Pengalaman Tiga Tahun Punya Adik

persaudaraan

Ilustrasi dari shterate.com

“Buk, kulo nyuwun dedek” Ibuk hanya tersenyum mendengar permintaan yang tiba-tiba itu.

Sewaktu SD. Saya pengin sekali punya adik. Gimana tidak, di saat teman-teman seumuran pada punya adik, hanya saya sendiri yang tidak punya. Sementara itu, mereka dengan mudah bisa main-main dan sesekali nyengek (bikin nangis) adik mereka. Ya, gimana lagi. Sebagai anak bungsu, dimata saya, sayalah orang paling apes di dunia. Korban aniaya sepanjang masa. Padahal kalau dipikir, jadi anak bungsu itu banyak enaknya. Salah satunya, paling dimanja oleh orang tua. Tapi ya, namanya anak kecil. Mana bisa berpikir sampai segitu, pasti ada saja permintaannya.

Selepas SD, lantas kemudian saya paham makna dibalik senyuman Ibuk. Sebab karena, Ibuk sudah dalam program KB yang tidak mungkin punya anak lagi. Dengan kata lain, tidak akan ada lagi kesempatan punya adik. Kecuali kalau, Bapak nikah lagi, tapi untungnya bapak saya tipe lelaki setia pada satu isteri.

Suatu ketika, saat akhir semester dua, om saya tiba-tiba menelpon. Intinya, saya diminta menjemput anak sulungnya. Karena, ia berencana ingin menyekolahkan anaknya (lulus SMP) di Jogja. Yang artinya, sayalah yang akan ‘mengasuh’ sepupu saya itu. Keputusan itu tidak lain, karena om saya ini takut kalau anaknya bakal salah pergaulan, seandainya anaknya dibiarkan sendiri dan sekolah di kampung tanpa ada yang mengawasi. Kebetulan, om saya ini sedang merantau di Kalimantan. Saya dan sepupu sendiri, hanya beda 4 tahun.

Singkat cerita, jam 10 pagi tiba kembali di Jogja bersama adik sepupu. Lalu, saya tinggal dia di kosan sendiri. Sambil saya janjikan, sorenya saya ajak muter-muter Jogja sambil lihat-lihat calon sekolahnya kelak. Ya, hari itu agenda saya sangat padat. Sebagai mahasiswa baru, tentu semangat ngaktivis lagi kuat-kuatnya. Apalagi waktu itu, saya juga diamanahi di salah satu lembaga intra kampus.

Lalu, sore harinya saya balik lagi ke kosan. Agak telat dari yang saya janjikan. Kami hanya jalan-jalan sambil cari makan, tanpa sempat melihat calon sekolah sepupu saya itu.

Entah, karena kecewa saya biarin sendirian (cuma selama beberapa jam) atau memang orangnya tidak kerasanan, malam itu sepupu saya minta diantar pulang. Apalagi, sebelumnya ia sudah telepon ayahnya tentang hal itu. Om saya waktu itu, langsung minta saya mengantarnya pulang saat itu juga. Karena hari esoknya, adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru di kabupaten saya. Kalau berangkat pagi, takut tidak keburu. Tidak ada pilihan lain, jam 11 malam kami berangkat dari Jogja, sampai di kampung jam 2 pagi, yang apesnya waktu itu lagi musim hujan. Singkat cerita, malam itu saya tidak jadi punya adik asuh.

Kesempatan punya adik asuh, datang lagi setahun kemudian. Masih sama, yang satu ini juga masih sepupu. Anak om saya dari jalur Ibuk. Tapi kali ini, atas usul kakak saya yang ingin menyekolahkan sepupu saya ini di Jogja, karena daripada ia sekolah di kampung yang kualitas pendidikannya tidak begitu terjamin. Karena pada dasarnya, sepupu saya ini orangnya pinter, jadi sayang kalau dibiarkan di kampung takutnya tidak berkembang. Om saya juga setuju. Hingga akhirnya kami berangkat ke Jogja.

Adik sepupu saya ini bernama Roby, meski anak sulung ia anaknya cenderung polos, tertutup dan sedikit bicara. Kalau musim lebaran saja, ia seringkali hanya ‘sekedar’ nimbrung, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain yang lebih aktif.

