Ketika Cinta Tak Harus Menikah

cintadlmislam

Ilustrasi dari wahdah.or.id

Dalam sebuah obrolan dapur dengan project utama memasak SEWSC, Heri (teman saya) menitik beratkan rasa cinta sebagai hal mutlak sebelum hadirnya sebuah pernikahan. Kalau sudah kadung cinta ya mesti nikah dan begitu juga sebaliknya. Lalu sebenarnya, definisi cinta sendiri seperti apa?

Tentang cinta, saya sendiri masih terlalu ‘hijau’ dalam hal ini. Jam terbang saya dalam dunia persilatan percintaan memang tidak seperti Bung Tomo yang hero-romantic dengan surat-surat indahnya kepada Sulistina di masa perjuangan, tidak pula seperti Habibie yang to the point tapi begitu berkesan kepada seorang dokter cantik bernama Ainun dan tidak pula seperti Bung Karno yang terkenal sangat flamboyan. Saya hanyalah tipe manusia yang mendadak membisu bila bertemu orang yang dicinta, memilih untuk memendam ketimbang terus terang dan pasrah sekaligus lemah saat cinta-nya tiba-tiba diambil orang.

Tak banyak bahasan tentang cinta yang pernah saya tulis di blog ini, hanya 2-3 artikel seingat saya. Salah satunya ini dan ini. Dalam dua tulisan tersebut, definisi cinta tidak saya jelaskan secara gamblang, justru samar-samar dan mungkin orang susah paham. Karena memang, cinta tak mungkin didefinisikan dengan kata-kata tapi musti direalisasikan dalam mitsaqan ghalizha. Dan saya sendiri belum sampai tahap ‘ikatan yang kuat’ ini. Doakan saja secepatnya. 😀

Tulisan kali ini, sekali lagi saya katakan saya tidak ingin bercerita tentang pengalaman diri sendiri, namun sekedar menjabarkan sebuah teori.

Ada sebuah teori cinta yang cukup terkenal dalam dunia psikologi. Teori itu dikenal sebagai Triangular Theory of Love. Sebuah teori yang dirumuskan oleh seorang psikolog bernama Robert Steinberg. Melalui teorinya ini, yang kemudian membuat saya berani membuat sebuah kesimpulan:

“Tak semua cinta harus dirayakan dengan pernikahan”

Melalui teori tersebut, Steinberg menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen dalam cinta; Intimacy, Passionate dan Commitment.

Sebuah perasaan dimana kita merasa click dengan seseorang, kita merasa nyambung, merasa kagum, merasa diperhatikan dan memperhatikan seseorang itu, dan kemudian merasa dekat dengan orang tersebut. Perasaan seperti inilah yang disebut sebagai Intimacy. Rasa ini, bisa terjadi antara kita dengan saudara, orang tua, guru dan sahabat. Perasaan yang muncul seperti ini adalah bagian dari cinta, tapi tidak perlu adanya sebuah pernikahan untuk merayakannya.

Yang kedua adalah passionate. Ini juga bagian dari cinta, dimana kita memiliki rasa atas ketertarikan seksual dan hasrat. Rasa seperti ini pada dasarnya bisa ditahan, namun bagi sebagian orang butuh adanya pelampiasan. Dan bagi mereka yang tidak mampu bertahan sangat dianjurkan untuk menikah, ketimbang terjebak dalam perzinaan ataupun pergaulan bebas.

Lalu yang terakhir adalah commitment. Bagian cinta yang mana kita merasa untuk melindungi seseorang, berasa ingin sehidup semati, bahkan rela bekorban segalanya. Akan tetapi, jika rasa ini tidak dilengkapi dengan intimacy dan passionate tentu akan terasa kosong dan hambar, kalau Sternberg menyebutnya dengan empty love.

