Catatan Lebaran #2: Perbaikan Gizi

Sambungan cerita dari tulisan sebelumnya Gelisah Idul Fitri. Tidak seperti tulisan sebelumnya yang berisi gelisah gundah gulana, di tulisan ini justru hal-hal yang menggembirakan.

Ada sebuah tradisi baik yang masih bertahan di kampung atau setidaknya di keluarga besar kami. Tradisi baik itu yakni ater-ater. Secara harfiah ater-ater bermakna hantaran atau mengantar, karena dalam tradisi ini warga saling menghantarkan makanan dan lauk-pauk ke tetangga maupun ke saudara terdekat. Di kampung saya (semoga tradisi seperti ini masih bertahan), tradisi ater-ater terpusatkan di masjid. Biasanya di lakukan saat malam takbiran, sekaligus khataman quran. Masing-masing warga bebas membawa jenis masakan, tapi satu menu yang pasti adalah ayam ingkung, semacam ayam panggang yang diolah dengan bumbu khas Jawa. Tua-muda sampai anak-anak guyup rukun memadati masjid yang tak jauh dari rumah saya itu.

Setelah acara itu, barulah anak-anak dan muda-mudi ikutan pawai takbiran keliling yang biasanya di lombakan se kecamatan. Alhamdulillah, tak ada larangan untuk pawai semacam ini karena memang ndak bakal bikin macet, malah justru terkesan semarak dan meriah.

Di keluarga besar (dari pihak Bapak) acara halal bi halal atau lebaran terpusat di rumah Simbah (sekarang sudah almarhum). Anak-anak simbah yang berjumlah 9, bercucu banyak dan bahkan sudah bercicit ini di hari kedua lebaran berbondong-bondong ke rumah simbah dengan membawa masakan-masakan andalan keluarga masing-masing. Masakan andalan Ibuk adalah opor ayam kampung dan oseng kulit melinjo. Setelah prosesi sungkem yang mesti urut dari anak paling tua sampai cicit yang paling muda, barulah makan-makan dimulai.

Di hari ketiga, rumah kami yang justru tampak meriah. Keluarga besar dari pihak Ibuk yang berdatangan, karena beberapa tahun terakhir sebelum simbah wafat, beliau lebih suka tinggal di rumah kami. Sampai simbah dari pihak ibu itu meninggal beberapa tahun yang lalu, saudara-saudara tetap menjadikan rumah kami sebagai tempat halal bi halal meskipun Ibuk sendiri anak bungsu di keluarganya. Intinya, acara halal bi halal selain ajang silaturahim keluarga besar juga momen makan-makan bersama.

Di Turki, acara yang sama juga terjadi di sini. Acara makan-makan halal bi halal juga kami adakan sesama komunitas WNI dan juga mengundang teman-teman dari negara tetangga (Thailand dan Filipina) yang kebetulan mereka muslim. Namun, konsepnya sedikit berbeda. Tidak seperti ater-ater, namun lebih seperti konsep open house. Sang tuan rumah biasanya mereka yang sudah berkeluarga.  Hari pertama, kami mendapat undangan open house di rumah pasangan suami (Bengkulu)-isteri (Padang). Pasangan dosen Universitas Bengkulu ini bertempat tinggal di pusat kota, jadi cukup mudah aksesnya. Apalagi dari buyuk evi relatif dekat jaraknya. Karena tuan rumah aseli orang Padang, tentu menu masakannya mudah ditebak, masakan Padang. Favorit saya adalah sate padang. Salahsatu berkah bila nikah dengan orang Padang ya ini, dapet isteri yang pinter masak. Ya, masakan isteri Pak Agustin memang top markotop, otentik, dan serasa saya makan di RM. Tanpo Namo (rumah makan Padang langganan saya di Jogja). Alhamdulillah, perbaikan gizi *eh*.

