22 September

22 September, dua puluh *tiiiit* tahun yang lalu adalah hari paling menyejarah dalam hidup seorang wanita tangguh, Ibuk. Setelah menempuh perjalanan mendaki gunung, melewati lembah berpuluh kilometer jauhnya, beliau akhirnya sampai juga di RSUD Wonogiri. Si-jabang bayi yang beliau kandung kali ke-empatnya itu, kali ini si bayi memang banyak maunya. Setelah menahan sakit hampir seharian di rumah bersalin tak jauh dari rumah, si-jabang bayi tak kujung mau keluar, sang bidan desa pun akhirnya angkat tangan. Si-jabang bayi butuh penanganan khusus. Padahal, jika melihat kebelakang ketiga anak beliau sebelumnya berhasil ditangani sang bidan cukup dengan persalinan normal.

Sore itu diputuskan berangkat ke kota kabupaten, dimana terletak satu-satunya rumah sakit yang menyelenggarakan operasi caesar kala itu. Berbekal mobil sewaan, rujukan bidan dan tentu saja seekor sapi betina yang sedang mengandung, bapak buru-buru membawa ibu ke rumah sakit. Pertimbangannya adalah karena sang isteri tercinta sudah mulai kehabisan tenaga dan tentu saja khawatir akan terjadi pecah ketuban sebelum sang jabang bayi sempat dilahirkan. Di temani oleh beberapa orang saudara dan beberapa tetangga berangkatlah bapak ke kota sambil dihinggapi rasa cemas. Selain cemas karena resiko perjalanan yang medannya naik turun itu, juga cemas akan ketiga anak-anaknya yang masih kecil-kecil bingung karena ditinggal pergi orang tuanya di rumah sendirian. Satu-satunya doa beliau waktu itu adalah jangan sampai Ibuk pecah ketuban.

Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan bapak benar-benar terjadi. Di perjalanan, akhirnya Ibuk mengalami pecah ketuban. Melihat kondisi itu, bapak meminta sopir untuk ngebut sengebut-ngebutnya, khawatir semakin lama bayi didalam rahim akan beresiko keracunan air ketuban.

Akhirnya, tepat jam 23.00 hari Kamis malam Jumat, si-jabang bayi berhasil diangkat dari rahim Ibuk dengan selamat melalui operasi ceasar yang terhitung singkat. Tangis bayi laki-laki berbobot hampir 4 kg itu, terdengar keras, membuat suasana riuh di rumah sakit yang kala itu sunyi senyap di malam hari.

Kemudian,

Di malam hari itu, bertambahlah jagoan Bapak-Ibuk menjadi empat gundul. Melengkapi suasana keriuahan bahagia dalam keluarga sederhana mereka.

Di malam hari itu, sebuah luka sayatan membekas di bawah pusar Ibuk. Pernah Ibuk perlihatkan, di kala anak bungsunya itu mbandel susah diatur beberapa belas tahun silam.

Di malam hari itu, bapak harus rela kehilangan salah satu tabungannya. Yaitu, seekor sapi jawa yang sedang mengandung. Sapi itu, beliau gadai sebagai penebus biaya operasi. Ya, kala itu tabungan paling produktif kalau tidak berupa sawah ya sapi, warga desa kami belum mengenal deposito bank yang kata-katanya berbau riba itu. Dan sejak malam itu pula, bapak harus berganti profesi.

Lalu, 22 September bukanlah waktunya pecah telor seperti jaman SMA, traktir-traktir (dipaksa) seperti jaman kuliah (meskipun sekarang terkadang masih), ataupula perayaan besar-besaran yang mengharuskan masuk tipi kaya Syahroni.

Bagi saya, 22 September adalah perenungan. Merenung karena pada hari itu bukan saja tentang hari dimana saya lahir. Melainkan tentang hari dimana Bapak yang tak lagi pelihara sapi. Bapak yang ganti profesi. Dan Ibu yang harus operasi.

Bagi saya, 22 September adalah rasa syukur. Syukur atas kesempatan melihat wajah teduh Bapak dan Ibuk. Syukur atas sejuk akan nasehat dan tentu saja syukur menjadi anak dari mereka.

Bagi saya, 22 September adalah titik tolak dimana saya menjadi. Menjadi seseorang pejalan yang kian mantab tiap langkahnya, yang tau arah dan bertambah yakin akan pencapaian.

Dan bagi saya, 22 September adalah hari ketidakpedulian. Tidak peduli jika dua tahun lalu masih ada seorang Akif Çağtay (Menpora Turki) mengucapkan selamat ulang tahun, tidak peduli jika setahun yang lalu İş Bank berkirim ucapan ulang tahun tagihan kartu kredit dan tidak peduli jika tahun ini belum bisa membawa pulang calon mantu. #Nasib.

Lalu, bagaimana dengan 22 September tahun depan?

Saya hanya berharap semoga Bapak-Ibuk sudah bertambah mantu *eh maksudnya, semoga Tuhan masih mau memberi kesempatan saya menyiapkan bekal kembali ke surgaNya.

Selamat ulang tahun ya… (jika ada lahir di tanggal yang sama 😀 )

Klik Like jika suka, Comment jika ada yang mau komplain, Share jika tidak terima dan Aamiin jika berharap yang sama dengan postingan ini.

Salam bahagia!

~Finally, akhirnya saya kembali ya setelah sekian lama. Jadi, mohon maaf buat para stalker yang kurang bahan update, dan komentar-komentar yang belum berbalas. Maklum, sang empu blog lagi meniru Ashabul Kahfi, sendiri-menyepi-menata hati. 😀 #alesan

Foto (bukan) saya waktu bayi
Foto (bukan) saya waktu bayi

*gambar ilustrasi dari sini

Advertisements

32 thoughts on “22 September

  1. happy belated milad mas bro…. may Allah bless you, always. may all your dreams come true, terutama cita2 untuk menambah menantu bapak dan ibuk 🙂 mau saya kenalin sama ponakan saya 🙂 anaknya sholehah, lagi kuliah di brisbane.

  2. tidak peduli jika tahun ini belum bisa membawa pulang calon mantu. #Nasib. ~>> Sepertinya tiap postingan ada bullian untuk diri sendiri. Hahaha.

    Kalau aku malah langsung lahir pas dukun bayinya nyampe rumah, wkwkwk. Keren kan bisa “lahir sendiri” hahaha

  3. Kunjungan balasan =D

    Semoga umurnya berkah ya akhi #udah syndrome twenty something yak, wkwkwk

    Inget banget, almarhum bapak juga dulu klo nelpon pasti nanya gmn kabar? kapan balik ke Jakarta?

    The last, jangan lupa undangan akad nikah plus lampiran tiketnya yah, hehehe

  4. beda dua hari sama orang yang paling berarti dalam hidup saya. Apakah ini pertanda? Hahaha 😀 Salam kenal mas 🙂 Sudah save alamatnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s