Catatan Lebaran #1: Gelisah Idul Fitri

Kamis sore. 50 kilometer perjalanan harus saya tempuh menuju buyuk evi, apartemen yang oleh kawan-kawan PPI Izmir dijadikan tempat kumpul selama Ramadhan kemarin. Saya sendiri tinggal di kompleks kampus, sementara kampus saya terletak di atas perbukitan 50 km jauhnya dari pusat kota. Turun gunung. Begitu kawan-kawan saya bilang.

Salah satu agenda saya sore itu adalah menghadiri syukuran atas umur (ulang tahun yang pertama) anak dari pasangan isteri (Indonesia)-suami (Turki). Dik Açelya namanya. Bebek (bayi) yang lagi lucu-lucunya, bergigi dua, berpipi gembul dan sedang belajar berjalan. Syukuran itu sekaligus buber terakhir di Ramadhan tahun ini.

Tuan rumah (pihak isteri) aselinya orang Sunda, jadi bisa ditebak menu apa yang akan disajikan. Bagi beliau, pesta ulang tahun dengan kue pasta (meskipun hari itu ada juga) itu terlalu mainstream, jadi nasi tumpeng lengkap segala hiasannya menjadi pilihan. Eh, gak tau juga sih. Apakah nasi tumpeng itu khas Sunda apa bukan? soalnya di Jawa juga ada, kami menyebutnya sego tumpeng. Singkat cerita, Barakallah fii umrik dik Açelya dan berkah untuk keluarga Kılıç, terima kasih sudah membantu perbaikan gizi kami. 😀

_DSC1319

Keluarga Kılıç dan mbak-mbaknya Açelya

Dari rumah keluarga Kılıç, kami menuju buyuk evi. Malam itu, kami berencana akan menghabiskan malam dengan main poker takbiran di apartemen. Di Turki, memang tidak ada tradisi takbiran yang seperti di Indonesia. Mengumandang takbir sih ada, tapi bukan dalam bentuk konvoi atau takbiran semalam suntuk, disini takbiran cuma setelah shalat fardhu saja. Selebihnya? masjid-masjid akan tutup selepas Isya.

Ditemani alat seadanya, galon, gelas, papan telenan akhirnya kami takbiran juga. Takbiran hanya berjalan 10 menit, karena khawatir para tetangga protes, tengah malam ribut sendiri. Video takbiran ada, namun sayangnya ndak layak uploud hehe. Yah, paling tidak takbiran yang sebentar itu sebagai obat rindu akan kampung halaman dan tentu memenuhi sunnah (memperbanyak takbir) menjelang hari raya.

Setelah itu, saya meladeni tantangan kawan-kawan main poker. Salah satu pembelajaran penting selama KKN di Klaten dulu adalah mahir bermain permainan kartu yang satu ini, poker. Menurut saya, poker itu bukan sekedar permainan keberuntungan, tapi permainan strategi *pembenaran*. Di sini, bisa dikatakan saya itu best of the best (memprihatinkan ya, best of the best kok di permainan kartu). Setelah beberapa kali menang, akhirnya kami menyudahi kesesatan kami itu. Beberapa diantara kami ada yang langsung tidur, baca buku atau lanjut tilawah. Saya sendiri, sibuk membalas email, browsing dan sempat menulis beberapa puisi. Salah satunya ini, terinspirasi foto-foto ‘senja’ saya sewaktu di kota Ankara beberapa waktu silam.

Jam 3.00 am. Saya gelisah. Sejak satu setengah jam sebelumnya saya mencoba memejamkan mata, tapi tetap tidak bisa tidur. Gelisah antara belum move on dari Ramadhan dan efek kebiasaan tidak tidur selepas tarawih (karena waktu malam yang singkat).

Akhirnya, saya ambil wudhu dan shalat malam sampai menjelang shubuh. Habis shubuh, saya langsung menuju dapur. Membuka kulkas, cuma ada telur dan ayam panggang sisa kemarin. Pagi itu saya bikin scrumbled egg with slice chicken (SEWSC) untuk sarapan kami bertujuh. Salah satu yang disunnahkan sebelum shalat Idul Fitri adalah berbuka (sarapan) sebelum berangkat shalat. Menu SEWSC atau telur dadar dengan potongan ayam, sangatlah mudah membuatnya. Hanya menambahkan potongan-potongan tipis daging ayam, lalu kemudian guyur dengan kocokan telor. Lalu tunggu sampai matang. Udah gitu aja. Catatan penting, goreng sedikit lama terlebih dahulu potongan ayam jika menggunakan ayam mentah dan taburi bubuk merica terlebih dahulu sebelum diguyur kocokan telur. Buat nambah rasa, tambahkan potongan daun bawang.