Kemudian, ia akhirnya keterima di bekas sekolah saya dulu. Mulai dari mendaftar sampai hal lain saya yang ngurus, di administrasi sekolah tertulis nama saya sebagai wali murid. Jadi, kalau sewaktu-waktu sekolah ada perlu dengan wali murid maka saya yang biasanya mewakili. Mengambilkan raport dan seterusnya.

‘Mengasuh’ adik sepupu yang cenderung polos, irit bicara dan ditambah lagi saya sendiri tidak mempunyai pengalaman punya adik sebelumnya, tentu bukan hal yang mudah. Makanya, beberapa eksperimen pun saya lakukan. Beberapa pendekatan yang dilakukan di keluarga saya, juga coba saya terapkan padanya.

Saya mengajarinya hal-hal dasar untuk survival di perantauan, mulai dari bagaimana mengatur waktu dan uang, berani bicara dengan orang, ngaji, sampai mengajari bagaimana mencuci dan membersihkan bajunya sendiri. Ya, adik saya ini memang orangnya super polos. Tapi kelebihan adik sepupu saya ini, orangnya lumayan nurut, respectful dan suka sekali membaca bahkan termasuk kutu buku. Koleksi buku-buku saya pun, lahap dibacanya. Dan tentu saja ia orangnya hanif, tidak aneh-aneh seperti kebanyakan para abg sekarang ini.

Tahun pertama, mulai ada hasil. Ia mulai berani mengeluarkan uneg-uneg, meski masih sedikit tersisa sifat polosnya dan masalah manajemen waktu dan kamarnya juga masih suka asal-asalan.

Beranjak tahun kedua, saya mulai ajari ia tentang pentingnya mengetahui potensi diri, dan juga saya komporin dia untuk nyalon ketua OSIS atau kegiatan lain di sekolahnya.

Dan benar saja, di pertengahan tahun ia mulai berani ‘berkarir’ di beberapa ekstrakulikuler, dari tonti sampai pramuka bahkan ia berani bersaing sebagai calon ketua OSIS, meskipun pada akhirnya ia kalah suara. Meski begitu, ia tetap masuk sebagai pengurus inti. Saya sendiri justru kalah dalam hal ini, karena waktu SMA saya tidak ada niat nyalon ketua OSIS hehe.

Saat ia kelas tiga, mulai saya tanya tentang rencana ia ke depan termasuk rencana kuliah. Waktu itu ia masih suka bingung kalau ditanya tentang ini, persis seperti yang sering dialami anak-anak seusianya dalam memilih jurusan kuliah.

Kemudian, saya sarankan untuk memilih jurusan elins (elektronika dan instrumentasi) yang kebetulan di kampus saya juga ada. Kenapa? karena beberapa kali hape saya sempat jadi korban oprekannya meskipun kadang tidak kembali utuh, selain itu juga kata ayahnya sendiri pas ia pulang kampung juga sering otak-atik radio. Jadi paslah menurut saya.

Di penghujung kelas tiga, alhamdulillah ia mendapat tawaran beasiswa prestasi dari sebuah yayasan. Beasiswa ini, akan menanggung semua biaya dari biaya kuliah, uang saku bulanan sampai asrama. Setelah melalui beberapa kali seleksi, ia dinyatakan lolos. Saya sangat bersyukur sekali mendengarnya. Karena pengumuman tentang beasiswa ini langsung ke saya. Sebelum saya kasih tahu adik sepupu saya itu, saya ajak dia ke warung sambal langganan kami di sebelah utara FT UGM. Ditemani oseng-oseng mercon kami merayakan pencapain luar biasa itu. Bagaimana tidak, seleksi beasiswa tersebut sangatlah ketat dan hanya beberapa saja yang lolos secara nasional. Dan salah satunya yang beruntung itu, adik saya sendiri. Oya, selama tiga tahun itu juga saya berhasil mengubah selera makan dia, dari awalnya tidak suka pedas jadi suka pedas seperti saya. Apalagi kalau lagi masak, saya  pasti masak semua serba pedas, entah dalam batinnya tertekan atau tidak dalam hal ini. hehe

Jadi, cuma tinggal kampusnya aja yang belum. Sementara beasiswa itu mensyaratkan harus di terima di kampus-kampus utama, seperti UGM, UI dan ITB.

