di atas bukit sebelum Pantai Mawun

Selain tidak ada listrik, perkampungan dari dan menuju pantai ini juga sangat jarang. Jadi, sore itu kami memutuskan untuk balik menuju arah pantai Kuta lalu belok kekiri ke arah kota Mataram. Tujuan kami bukan ke ibu kota NTB itu, tapi sebuah kota kecamatan di daerah Lombok Tengah yang tidak terlalu jauh dari garis pantai. Karena esok harinya kami harus mengejar sunrise di atas bukit dekat Pantai Kuta.

DSC_8558

Pantai Kuta

Sejak awal, saya dan Risal sudah sepakat untuk hotelless alias ngemperan alias modal numpang di emper-emper toko atau kalau beruntung di serambi masjid. Kami tak takut dingin, soalnya kami berdua juga udah siap sleeping bag meski tanpa tenda.

Selepas dari perempatan di pantai Kuta, kami berjalan pelan sambil melihat-lihat masjid di pinggir jalan yang kira-kira cukup representatif untuk diinapi. Lebih dari 30 menit sejak perempatan itu, kami tidak kunjung menjumpai masjid yang diinginkan. Sebenarnya sih ada beberapa, tapi sedikit menyeramkan (minim penerangan dan jauh dari pemukiman). Hingga akhirnya, kami menemukan masjid yang cocok. Masjid itu cukup besar, berpagar dan yang penting ada WC meski tidak ada penerangan di dalam WC-nya. Tak lama setelah kami istirahat sejenak di serambi masjid, muadzin mengundangkan adzan Isya, kemudian tak lama beberapa jamaah mulai berdatangan. Malam itu hanya ada dua shaf di belakang imam. Selepas shalat, dzikir saya sengaja saya lama-lamain sambil menunggu sang imam. Kami berencana meminta izin sang imam terlebih dahulu sebelum menginap di masjid malam itu.

Setelah sedikit perkenalan singkat, obrolan kami mengarah tentang Jogja. Ternyata sang Imam adalah alumnus salah satu kampus di Jogja. Persamaan ‘nasib’ antara saya dengan sang Imam itu menjadikan obrolan kami bak kawan lama yang sedang bernostalgia. Kami menjadi begitu akrab, ini bukti bahwa Jogja memang Istimewa, kotanya dan manusia-manusianya.

Lantas kemudian, kami ditawari untuk menginap di rumahnya saja ketimbang di masjid tersebut. Bak kesihir, kami langsung setuju.

Rumah sang Imam ternyata sangat luas meski model bangunan lama, kami ditunjukkan ke sebuah ruangan yang cukup luas di dalam rumah tersebut, ruangan itu tidak memiliki dipan untuk tidur kecuali sebuah kasur karpet. Katanya, kamar itu bekas kamar adiknya yang sekarang bekerja di Jakarta. Selepas menaruh barang-barang, kami diajak ke ruang keluarga yang terletak di bangunan yang berbeda. Di tempat lesehan itu sudah terhidang berbagai kue khas Lombok dan teh hangat. Ibunda sang Imam-lah yang menyiapkan itu. Ditemani kue-kue itu kami melanjutkan obrolan, banyak hal yang kami bahas dari Jogja hingga budaya Lombok. Yang salah satunya adalah topik pernikahan yang khas di suku Sasak (suku aseli Lombok). Adat pernikahan itu saya menyebutnya Nikah Culik. Mungkin suatu saat nanti akan saya bahas lagi lebih detail tentang adat pernikahan yang unik ini.

Beranjak jam sembilan malam, saya dan Risal ditawari sang Imam untuk datang ke kantor Kepala Desa, bukan untuk didata ataupun diinterograsi, bukan. Melainkan diajak menghadari semacam pesta penutupan atau pembagian hadiah lomba tujuh belasan.

