Nahdlatul Muhammadiyah

md2

Ilustrasi dari komunitaswedangkopi.blogspot.com

Kita sebagai muslim Nusantara patut bersyukur memiliki dua aset penting umat yang sampai sekarang tetap bertahan. Mereka itu adalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Kontribusi dua ormas Islam ini dalam berbangsa sudah dimulai sejak bangsa ini belum digagas sekalipun. Satu abad lebih bangsa ini diwarnai oleh tangan-tangan penuh berkah para pendiri dan para pengikutnya. Tentu saja tidak menafikkan peran besar kelompok-kelompok (ormas) Islam yang lain, misal; Persis, Irsyad ataupun kelompok transnasional seperti Salafi, Jamaah Tabligh, Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) dan lain sebagainya. Namun, di sini saya tidak akan bicara tentang kisah historis dua ormas tersebut, tapi sekedar ‘melihat’ jalan terbaik bagi kita sebagai warga Nusantara dan tentu sebagai penganut agama yang rahmatan lil alamin, Al-Islam.

Kalau ada yang bertanya, apakah saya ini orang Muhamadiyah atau NU? tentu saya akan kebingungan, atau saya akan menjawab dengan Nahdlatul Muhammadiyyin -persis seperti Cak Nun bilang. Secara, saya bukanlah pemegang kartu keanggotaan dua ormas tersebut. Akan tetapi, corak ke-Muhammadiyah-an dan NU sedikit-dikit melekat pada diri saya.

Saya sendiri dibesarkan dengan tradisi NU, meskipun orang tua saya sendiri bukanlah kader NU. Saya mengenal NU dari tetangga saya yang kebetulan seorang tokoh NU di kampung. Warga kampung sendiri, mayoritas adalah pengamal tradisi NU. Makanya, sedari kecil saya cukup akrab dengan tradisi selamatan, yasinan, shalawatan, diba’an dan seterusnya. Bahkan, sampai sekarang samar-samar saya masih hafal shalawat Nariyah yang sangat terkenal di kalangan NU.

Menginjak remaja, takdir membuat saya harus pindah ke kota Jogja -sebagai tempat lahir dan pusatnya Muhammadiyah. Jadi sejak saat itu, saya mulai berinteraksi dengan ke-Muhammadiyah-an. Nyaris sekolah di SMA Muhammadiyah (meskipun tidak jadi), kemudian mulai menyukai buku-bukunya Buya Hamka, juga sering mengikuti kajian-kajiannya ustadz-ustadz dari Muhammadiyah seperti; Yunahar Ilyas, Din Samsyudin dan tentu saja Amien Rais. Di Jogja pulalah, saya mengenal dan intensif mengikuti pengajian dari jamaah Tarbiyah, Salafi hingga Jamaah Tabligh (JT). Khusus JT, saya belajar langsung tentang kesederhanaan dan kesungguhan mereka dalam beribadah di masjid Al-Itihaad. Masjid yang menjadi markas dakwahnya se-DIY dan mungkin Jateng. Tidak lain karena, kontrakan saya (kontrakan kedua, setelah pindah dari DT) dekat dengan masjid tersebut.

Kembali tentang Muhammadiyah dan NU. Hari ini, dua ormas tersebut sedang menyelenggarakan muktamar. NU akan menggelar Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus. Sementara Muhammadiyah akan melangsungkan Muktamar ke-47 di Makassar, Sulawesi Selatan pada 3-7 Agustus. Masing-masing mengusung jargonnya sendiri-sendiri. Muhammadiyah dengan Islam Berkemajuan-nya, sedangkan NU dengan Islam Nusantara-nya. Jargon yang sekilas membawa pesan tertentu.

Hadirnya predikat di belakang Islam tentu akan melahirkan sebuah penilaian tersendiri. Multi tafsir dan kadang memancing sebuah perdebatan. Tidak bermaksud ingin menyamakan, tapi akhir-akhir ini Islam memang paling sering ditambah-tambahi dengan predikat-predikat tertentu yang mengandung stereotip negatif. Katakanlah ada Islam Liberal, Islam Ramah, Islam Marah, Islam Radikal, Islam Moderat, Islam Arab dan lain sebagainnya.

