Namanya Amira

classicalite-recording-news-child-singer-amira-releases-her-first-album-of-opera-arias

Amira begitu orang biasa memanggilnya. Jelas, jelas bukan yang lagi duduk di ayunan itu. Kalau yang itu, namanya Amira Willighagen penyanyi cilik musik-musik opera yang super epic dari negeri yang pernah menjajah bangsa kita 3.5 abad lamanya.

Amira yang satu ini adalah seorang perempuan cantik secantik namanya, bahkan lebih cantik. Saya sendiri belum lama mengenalnya, saya justru lebih dahulu mengenal Ibu dan Ayahnya ketimbang si-gadis kelahiran bulan Juni ini. Terutama Ayahnya, saya mengenalnya secara pribadi dalam rentang waktu yang cukup lama, meskipun beberapa waktu kebelakang kami jarang sekali bersua, kecuali hanya di ujung telepon. Sesekali ia juga memberikan nasehat, menceritakan pengalaman-pengalaman atau sekedar bertanya kabar, persis yang dilakukan oleh Bapak saya.

Amira dan saudaranya seperti halnya saya dengan mas-mas saya. Kami sama-sama empat bersaudara dan sama-sama anak bungsu, namun perbedaanya kalau Amira dan saudaranya adalah semua perempuan, sedangkan kami adalah laki-laki semua. Seakan seperti sebuah takdir. Iya, apalagi kalau bukan takdir.

***

Di suatu masa, ayah Amira menelpon saya. Percakapan kami kurang dari semenit setelah itu putus, sebab ternyata ia lupa mengisi pulsa. Percakapan antar dua negara memang tidak semurah kalau dibanding di satu negara. Saya kemudian membuka laptop, mengaktifkan internet, alhamdulillah credit skype masih lebih dari cukup. Lalu, saya telepon balik, ya siapa tahu ada hal penting.

“Halo… salamualykum, gimana kabar?”

“Wa’alaykumsalam, alhamdulillah sae Mas. Panjenengan pripun?

“Alhamdulillah, aku yo apik-apik. Keponakanmu nambah siji maneh

“Alhamdulillah, cowok apa cewek Mas? beratnya berapa? namanya siapa?”

Sik-sik alon-alon waelah haha…”

Di ujung telepon malah tertawa. Dari suaranya terdengar, tersirat rasa lega sekaligus bangga. Ya, dialah Mas Sus. Kakak tertua di keluarga kami. Saya menganggapnya lebih dari seorang kakak kandung. Lebih-lebih dahulu, saat bapak sering keluar kota. Ke-gentle-an sebagai anak sulung ia buktikan saat ia masih duduk di bangku SMA (saya waktu itu masih SD). Ia melabrak balik rumah tetangga, menggedor pintu rumah tetangga yang letaknya hanya berbatasan kebun dan rimbun bambu. Sebab karena, Ibuk dipersalahkan tetangga itu tanpa sebab. Gegara, listrik tetangga yang notabene numpang sambungan di rumah kami mati, karena kabelnya putus tertimpa pohon atau mungkin rimbun bambu. Ya, memang harus begitu anak laki-laki, menggantikan posisi ayah jika sang ayah sedang tidak di rumah. Membela keluarga, lebih-lebih ibunya sendiri. Sejak saat itu, rasa kagum saya padanya terus bertambah-tambah.

Bulan Juni kemarin, tepatnya tanggal 4, saya resmi memiliki keponakan yang ketujuh. 5 perempuan dan 2 laki-laki kembar, namun salah satu keponakan yang kembar itu meninggal sebelum sempat dilahirkan.

Keponakan baru ini bernama Amira. Mas Sus dan isterinya, sebelum kelahiran putrinya yang keempat sengaja menamai anak-anak mereka dengan awal dan akhiran ‘A…a’. Nah, di anak yang terakhir ini beliau meminta saya untuk memberikan nama. Sebuah kehormatan. Kesempatan itu adalah kali kedua saya dimintai orang untuk memberikan nama untuk anaknya. Padahal saya ini bukan kiai atau ustadz, apalah saya ini.

Di ujung telepon, saya mengusulkan.

“Gimana kalau Amira, mas?”

“Hmm, bagus. Dapet inspirasi dari mana?”

“Ngga dari mana-mana, cuma kepikiran aja”

Padahal, nama itu sebenarnya nama yang kelak akan saya berikan ke anak saya sendiri *ngimpi*. Tak apalah saya pinjamkan, lagian keponakan sendiri. Secara bahasa sendiri, Amira atau Ameera atau Amirah atau Amir atau Emir diambil dari tiga bahasa yang berbeda, yaitu Arabic, Hebrew dan Turkish. Dalam ketiga bahasa ini, Amira memiliki arti yang sama, yaitu pemimpin atau prince (untuk laki-laki) dan princess (untuk perempuan).

“Cuma Amira? nama belakangnya apa?” tanya Mas Sus lagi.

“Apa ya, hmm gak ada ide”

Sebenarnya sih ada beberapa, tapi saya sengaja tidak mengasih tahu. Ya, biarlah orangtua si-Amira sendiri yang memberi andil atas nama belakangya dan atau nama tengah. Biar dikemudian hari, si anak merasa bangga ia pernah dianugerahi nama oleh orang tuanya sendiri.

Di lain waktu, saya di whatsapp oleh Ibunya Amira. Saya dikirimi foto-foto keponakan saya itu dan juga foto-foto kakak-kakaknya yang kini semakin besar.

“Akhirnya, nama lengkapnya siapa Mba?”

“Amira Hasna Humaira”

Nama yang indah, kalau diartikan menjadi putri (pemimpin wanita) yang cantik yang pipinya kemerah-merahan. Nama Humaira, mengingatkan saya kepada Ibunda Mukminin yang sholih, cerdas dan cantik Aisya ra Isteri Rosulullah, yang beliau pinang dari sahabatnya sendiri Abu Bakar As-Shidiq. Ibunda Aisya ra mempunyai julukan Humaira karena pipinya yang putih bersih berubah kemerah-merahan saat malu-malu disapa baginda Nabi.

Ya, semoga keponakan saya itu kelak bisa seperti (paling tidak mendekati) Ummul Mukminin Aisya yang agung, jujur, cerdas dan sekaligus banyak merawikan hadist itu. Wanita yang paling Rosululloh cintai. Aamiin.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

IMG-20150606-WA0000
Amira
IMG-20150606-WA0001
Amira

IMG-20150610-WA0001

Asyifa, salah satu kakaknya Amira. Yang pada saat saya tinggal, baru belajar ngomong kini sudah pandai bercerita dengan bonekanya, meskipun kalo diajak ngomong sama Omnya melalui telepon hanya diam seribu bahasa. 🙂

#EdisiKangenKeponakan

Foto paling atas dari classicalite-recording.com

Advertisements

6 thoughts on “Namanya Amira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s