Darru Thulab dan Pentingnya Bi’ah Islami | Pelajaran Hidup No. 9

sahabat

Dipersaudarakan lagi dengan para sahabat yang baik di Turki

Darru Thulab. Begitulah kami menamai kontrakkan kami. Kami memang terbiasa menamai kontrakkan dengan nama-nama tertentu. Kontrakkan kami di kampung Santren itu, artinya rumah mahasiswa. Karena memang, semua penghuninya adalah mahasiswa, kecuali saya seorang. Pada waktu itu, saya sendiri masih pelajar SMA. Tujuan penamaan itu hanya satu, menjadi pengingat.

Bukan tidak ada masalah selama kami mengontrak di situ. Tulisan Darru Thulab, yang kami pasang besar-besar di tembok sempat ditanyakan oleh warga-warga di sekitar kontrakan kami. Antara yang memang tidak tahu artinya sampai dengan yang berprasangka yang tidak-tidak.

Maklum, masjid Al-Muklishin yang terletak tak jauh dari kontrakan kami sebelumnya sangatlah sepi. Jamaah tetapnya adalah bapak-bapak sepuh dan ibu-ibu yang tak banyak jumlahnya. Dimana pemuda dan anak-anak? jangan tanya lagi. Di zaman ini, bagi mereka masjid bukanlah tempat yang menarik lagi.

Semenjak kami berdelapan mengontrak sebuah rumah di kampung itu, suasana kampung perlahan berubah. Yang awalnya tenang, setenang masjidnya yang kosong berubah sedikit riuh akan bisik-bisik tetangga. Apalagi, isu teroris lagi gencar-gencarnya pada waktu itu. Setahun sebelum kami mengontrak di situ, bom Bali baru saja meledak.

Keheranan dan kecurigaan warga memang beralasan, ditambah setiap shubuh kami berdelapan berlomba-lomba memenuhi shaf tepat di belakang imam. Sehingga pemandangan kontras akan terlihat, 8 pemuda yang entah datangnya dari mana tiba-tiba tiap pagi selalu memenuhi shaf terdepan.

Memang, ada semacam aturan ‘wajib’ yang harus dipenuhi oleh kami berdelapan. Yaitu, ‘menjajah’ shaf terdepan di kala shubuh di masjid tersebut. Bagaimana dengan waktu yang lain? tidak shalat gitu?. Bukan, di selain waktu shubuh kami ‘membebaskan’ diri untuk shalat selain di masjid tersebut. Maklum sebagai mahasiswa tentu, aktivitas kami sangat jarang di kontrakan. Lebih sering di luar. Saya sendiri, mengikuti banyak ekstrakurikuler di sekolah. Sehingga, berangkat pagi, pulang biasanya sudah malam.

Seminggu pasca kami menempati kontrakan itu, kami kedatangan tamu. Tidak lain adalah pak RT, pak Kaum (imam masjid) dan ditemani oleh Pak Zul sang pemilik rumah.

Setelah perkenalan dan sedikit mendapat penjelasan tentang maksud tulisan di depan kontrakan kami itu, perbincangan kami menjadi cair. Bahkan, kami ditawari untuk mengelola TPA yang sudah beberapa waktu mati suri. Salah kami memang, di awal-awal datang tidak sempat silaturahmi dengan ‘penguasa’ setempat. Fotokopian KTP kami, juga hanya dititipkan ke Pak Zul.

Dari pertemuan itu, kami akhirnya sering diundang untuk acara-acara tahlillan warga, kadang kalau pak Kaum berhalangan hadir salah satu dari kami yang memimpin tahlillan. Hubungan dengan pemuda setempat juga semakin akrab, kami sering bantu-bantu karang taruna dalam setiap kegiatannya. Yah, meski kami bukan warga situ, tapi pada akhirnya kami diterima seperti warganya sendiri.