Sampai sekarang, saya sendiri belum menemukan sebuah konklusi yang utuh akan maksud dua ormas tersebut mengusung jargonnya masing-masing. Saya pernah mengumpulkan (ber-tabayyun) informasi dari dua kawan saya, yang kebetulan masing-masing dari mereka adalah pengurus pimpinan cabang istimewa dua ormas tersebut di Turki. Mereka mencoba menjelaskan maksud jargon tersebut, meskipun pada akhirnya mereka sendiri tidak sepenuhnya paham tentang maksud pimpinan ormas mereka sendiri, mengapa mengusung jargon tersebut.

Akan tetapi, berdasarkan keterangan dua teman saya itu dan juga penjelasan langsung (dalam sebuah dialog menjelang muktamar akhir-akhir ini) dari pimpinan ormas tersebut, yakni Prof. Din Syamsudin dan Prof. Said Aqil Siradj. Saya merangkumnya begini:

Islam Nusantara: Menurut Prof. Said adalah sebuah paradigma (pandangan) akan ke-Islaman jalan tengah. Tidak cenderung kekanan ataupun kekiri. Islam yang moderat, toleran dan anti kekerasan. Selain itu, ingin menujukkan bahwa Islam mampu melebur dalam budaya aseli bumi nusantara. Sebuah antitesa dengan apa yang terjadi dengan dunia arab saat ini.

Islam Berkemajuan: Sebuah konsep ber-Islam yang berjalan beriringan dengan konsep negara Indonesia. Prof. Din menambahkan, cita-cita “memajukan kesejahteraan umum” dan “mencerdaskan kehidupan bangsa”, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945, adalah hal-hal yang dicita-citakan oleh Islam berkemajuan.

Sama-sama terdengar bagus memang, tapi kita mesti memahami satu hal. Bahwa Islam itu bersifat universal, sama dan mempunyai kedudukan primer di atas apa-apa yang mengikutinya. Jangan sampai hadirnya predikat-predikat di belakang Islam bertujuan untuk mengaburkan nilai-nilai universal (Islam). Idealnya, tidak ada yang namanya Islam menurut versi jamaah atau negara tertentu. Karena, kalau kita tidak paham boleh jadi nanti akan ada Islam Malaysia, Islam Amerika, Islam Ortodoks bahkan sampai ada Islam Protestan.

Politik identitas

Jangan sampai kita terjebak ‘agenda’ politik identitas. Yang terlalu mendewakan hal-hal yang bersifat lokal-partikular ketimbang nilai-nilai universal dan utuh (Islam). Jangan sampai karena terlalu cintanya kita dengan budaya Nusantara lalu kemudian kita membenci Arab dan anti-Arab. Karena bagaimanapun, Quran kita berbahasa Arab, Rosulullah adalah orang Arab dan juga berbahasa Arab. Sejarah mencatat, agenda licik dari politik identitas sudah berhasil membuat dua agama samawi (Yahudi dan Nasrani) kehilangan jati diri dan nilai otentitas. Selain itu, politik identitas pula lah yang sekarang ini melahirkan nilai-nilai nasionalisme yang sempit, yang melahirkan negera-negara baru cuma berdasarkan perbedaan ras dan bahasa.

Sehingga, jika umat muslim nusantara tidak berhati-hati, maka bisa jadi kita saat ini sebenarnya sedang digiring menuju agenda politik identitas yang mencerai-beraikan, yang tentu berlawanan dengan agenda utama dari proklamasi bangsa ini, Persatuan Indonesia.

Jalan Terbaik

Ormas, jamaah atau kelompok Islam hendaknya tidak perlu menunjukkan siapa yang paling benar. Biarlah Allah dan sejarah yang mencatat. Dan harus dipahami pula, tak perlu masing-masing harus bersaing dan saling menjatuhkan, karena pada dasarnya dengan adanya kelompok-kelompok tersebut justru sebagai komplementer.

Jika dulu lahirnya NU dipandang sebagai antithesa dari gerakan pembaharuan Muhammadiyah, maka sekarang kita harus memandangnya menjadi sebuah sintesa antara dakwah kaum santri dengan dakwah kaum priyayi. Benar, masing-masing memang mempunyai pendekatan yang berbeda, tapi harus bisa saling melengkapi. Dengan begitu akan terwujudnya sebuah tatanan baru, yaitu Islam yang murni dan Nusantara yang Berkemajuan.