Saat memasak tadi, saya dibantu oleh teman saya namanya Heri. Mahasiswa S1 jurusan Sastra Inggris. Namanya orang sastra, sekali ngomong isinya puisi semua (biar seneng) bahkan kalau tidur mimpinya aja drama. Anak muda yang satu ini, hobi sekali dengan membaca, selain tuntunan akademis juga panggilan jiwa. Selain itu, dia adalah seorang jomblo single yang bercita-cita menjadi penulis. Sebagai seorang jomblo mahasiswa tentu saja ia sering kali galau nan gelisah. Oya, salah satu hobinya yang lain adalah terlalu sering menanyakan ‘kapan nikah?’ kepada saya tiap kali bertemu dengannya. Dasar anak muda tak tau sopan santun. Namun, pagi itu sedikit berbeda..

“Mas, aku masih belum terima dengan konsep ta’aruf” protesnya tiba-tiba. Kesambet apaan nih bocah, batin saya.

“Kenapa emang?”

“Masa, mau nikah harus nyerahin cv (biodata). Emang mau lamar kerja?”

“Biodata itu, hanya salah satu tahapan saja. Masih ada lagi kok tahapan lainnya….” jawab saya, belum lengkap tapi udah dipotong olehnya.

“Dan lagi, di biodata harus menyertakan riwayat penyakit. Kok kesannya gimana gitu”

“Lah, justru bagus tho. Belum nikah saja, sudah saling jujur bahkan sampai riwayat penyakit segala”

“Tapi kok, dengan begitu kesannya justru menghambat jodoh”

“Maksudnya?”

“Misalnya gini. Aku ngga jadi nikah dengan calonku, gegara aku tahu calonku itu punya penyakit tertentu”

“Begini, salah satu manfaat mengetahui riwayat penyakit sang calon, kita jadi tahu kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika pada akhirnya menikah. Termasuk berbagai resiko-resikonya. Tapi, biasanya hanya penyakit-penyakit menular saja yang jadi pantokan dalam mengambil keputusan. Selama bisa diobati, menurutku sih ngga masalah. Jadi, jangan gara-gara ada goresan atau panu di tangan akhirnya kamu jadi batal nikah” saya mencoba menjelaskan.

“Tetep aja, gimana gitu”

“Emang, kamu mau menikah dengan orang yang kena AIDS?” tanya saya balik dengan sedikit ekstrim.

“Ya, ngga maulah”

“Terus, gimana kamu bisa tau kalau kamu tidak pernah bertanya?. Memang sih, menanyakan riwayat penyakit kepada sang calon memang cukup sensitif, bahkan orang yang pacaran bertahun-tahun saja ada yang tidak berani. Takut menyakiti perasaan sang pacar. Jadi, sebelum kita nikah, ya kita mesti tahu tentang kondisinya, biar tidak terjadi apa-apa nantinya” jelas saya, sambil mengangkat telur dadar yang sudah matang.

“Iya, bener itu Mas. Waktu di pesantren dulu aku belajar fiqih, dikatakan bahwa kita dilarang melakukan sesuatu (meskipun halal), jika sesuatu itu akan memunculkan mudharat yang baru” sambung Hafidz, seorang jebolan pesantren di Bogor. Ternyata ia dari tadi menyimak obrolan kami.

“Hooh, bener tuh. Kaidah fiqihnya begitu” sambung saya.

“Tapi Mas, kalau kita sudah terlanjur cinta gimana? masa gara-gara itu, kita tidak jadi menikahi orang yang kita cintai dan seolah-olah kita menolak jodoh dari Allah”.

“Nikah itu bukan sekedar tentang cinta Her. Nikah itu tidak hanya kamu dengan si-dia, tapi juga kamu dengan keluarganya, kamu dengan anak-anakmu kelak dan juga kamu dengan masyarakatmu nanti…” jelas saya, sambil mikir sebentar.

“Coba aku tanya satu hal Her, apa yang kamu ketahui tentang cinta?”

“Hmm…” dia menjawab dengan bergumam.

“Kamu pernah merasa jatuh cinta?” tanya saya kembali.

“Pernah waktu SD, dengan guruku”

“Terus kamu nikahi gurumu itu? Ngga juga kan? Cinta emang dibutuhkan dalam pernikahan Tetapi tidak semua orang yang kita cintai harus kita nikahi. Kalau gitu, sudah berapa kali kita menikah saat ini? karena kenyataanya, cinta itu sesuatu yang bisa diupayakan. Bisa hilang dan datang kapanpun”

“Tapi, aku kok masih gimana gitu…” katanya, sedikit menggantung.