Namun, banyak fenomena orang mudah terjebak dalam sebuah romantic love. Sebuah pertalian cinta antara intimacy dengan passion, tapi tanpa hadirnya sebuah commitment. Pertalian cinta seperti ini memang terkesan indah dan romantis, akan tetapi hubungan seperti ini, peluang menuju pernikahan sangat kecil, kalaupun menikah biasanya akan banyak prahara dan mungkin berujung pada perceraian.

Jadi untuk menikah, hendaknya setiap pasangan perlu rasanya menghadirkan tiga komponen di atas. Dan hal inilah yang disebut sebagai consummate love (kesempurnaan cinta). Jadi tidak asal merasa cinta, lalu kemudian berujung pada pernikahan.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang rasa cinta-nya hadir justru setelah pernikahan?
Yang berpengalaman mungkin bisa menambahkan.

Sepenuh Cinta 😀

Advertisements

31 thoughts on “Ketika Cinta Tak Harus Menikah

  1. Ah, demikian ya… jujur belum bisa banyak berkomentar soalnya jam terbang saya juga masih sedikit banget *tapi tetap saja ngetiknya panjang :haha*. Semoga jikalau sudah menemukan pasangan nanti, tiga unsur cinta itu sudah berada sepanjang jalannya pernikahan sampai maut memisahkan :amin :hehe.

  2. Berat pembahasannya bang.. 😀
    Sering terjebak di Intimacy, sehingga terasa proses yang dijalankan kurang sesuai dengan yg seharusnya.

    Mungkin taaruf dulu, dengan begitu bisa mendapatkan intimacy, kemudian khitbah dan nikah deh. Koq gampang amat 😀

    Nice Post…

    • Hehe karena cinta itu ibarat pesawat, perlu ada tempat yang pas untuk mendarat (berlabuh) dan itu yang mujur. Yang apes adalah mereka yang sekedar terbang lalu jatuh (cinta). *apaan sih*

  3. kalau kata pak Cahyadi Takariawan, tahapan menuju cinta itu ada 3: kagum, cenderung/suka, dan cinta. Kagum yang diiringi adanya harapan dan interaksi akan berkembang jadi cenderung. Sama juga, cenderung yg dipupuk terus sama interaksi akan berkembang lagi jadi cinta.
    Aturannya, kata beliau, sebelum nikah, maksimalkan perasaan sampai tahap kedua aja. Dan cinta, semikan ketika udah menikah 🙂
    mirip-mirip sih teorinya hehe

  4. Lalu, bagaimana dengan mereka yang rasa cinta-nya hadir justru setelah pernikahan? ~>

    Walau saya belum berpengalaman tapi sudah punya jawabannya 🙂
    This:
    Jika nikah maka cinta.

    Kenapa sy begitu yakin? Sebab,
    Sesuai janji Tuhan di QS Ruum.
    Dan juga itu yang bisa saya simpulkan dari ratusan orang yang saya temui di dunia nyata. Ortu dan kakak sy menjadi contoh terdekatnya. 😉

  5. Hipotesis saya (meski belum berpengalaman juga hehe), itu penyebabnya kemungkinan besar karena “witing tresna jalaran saka kulina” kalau kasusnya cinta setelah menikah. Apalagi sudah diikat dalam ikatan suci pernikahan, mau ndak mau ya pasti mau hehe. 😀 cinta itu sejauh pengalaman saya, cuma satu “kecocokan hati” hehe.

  6. Pernah baca tentang ini sebelumnya..tapi mungkin beda istilah ya. Aku lebih prefer intimacy dulu, commitment, baru passionate. Untuk membentuk commitment, tidak harus passionate dulu. Intimacy saja cukup sebenarnya. Mengapa commitment dulu baru passionate? Agar lebih aman. Dan menumbuhkan passionate setelah commitment sebenarnya ga susah. Banyak orang tua jaman dulu mempraktekkannya and it works :). Passionate sebelum commitment? Jatuhnya gambling. Berjudi perasaan. Kalau sudah passionate mentok duluan, ujungnya malah ngemis commitment yang nggak kunjung serius diwujudkan.Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s