Sisyphus dan Kesia-siaan Iman

sisyphus

Ilustrasi dari amazonaws.com

Awal Ramadhan kemarin saat saya mampir ke Yesilova buyuk evi -tempat kawan-kawan PPI Izmir sering berkumpul, saya diminta untuk menyampaikan sebuah kuliah shubuh. Permintaan ini sebenarnya mendadak, awalnya mereka ‘memaksa’ saya untuk mejadi imam shalat shubuh, lalu kemudian ba’da shalat langsung ditodong untuk menyampaikan sebuah kultum.

Sebagai lelaki yang ganteng, enerjik, dan rajin menabung kalau-kalau ada permintaan meminang ceramah ya mesti siap, atau paling tidak pura-pura siap. Kemudian saya memutar memori, hal-hal mendadak seperti ini memang kadang bikin blank di otak. Kemudian saya teringat sebuah materi yang dulu pernah saya tulis di blog ini, tulisan itu bertajuk cara menikmati kehidupan. Dan itulah salah satu gunanya berbagi (arab: tabligh) ilmu, apa-apa yang kita dapat sebelumnya, yang kemudian disampaikan ke orang lain, ilmu itu tidak akan pernah hilang malah justru nyanthol kuat dalam memory kita.

Saat proses memory loading terhadap file materi tersebut, saya mengawali dengan sebuah mukhadimah tentang kisah Sisyphus. Sebuah cerita yang diambil dari mitologi Yunani yang diangkat oleh filsuf terkenal di dalam bukunya Albert Camus yang berjudul Le Mythe de Sisyphe.

Sisyphus adalah tokoh mitology Yunani sebagai simbol kesiasian. Betapa tidak, seumur hidup ia dikutuk melakukan perbuatan yang sia-sia. Ia diminta membawa batu besar ke atas bukit, baik dengan cara didorong atau diangkat dengan punggungnya, namun sesampainya batu itu di puncak bukit batu itu lalu ia gelindingkan kembali kebawah. Begitu seterusnya.

Betapa sebuah kesiasian bukan? bagaimana tidak, mengangkat beban batu yang cukup besar aja sudah cukup merepotkan, apalagi harus membawanya ke atas bukit.  Namun, ketika usahanya dirasa sampai puncak-puncaknya justru segala pencapaian tadi ia sia-siakan dengan mengembalikan batu ke posisi semula.

Iman seorang manusia boleh jadi seperti itu. Kita adalah satu-satunya makhluk yang dianugerahi Tuhan dengan kemungkinan iman yang mempunyai kecendrungan regresi positif, yang mungkin untuk meningkat terus menerus. Hal ini berbeda dengan sifat keimanan malaikat ataupun syeitan.

Sedang Ramadhan adalah momen yang paling tepat untuk meningkatkan keimanan. Di waktu-waktu itu kita terlatih untuk berlomba-lomba meningkat sejumlah amalan ibadah. Keintiman kita dengan Tuhan tetiba meningkat secara drastis siang dan malam.

Namun, kalau kita mau menyadari. Segala usaha meningkatkan iman tadi bukanlah hal yang mudah, butuh komitmen yang kuat, lingkungan yang mendukung dan mungkin biaya yang tak murah. Pengorbanan kita dalam meningkatkan derajat keimanan sesungguhnya bukanlah hal yang mudah. Berat sekali. Namun, hal berbeda justru terjadi dalam hal kemaksiatan (menurunkan keimanan). Banyak sekali jebakan-jebakan keimanan yang tak pernah kita sangka-sangka. Dan kita cenderung untuk mudah ‘terjebak’ didalamnya. Kalau sudah terlajur terjebak, kita mungkin akan terus menerus di dalamnya. Karena salah satu sifat dari kemaksiatan adalah melenakan dan mengenakan.

Sehingga, saat Ramadhan kemarin kita merasa begitu sholeh, keimanan merasa di puncak-puncaknya, namun di saat Ramadhan berlalu amalan kita juga ikut berlalu. Maka, waspadalah!. Yang awalnya rajin tilawah, kini tak lagi. Yang dulunya rutin shalat lail, kini kita justru sekedar mengorok saat lail. Dan seterusnya dan seterusnya. Betapa sia-sianya bukan?.

Lalu bagaimana agar ‘latihan’ tidak menjadi sia-sia?

Pertama adalah hati-hati. Kehati-hatian kita dalam hal ibadah dan juga maksiat akan terus membimbing kita menuju meningkatnya keimanan dan terhindar dari jebakan-jebakan yang melenakan. Dan hati-hati sesungguhnya adalah karakter dari ketakwaan itu sendiri.

Yang berikutnya dan yang terakhir adalah selalu menetapkan target. Seperti halnya saat Ramadhan lalu, keberadaan target amalan adalah hal penting. Dengan punya target, kita akan mempunyai tujuan yang terukur dan mudah untuk dievaluasi. Dan kalaupun standar target pasca Ramadhan menurun, itu tak mengapa ketimbang kita tidak punya target amalan sama sekali.

Nah, yang diatas tadi baru sekedar mukhadimah, karena inti kuliah shubuh pagi itu sebenarnya tentang cara menikmati kehidupan. Dan karena kepanjangan di pengantar, kultum yang seharusnya tujuh menit berubah menjadi lebih dari 30 menit. hehe

Diantara 15 hari setelah Ramadhan yang baru saja berlalu ini, semoga segala ikhtiar kita tidak menjadi sebuah kesiasian dan keimanan kita terus meningkat dan meningkat.

Dan tulisan ini, juga sekaligus refleksi buat diri pribadi. Dan ayyuk yang belum puasa Syawal, mari kita cicil puasa enam hari ini. Salam

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun”. [HR. Imam Muslim, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasaa-i dan Ibnu Majah]

Advertisements

16 thoughts on “Sisyphus dan Kesia-siaan Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s