Yo wislah, itu sih yang aku tau. Wong aku juga belum nikah je… Pokoknya jomblo pasti akan berlalu” saya menyudahi. Berakhirlah obrolan gelisah dan galaunya teman saya itu, saya juga sih.

Tak terasa, teplon kedua dari telur dadar kami sudah siap diangkat. Pagi itu, akhirnya kami membukanya dengan sarapan pertama di bulan Syawal dengan menu yang baru pertama kalinya saya buat. Rasanya? not bad untuk sebuah percobaan baru.

Selepas sarapan, kami berbersih diri. Karena jam 6.44 am, shalat ied di masjid terdekat akan dimulai. Jarak masjid dengan apartement tidak terlalu jauh, cukup dengan jalan kaki kami menuju masjid. Ya, seperti abg-abg jaman sekarang, ngga gahul kalau ngga selfie. Apalagi, kawan-kawan PPI membuat lomba selfie bertajuk Idul Fitri, dengan hadiah 35 TL. Jumlah yang sedikit sih, tapi buat seru-seruan bahagia ala mahasiswa.

IMG-20150717-WA0002

Kami para abg 17 tahun mau berangkat shalat Ied

Sesudah shalat dua rakaat, dilanjutkan ceramah. Namun, sayangnya saya tak begitu khusyuk menyimak isi ceramah. Lebih khusyuk memikirkan orang-orang di rumah. Karena biasanya, momen-momen seperti ini di rumah sangat meriah. Keponakan-keponakan berdatangan dan lalu siang harinya, bakar ayam di tepi Telaga Ngebel, di Ponorogo. Iya, orang rumah biasanya di hari pertama Idul Fitri sengaja mengkhususkan untuk acara keluarga inti dengan berwisata sambil bakar ayam, baru kemudian esok harinya keliling tetangga dan saudara.

Sebelum pulang, seperti biasa kami saling mendoakan dan bermaafan dengan sesama kami dan juga beberapa orang Turki (OT). Seperti layaknya artis dadakan, apalagi ada Afgan Syahreza di antara kami bertujuh, beberapa OT langsung semangat meminta foto bareng.

IMG-20150717-WA0003

Groufi setelah shalat, saya ngga ikutan foto padahal ini yang diikutkan lomba 🙂

Untuk semuanya,

Iyi Bayramlar, semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun depan. Aamiin.

Advertisements

22 thoughts on “Catatan Lebaran #1: Gelisah Idul Fitri

  1. Menarik Mas, obrolan sesama jomblo di sela-sela membuat SEWSC. 😀

    Btw saya baru tahu kalau bebek itu bayi. Saat baca novel Istanbulnya Orhan Pamuk, ada kata-kata bebeknya. Ternyata artinya bayi.

      • Aku harus jawab apaaa? Hahaha

        Kayak di Twitter aja difolowback. 😀
        aniwe sy gak pernah minta folbek. *sombongnyaaa*
        Diminta folbek sering. Tapi nggak dipenuhi. Terus diunfol. Hahaha

      • Makanya sesama jomblo jangan banyak tanya, banyakin aje doa *halah* 😀

        Lah bukannya wp emang kaya twitter ya? cuma ini karaternya ngga dibatesin, jd informasi bisa lbh utuh.

      • Beda. Kalau di Twitter, kita bisa lihat orang yg kita folo apakah folo kita juga. Kalau di blog kan kita nggak tahu. Kecuali mau ngecek atu atu di daftar folower kita.
        Jadi hubungan timbal balik 2 arah-nya tidak se-eksplisit di Twitter.
        WP malah menurutku kayak fanpage fb. Cuman kalau blog postingan kita terarsipkan tiap bulan, sehingga postingan sampai kapan pun bisa diakses. Nggak hilang tertimpa postingan baru. (padahal sy nggak punya fb)

      • Okelah kurang lebih begitu… aku juga sudah sejak tahun lalu deactivate akun FB. Bikin orang ngga kreatif, selain itu banyak postingan ‘sampah’ mw di unfriend kebanyakan temen sendiri, akhirnya ane aja yg ngalah (hapus fb).

  2. Tapi taaruf juga jangan kelewatan selektifnya. Satu dua hal yang tidak prinsipil dan masih bisa ditolerir hendaknya tidak perlu jadi soal. Karena lagi lagi, ngga ada manusia yg sempurna.Kalau maunya semua hal cocok atau sesuai dengan seluruh kriteria yang kita mau, ya nikahi saja diri kita sendiri.

    *oh ternyata para cowok bisa galau beginian…kirain cewek cewek doang hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s