Memahami Panggilan Nama

bisnis-baru

Ilustrasi dari dokterbisnis.net

Dalam budaya Jawa ada istilah Njambal, sebutan-sebutan sebelum nama seseorang yang bertujuan untuk menghormati seseorang tersebut entah karena umur, pangkat maupun kedudukan lainnya. Yang paling umum adalah Mas/Mbak, Pak/Bu, Mbah, Dik dan seterusnya. Dengan mengindahkan pemakain istilah tersebut, artinya kita memberikan rasa hormat kita kepada seseorang yang kita panggil. Akan tetapi adakalanya, kalau kita sudah akrab dengan seseorang istilah panggilan akhirnya tergantikan dengan nama saja.

Selain Njambal, ada juga istilah Njangkar. Hal ini justru kebalikan dari makna njambal itu sendiri. Dalam budaya Jawa, menyebut nama seseorang yang baru dikenal tanpa embel-embel sebutan tadi adalah hal yang tidak baik (ora becik). Makanya sedari kecil, saya terbiasa menggunakan istilah-istilah ini untuk memanggil nama orang yang baru saja saya kenal tidak peduli orang itu lebih tua dari saya ataupun lebih muda. Kecuali, kalau orang tersebut selisih umurnya terlalu jauh.

Dalam budaya Jawa, panggilan Mas/Mba adalah panggilan yang umum dan bermaksud penghormatan. Akan tetapi, di Kota Metropolitan (sebut saja Jakarta), panggilan mas/mbak sering ditujukan untuk orang dengan status sosial yang dianggap lebih rendah. Misal, hampir setiap Asisten Rumah Tangga disebut sebagai “Si Mbak”. Pelayan-pelayan di rumah makan atau toko-toko juga dipanggil dengan sebutan Mas/Mbak. Jarang sekali para Bos Besar di panggil “Mas”, panggilan “Bapak” akan lebih terlihat sopan.

Saya sendiri cenderung lebih suka dipanggil dengan Mas atau Om (khusus keponakan saya), ketimbang bang, kang, kakak, apalagi pak. Pernah dulu, waktu masih aktif di lembaga kampus saya sering kali menolak jika ada orang yang memanggil saya dengan Pak. Mereka yang memanggil seperti itu biasanya para junior (terutama kaum perempuan) yang bermaksud untuk menunjukkan respect, padahal secara umur selesih kami paling beda 1-3 tahun. Berlebihan, menurut saya. Atau mereka pikir, muka saya ini sudah kayak bapak-bapak?. Ah, ndak juga, secara saya ini terlalu baby face jadi kurang pas kalau dipanggil begitu. 🙂

Di Turki saya sempat ‘bermasalah’ dengan seseorang cuma gara-gara panggilan. Ceritanya, saya dimintai tolong untuk menjadi tim sukses dari pencalonan seorang kawan di sebuah lembaga kemasyrakatan di sini. Awalnya saya menolak, karena memang tidak tertarik. Tapi karena terus memaksa, akhirnya saya menyanggupi. Teman saya yang akan menyalonkan diri sebutlah bernama A. Dia ini umurnya sekitar 5 tahun di atas saya, dan juga orang Jawa.

Di tim tersebut saya bertugas sebagai strategy maker yang bergerak di belakang layar. Pengalaman beberapa tahun di BEM dulu, ternyata masih membekas, yang akhirnya berhasil menghantarkan kawan saya itu menduduki posisi yang ia inginkan.

Namun dalam prosesnya, saya sempat bersitegang dengan kawan saya itu. Selalu saja ada nada sinisme dalam setiap usulan strategi saya ke tim, meskipan pada akhirnya usulan saya pulalah yang dipakai. Setelah pada akhirnya saya berjumpa dengan kawan saya itu secara langsung, akhirnya ia membuka misteri. Ternyata, ia tidak suka kalau saya memanggilnya dengan sebutan Kang A, dia ingin dipanggil dengan Pak A, seperti ibu-ibu yang biasa memanggilnya dengan itu. Oalah Pak…pak…, saya memanggil sampeyan dengan Kang juga sebagai bentuk respect, karena sampeyan lebih senior dan tentu orang Jawi.

Di kalangan mahasiswa Indonesia di Turki, juga berkembang dua aliran panggilan yang berbeda. Yaitu Abi (Turkish, artinya kakak) untuk mereka yang bergabung dengan jamaah Fetullah Gulen. Sebuah jamaah aseli Turki yang akhir-akhir ini mulai berkembang di Indonesia, khususnya di sekitaran kampus UIN Jakarta. Dan sebutan Mas/Bang/Kak untuk mereka yang tidak berafiliasi pada jamaah tersebut. Jadi, mudah saja untuk mengetahui apakah seseorang itu bergabung dengan jamaah tersebut atau tidak, lihat saja dari sebutan orang kepadanya. Meskipun, hal ini tidak mutlak seratus persen.