Karena jika tidak, maka kita akan terus terjebak dalam ‘kemunduran’ seperti Prof. Din Syamsudin bilang.

“Islam di Indonesia saat ini, tidak cukup memiliki infrastruktur untuk mencapai kemajuan, sehingga mudah terkalahkan kelompok lain. Islam Indonesia adalah kelompok mayoritas dengan mental minoritas.”

Wallahualam

Advertisements

20 thoughts on “Nahdlatul Muhammadiyah

  1. Kalau menurutku, tema ‘islam berkemajuan’ yang digunakan dalam muktamar Muhammadiyah, tidak menjadi sebuah aliran/jamaah baru, hanya menjadikan islam sebagai dasar bangsa untuk maju/berkemajuan.

    Sedangkan Islam nusantara menjadi jenis “islam baru” dengan definisi yg belum jelas. Sebab pengusung islam nusantara menyampaikan definisi berbeda-beda. Bahkan mereka sudah memposisikan sebagai negasi dari islam radikal, fundamental, apalah (yang aslinya istilah itu juga tidak ada dalam islam).

    Islam nusantara dilihat dari pentolan2nya adalah dedengkot islam liberal. Kelihatan, islam nusantara cuma baju baru JIL pengasong sepilis yang mereka pasarkan dengan mendompleng NU.

    Posisi sy (NU atau muhammadiyah) juga sama dengan Mas (siapa ya manggilnya? Hehe). Tapi sy cenderung mengikuti tata cara NU (kecuali ziarah kubur yang malah jadi kejawen gara2 GD).

    Jadi sebetulnya sy kesal pada pengasong sepilis yg ndompleng NU dan sekarang jualan islam nusantara di muktamar NU. 😥

    Maaf ya komeng sy panjang sekali, hehehe

    Cheers ^_^

    • Wih akhirnya aktivis #IndonesiaTanpaJIL bereaksi juga, harusnya komennya bisa lebih panjang dari yang diatas dengan data dan fakta baru (mungkin?). hehe

      Nah itu yang saya takut seperti itu, dengan mereka yang jualan JIL makin tidak laku kemudian ikut2an ndompleng.
      Tapi bagaimanapun, sampai sekarang saya belum bisa menyimpulkan. Saya masih percaya ditubuh NU yang besar itu, masih banyak orang yang benar2 pejuang ASWAJA ketimbang yang tertuduh dan berperilaku sepilis.

      • Dari pertama saya tahu JIN muncul ke ruang publik pas acara isro mi’roj dengan langgam Jawa, sejak saat itu yg sy takutkan bener-bener nyata kayak sekarang. Sejak saat itu juga sebetulnya pengen nulis tentang jemaat Islam Nusantara ini. Tulisannya nggak cukup satu atau dua tulisan. Bakal berseri dan banyak. Sebab bicara JIN komprehensif dari berbagai dimensi. Sangkut pautnya banyak hal.
        Dan sayang sekali, semua itu baru sebatas niat saya. 😥
        ‘dikerjain’ kerjaan mulu. Jadinya saya malah cuma nulis geje doank di blog! 😐
        Tau sendiri kan?!
        Hiks *malah curhat*

  2. Kalo saya sih lebih ke muhammadiyah yang sedikit tatacara ibadahnya ada yang ala nu. Begitulah warisan dari orangtua dan lingkungan saya.
    JIN itu sudah sedikit berhasil dengan acara isro mi’roj dengan bacaan alquran langgam jawa. Walau sang menteri agama sudah minta maaf dengan keteledoran yang disengaja itu, tapi bagi saya gak habis pikir lha kok bisa kejadian begitu?

  3. Fenomena hari ini memang layak di kaji. Sy justru lebih suka melihat sejarahnya. Di lombok ada orgnisasi keagamaan terbesar (Nahdlatul Wathan). Kata mereka, “sebanrnya organisasi hanyalah wadah untuk menampung org yg seiman, seakidah, sepemikiran yg ingin sama berjuang untuk membangun agama bangsa dan tan tanah air. Tp fenomena sekarang justru berbelok, cenderung organisasi dijadikan sebagai kendaraan politiknya. Orgnisasi hanyalah mitra untuk memuluskan kepentingan politik. Makasih postingannya. Ini jadi bahan kajian diskusi saya dan temen2 :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s