IMG-20150719-WA0001

Open house di rumah keluarga Pak Agustin

Hari kedua, sebenarnya ada undangan yang sama ke pasangan Indonesia-Turki, namun tidak jadi karena tuan rumah mendadak ada acara keluarga. Baru kemudian, hari ketiga kami mendapat undangan open house ke kediaman Bu Via. Beliau aselinya orang Madiun dan bersuamikan orang WN Australia dan 2 tahun ini suaminya ditugaskan di Turki. Otomatis, karena beliau aseli Madiun, maka menunya pun tak jauh dari menu ala Jawa Timuran. Ada sate, rendang sampai sayur lodeh. Saya memang orang Solo yang tinggal cukup lama di Jogja, tapi untuk urusan lidah saya lebih condong ke masakan Jawa Timur yang cenderung asin dan pedas. Jadi pas dan manteb. Oya, yang paling istimewa menurut saya justru bubur ketan hitamnya. Karena jujur, sudah lama tidak makan makanan penutup yang satu ini. Sampai-sampai saya bungkus buburnya untuk dibawa pulang ke asrama.

11745385_10207318539745748_7984750950961767707_n

Masakan ala Jawa Timuran

_DSC1383

Ibu-ibu cherrybelle (ngakunya) yang jago masak

11750603_10207317910210010_6929143357731093326_n

Anak-anak abg yang jago (makan) ngaji

_DSC1347

Ngaji Al-Mulk (salah satu surah favorit)

_DSC1388

Janu dan mamanya yang ternyata tetangga saya

_DSC1499

Sebelum pulang foto bersama dulu

Oya, kok dari tadi yang diomongin hanya makan-makan saja. Sebenarnya, inti open house itu adalah ajang silaturahim komunitas WNI di Turki. Saat acara juga dibuka dengan mahasiswa-mahasiswa sholeh dengan tilawah surah Al-Mulk karena sang tuan rumah mempunyai hajatan khusus. Semoga bu Via dan keluarga diberikan keberkahan dan segera diberikan anugerah anak yang sholeh. Aamiin.

Di acara hari ketiga ini, saya berjumpa dengan anak-anak kecil yang lucu. Karena nikah campur dua negara, akhirnya anak-anak mereka pun bisa bilingual dalam usia belia. Contohnya Alexander, biasa dipanggil Alex. Anak pasangan dari WNI dan saya lupa dari mana (yang jelas bukan Turki) ini mengerti bahasa Indonesia, tetapi selalu menjawabnya dengan bahasa Inggris. Beda dengan Alex, Janu anak pasangan WNI (Ponorogo) dan Turki justru lebih bisa bahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia, tetapi tetap bahasa Turkinya lebih jago. Janu, yang awalnya malu-malu ini justru saat-saat akhir mbulet dengan saya.

Begitulah suasana, lebaran di Turki. Momen yang pas untuk ajang perbaikan gizi silaturahmi.

Advertisements

23 thoughts on “Catatan Lebaran #2: Perbaikan Gizi

  1. Jadi kangen kampung. Apalagi setelah lebaran Idul Fitri, selalu ada kupatan a.k.a ater-ater ketupat dan opor ke tetangga dan saudara. Di Turki lebarannya nggak semeriah di Indonesia sih. Alhamdulillahnya, banyak ibu-ibu yang undang makan ya di sini. Oh ya, Bu Via bukan dari Jember ya Mas?

  2. dikampung saya tradisi nganter nganterin makanan itu biasanya sehari sebelum puasa ramadhan mas. namanya hari makan2. seru, sampe begah kekenyangan pada hari itu 😀

  3. Makan gratis itu juga favorit saya karena sangat menyenangkan… selain membuat perut kenyang, hati senang, tuan rumah pun bahagia soalnya makanan yang disajikan pasti habis *meski kalau kebangetan sampai kekurangan ya di kesempatan selanjutnya tidak diundang lagi :haha*. Semua makanan itu tampak sangat enak, kan, jadi pengen… :hihi.

  4. wah, tradisi hantar makanan itu menurut saya tradisi yang harus dipertahankan. di kampung saya di lombok tradisi ater-ater itu umumnya dilakukan pas hari maulid nabi 🙂
    thanks for sharing the nice info..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s