Budaya Turki sendiri juga memiliki budaya yang sama dengan di tempat kita. Ada juga sebutan-sebutan seperti abi/abla (mas/mbak), bey/hanim (pak/bu), efendi (tuan) dan seterusnya. Pengunaanya juga sama, sebagai penghormatan. Selain itu, memanggil nama orang dengan nama terakhir (surname), disini juga dihitung sebagai penghormatan. Misalnya, nama lengkap Presiden Turki; Recep Tayyip Erdogan. Para pendukungnya cenderung menggunakan nama Erdogan (seperti halnya di surat kabar), akan tetapi bagi mereka yang oposisi lebih sering menggunakan nama Recep atau Tayyip sebagai bentuk protes. Jadi jangan heran, kalau oposisi sedang demo dan di baliho-baliho aksi yang ditulis justru nama depannya.

Oya, satu lagi. Berhubung saya itu orang Jawa (Solo) yang besar di lingkungan Jawa (Jogja), tentu lebih akrab dengan mas/mba ketimbang bang/neng atau mang/teteh. Jadi kadang, tidak peduli orang dari mana dan dari suku apa, saya lebih sering memanggilnya dengan sebutan mba/mas. Dan kadang, hal ini tidak ‘biasa’ di telinga mereka, padahal maksud saya tetap sebagai penghormatan. Soalnya, pernah ada temen yang aseli Sunda protes, gegara saya panggil dia dengan mbak ketimbang teteh. Maklum, lidah saya ini sudah terlalu njawir, ngomong english aja medok. 😀

Jadi, kalau saya sedang blogwalking dan kira-kira saya salah menggunakan istilah sebutan nama mohon diingatkan. 😀

Begitullah….

Advertisements

22 thoughts on “Memahami Panggilan Nama

  1. Iya aku juga biasane njambal. Minimal manggilnya pake embel2 jeung…. Krn klo dipanggil mbak, pasti pada protes krn either seumuran atau malah lbh muda.

  2. Jadi begini om… eh mas 😀

    Dari awal menentukan nama blog “Omnduut” aku paham resikonya bakalan dipanggil Om. Padahal panggilan itu ada karena keponakan awalnya. Tapi ya sudahlah, maunya sih aku dipanggil “dik” aja oleh semua orang, biar serasa muda terus hahahaha

  3. Meskipun lahir dan dibesarkan di Jakarta, tp bonyok org Jogja dan adek gw manggil gw mbak. Tp dlm kehidupan sehari hari di Jkt emang panggilan mbak dan mas udah lumrah, umum dipake. Di kantor kl manggil yg lbh tua atau posisi lbh tinggi jg mas dan mbak. Gak ada tuh neng, abang, teteh. Gak biasa gw. Mending manggil nama lgs. Hahaha

  4. Intinya bagaimana menggunakan sapaan yang tepat untuk orang yang tepat di tempat dan waktu yang tepat ya :hehe. Sama-sama, saya juga masih belajar banget melihat situasi untuk menentukan sapaan apa yang pantas dipakai. Jikalau ada saya juga salah menyapa, jangan segan untuk memberitahu, maka saya dengan senang hati akan menyesuaikan sapaan saya agar diperkenankan :hehe.

  5. Waah kalau di banjar sih mas, kepada orang yg lebih tua panggilannya “Kak”, kalau yg lebih muda “de atau ading” hehe.. Panggilan mas/mba itu asing bagi kami warga banjarmasin. Tapi karena ortu ku jawa, jadi aku biasa aja sih dengan panggilan mas/mba hehe

  6. Kalau di Turki itu gimana sih, nyebutnya? Aku nonton sinetron Elif yang pakai bahasa asli Turki, itu Tugce manggil pembantunya manggil namanya langsung, Kiraz, tanpa embel-embel. Tapi kalau sudah disulihsuarakan, supaya dekat kebudayaan sini, maka Tugce memanggil Bibi Kiraz. Selim juga aslinya manggil Arzu dengan Arzu, tapi pas disulihsuarakan jadi Kak Arzu.

  7. Itu lagi di sinetron Cansu dan Hazal, Ozan yang usianya 18 tahun memanggil Gulseren yang usianya 31 tahun, memanggil langsung namanya Gulseren. Bagi orang sini yang mendengar dan menonton tayangan tersebut pasti sepakat, nggak sopan banget nih anak. Harusnya ‘kan cowok tersebut memanggil wanita tersebut dengan Bibi Gulseren, secara wanita tersebut adalah wanita yang tengah dekat dengan ayahnya, yaitu Cihan yang berusia 41 tahun.

  8. Pas awal ngantor, bos ku yg jga om ku,kadang aku panggil om kadang pak,,. Bingung aja sih awalnya krna udah biasa panggil om,hehe.. tpi sekarang aku biasain panggil pak,meskipun agak canggung dan kadang keceplosan panggil om,. 😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s