Maka ia memutuskan untuk mengambil jurusan elins (sesuai saran saya) dan pertanian (pilihan dia sendiri), semuanya di UGM. Dari persiapan sampai medaftar SNMPTN saya bantu kawal, karena waktu itu saya baru saja lulus, jadi cukup punya waktu banyak. Namun, sayangnya pas hari-H ia test, saya harus ke Jakarta untuk wawancara beasiswa S2. Untuk itu, rencananya motor saya kasih dia, biar besoknya dia gampang ke lokasi test. Waktu itu ia menyepeda atau jalan kaki kalo kesekolah, soalnya kosan kami dekat dengan sekolahnya.

Akan tetapi, sudah seperti qadratullah. Sore hari sebelum saya berangkat ke Jakarta saya mengalami kecelakaan. Saya sendiri cuma lecet-lecet, tapi motor saya kaya hati kalau terlalu sering di-php-in. Hancur. 😀

Sebelum berangkat ke Jakarta, saya ingetin lagi ke adik sepupu saya itu.

“Jangan tidur malam-malam, besok kamu harus berangkat pagi.”

Eh benar saja, ke khawatiran saya terjadi. Hari pertama, ia gagal mengikuti test SNMPTN karena bangun telat. Ya udah, hanya bisa pasrah. Meski katanya hari kedua ia yakin bisa ngerjain, tapi tetap saja peluangnya sangat kecil untuk lolos. Sedih sekali rasanya, seandainya ia ikut test lalu lolos kuliah di kampus yang sama di tempat saya dulu pernah kuliah plus dengan beasiswa penuh, rasanya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Karena berhasil membimbing anak orang jadi ‘orang’.

Pada akhirnya, sudah tidak ada peluang lagi, apalagi waktu itu UGM tidak membuka ujian mandiri lagi.

Meskipun sempat tertunda, ia kini kuliah di salah satu kampus di Jateng jurusan arsitektur. Jauh banget, dari elins ke arsitektur, tapi yang namanya orang pasti ada kalanya berkembang dan yang terpenting adik saya enjoy dengan pilihannya saat ini. Dan Alhamdulillahnya kini, ia dibimbing oleh orang yang lebih baik dan lebih berpengalaman dari saya, yaitu kakak sulung saya sendiri.

Hikmah:

1. Membimbing orang (meski sepupu sendiri) yang ketemu besar, bukan hal yang mudah. Apalagi kalau kita tidak pernah dekat sebelumnya. Jadi tak terbayang, bagaimana pusingnya para guru yang mempunyai murid berjumlah puluhan atau bahkan ratusan, yang karater muridnya masing-masing tentu berbeda-beda. Jadi, mulialah kau para guru dan calon guru.

2. Saya banyak belajar hal dari pengalaman tiga tahun itu, mulai dari belajar memahami personal seseorang, cara komunikasi dll, ini penting dalam proses-proses rekayasa sosial.

3. Anak seusia SMA punya perubahan yang teramat cepat atas respon lingkungannya. Jadi kalau misal, kalian punya adik yang mungkin susah diatur atau bandel maka perlu sesekali diubah cara kita berkomunikasi dengan mereka. Bukan mereka yang salah, tapi cara komunikasi kita yang mungkin kurang tepat.

Itu saja, saya hanya berdoa semoga adik saya itu sukses dengan studinya dan menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Bagaimana dengan kalian? punya pengalaman yang sama?

Advertisements

11 thoughts on “Pengalaman Tiga Tahun Punya Adik

  1. Mendidik adik sendiri saja saya merasakan banyak tantangannya, apalagi adik ketemu gedhe ya mas. Tulisan dan pengalamannya keren, thanks for sharing 😀

  2. hadeuhh kl ditanya ngedidik adik mba, mau teriak rasanya Mas.
    Aku sama adekku beda jarak usia 11 tahun, bayangin dong masa nya dia udah jauh beda banget sama aku kan, dan apa yang dia lakukan kebayang sama aku krn dulu aku pernah ngalamin, jadi kl dia boong dikit aku tau hahaha.
    Tapi yah mmng kita harus sabar dan cari cara komunikasi yang benar agar dia mengerti, krn nggak semua org bisa dididik dengan cara yang sama 🙂

  3. Kalo aku pingin banget punya kakak cowok. Kalo adik sih ada 2, dan kakak cewek satu. Kesannya kalo punya kakak gitu enak ada yang belain kalo kena bully hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s