Dari kontrakan itu, saya belajar satu hal. Membaur dengan masyarakat justru cara jitu untuk mengubah masyarakat. Teori-teori rekayasa sosial yang kami dapat di kampus pada akhirnya teraplikasikan efektif di kampung tersebut. Sejak itu, saya saya sangat menyukai hal-hal yang menyangkut community development dan sejenisnya.

Sebagai perantau pemula, saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan kawan-kawan yang baik. Meski mereka lebih senior, tetapi saya merasa tidak ada sekat diantara kami. Lingkungan kontrakkan dan kampung yang mendukung, juga sangat membantu saya tetap tegar pada cita-cita sejak dari kampung. Coba, seandainya saya tidak bertemu mereka. Anak SMA semacam saya mungkin sudah aneh-aneh di perantauan yang jauh dari orang tua tanpa pengawasan.

Jadi sangat wajar, jika ada orang tua yang berat hati anak semata wayangnya merantau ke suatu tempat tanpa ada sanak famili di tempat tersebut. Keluarga adalah bi’ah (lingkungan) pertama sebelum anak mengenal lingkungan yang lebih luas. Hadirnya keluarga-keluarga yang islami tentu secara alami membentuk sebuah masyarakat dengan lingkungan yang baik pula.

Banyak kasus, ada anak yang berubah drastis sekembalinya dari perantauan, padahal ia dibesarkan dari keluarga baik-baik. Hal ini dikarenakan, sang anak mulai belajar tehadap lingkungannya, merespon dan meniru bahkan menjadikan lingkungannya sebagai role model.

Saya teringat perkataan Rosulullah tentang hal ini,

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

di hadist lain juga disebutkan,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari dua hadist di atas jelas, bahwa kawan (lingkungan) mempunyai peran penting dalam tumbuh kembang karakter seseorang. Jika ia dekat-dekat dengan sang penjual minyak wangi tentu ia akan bau wangi, begitu juga sebaliknya.

Jadi, yuk jaga diri kita, keluarga, dan sahabat-sahabat kita untuk tetap baik. Kan ngga enak, kalau kita seorang yang baik di dunia ini. Apalagi yang sekarang ini jomblo single, mendapat pasangan yang baik yang mau diajak pulang ke surga tentu adalah impian.

Ada sebuah referensi yang cukup komprehensif tentang pengaruh dunia pertemanan pada diri seseorang, silahkan baca di sini.

Wallahu’alam

Advertisements

19 thoughts on “Darru Thulab dan Pentingnya Bi’ah Islami | Pelajaran Hidup No. 9

  1. Membaur itu memang bagus sekali ya, apalagi kalau bisa menyebarkan gairah positif bagi masyarakat sekitar. Jadi semangat nih buat sedikit lebih peduli dan terlibat dengan kegiatan kampung, terlalu banyak apatis kadang tidak baik :hehe. Meski mungkin pada awalnya ada sedikit resistensi, tapi kalau niat dan caranya baik, hasilnya pasti akan baik.

    • Iya, mas membaur dengan masyrakat itu penting. Karena mau ngga mau kita nantinya akan kembali ke masyarakat juga. Kalau di Jawa ada istilah “Pagar mangkok luwih becik katimbang pagar tembok”.

      • Oh iya, saya pikir saya dapat poinnya. Menjaga hubungan baik dengan tetangga itu memang membuat rasa aman dan nyaman lebih terasa. Ketimbang tinggi tembok tapi tak saling kenal, malah membuat rasa curiga yang tidak nyaman karena terus bertanya-tanya tentang apa yang ada di balik sana, malah kalau ekstrem bisa timbul prasangka.

  2. Waah sepakat banget kak (y) memang rekayasa sosial tuh harus pakai hati. makanya sbenernya comdev itu lebih berdampak dibandingkan sekedar comserv.

    Dan kak, lagi2 sebelum baca tulisan ini, aku juga bikin tulisan kurang lebih dgn inti yg sama, tentang pilih teman yg bener. Tapi aku ambil sudut pandang dari human information processing pd manusia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s