Sebuah suguhan yang tak terduga, mendapat hiburan adat gratis dengan undangan khusus. Asal Anda tau, sang Imam ini ternyata tokoh warga setempat dan sekaligus orang berdarah biru yang bergelar ‘Lalu’. Keramah-tamahan warga desa tersebut sangat kental, meskipun kami tidak saling kenal sebelumnya. Sambil menonton pertunjukkan, seperti halnya dikampung-kampung di Jawa, snack-snack hidangan kini sudah berganti dengan lintingan putih yang cara menikmatinya dengan dibakar itu. Rokok. Ya, rokok kini sudah menggantikan peran klepon, risol, kacang mete, emping melinjo dkk.

Berhubung saya dan Risal sama-sama tidak merokok, kami menolak halus tawaran mereka. Ya, kami menikmati hiburan hanya ditemani segelas air mineral. Mendekati jam 10.30 malam, acara puncak 17an tersebut belum ada tanda-tanda selesai. Saya pamit ke pak Imam untuk keluar sebentar untuk mengisi bensin, padahal niat kami sebenarnya adalah mencari warung nasi.

Ya, jelas kami sangat kelaparan. Makan nasi terakhir kami seingat saya siang tadi, padahal kami sudah berkunjung desa adat Sade, masjid Kuno hingga susur pantai-pantai Lombok Selatan mulai dari pantai Batu Payung hingga pantai Mawun seharian. Dan nasnya, waktu mendapat sajian dari Ibu sang Imam tadi, saya masih membawa sifat kejawaan saya, ewuh pakewuh -sungkan untuk makan banyak-banyak. *nasib*

DSC_8656

Pantai Batu Payung

Kami bolak-balik, muter-muter di sekitar daerah tersebut tapi tak kunjung menemukan warung makan. Ternyata, saya terlalu meremehkan Lombok!. Saya berpikir, Lombok itu seperti Jogja yang warung makan (minimal angkringan) bisa di jumpai sampai larut malam bahkan sampai pagi sekalipun di manapun.

Dan benar saja, kami akhirnya tidak mendapati warung makan yang dicari. Kami hanya mendapati warung kelontong kecil yang bentar lagi juga akan tutup. Alhamdulillahnya toko tersebut menjual roti tawar, sehingga perut kami malam itu terselamatkan dengan roti tawar mentah. Kenapa mentah? karena kami memakannya tanpa campuran apapun, tidak pakai coklat ataupun selai kacang apalagi pakai dibakar. *nasib*

Oya, sebelum kami cabut dari warung tersebut kami beli rokok dua bungkus, bukan buat kami sendiri melainkan buat sang Imam yang kebetulan hobi merokok, yah itung-itung sebagai tanda terima kasih karena sudah diizinkan menginap di rumahnya. Semoga dua bungkus rokok itu menjadi semacam sedekah, meski kami sendiri tidak suka menikmatinya.

Pagi-pagi buta kami sudah bersiap, karena saat itu juga kami akan check-out demi mengejar sunrise di bukit dekat Pantai Kuta. Kami pamitan hanya dengan berkirim SMS, karena takut membangunkan pemilik rumah. Namun, di malam hari sebelumnya kami sudah menyampaikan tentang rencana check-out pagi-pagi sekali, sehingga gerbang depanpun oleh pemilik rumah tidak dikunci. Selain itu, kami menghindari kalau tiba-tiba pemilik rumah menarik bayaran hehehe, ngga kok orang-orang Lombok itu super duper ramah dan baik hati.

Kami cabut dari rumah tersebut, pagi itu saya yang mendapat jatah di depan. Skuter matik sewaan saya kebut dengan kecepatan penuh, jiwa racing saat kuliah S1 dulu masih tersisa ditambah jalanan Lombok yang terkenal mulus.

Dan akhirnya, perjalan susur pantai-pantai Lombok kami lanjutkan.

DSC_8831

Skuter sewaan dan pohon besar di Pantai Mawun di esok harinya

DSC_8822

Pantai Mawun di esok harinya (masih jadi pantai pribadi, soalnya sepi tidak ada pengunjung)

Hari ketiga, di suatu musim panas #JelajahLombok

Advertisements

8 thoughts on “Lombok: The Island of Hospitality [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s