Little Boy

little_boy
Pernah dengar istilah ‘Little Boy’? kamu yang waktu sekolah dasar tekun membaca buku wajib berwarna kuning dengan sepasang anak SD sebagai covernya atau setidak-tidaknya membaca buku tipis LKS Ceria untuk pelajaran sejarah IPS, pasti kamu tahu. Tahu kan? pasti taulah. Masih belum tahu juga? ya udah mari saya ceritain.

Little Boy adalah code name untuk sebuah bom atom yang memiliki berat ‘hanya’ 4 ton. Meski cukup ringan, tapi bom yang satu ini berhasil membunuh paling tidak 130.000 nyawa manusia dan membuat cacat permanen ratusan ribu penduduk Hiroshima lainnya, dan itu terjadi 70 tahun yang lalu. Yah, walaupun relatif ‘kecil’, tapi yang namanya bom nuklir ya tetap wangun untuk membunuhi umat manusia (meskipun sebagian besar dari mereka tidak berdosa).

Dan oya, perlu diingat. Menurut khasanah pemikiran sekarang aksi semacam ini bukan termasuk aksi teroris lho ya. Masak aksi ‘terhormat nan menyejarah’ macam yang dilakukan negeri Paman Sam ini disebut teroris. Aksi teroris itu paling tepat buat mereka yang suka melempari tank baja Israel dengan batu, gegara ingin melindungi masjidnya atau main tembak ‘kembang api’ karena tanahnya dijajah oleh begundal tak tau diri yang pernah menumpang berteduh karena diusir dari tanah Eropa. Dan kalian perlu catat! kalau ada yang bertanya begini, Mereka yang membakar masjid dan pertokoan warga beberapa waktu silam masuk teroris ndak? maka jawablah dengan elegan: Ya ndaklah, justru yang begitu perlu penghargaan, buktinya kemarin para pelaku justru dijamu oleh tuan pemilik istana dengan jamuan terbaiknya. Makanya, besok diulangi lagi ya!!. *nglindur*

Baiklah, kembali ke Little Boy. berkat aksi si mungil Little Boy dan saudara tuanya Fat Man, berhasil memaksa tentara Jepang untuk menyerah. Dan secara tidak langsung memberikan kesempatan negeri-negeri jajahannya di Asia Timur (termasuk Indonesia) untuk memerdekakan diri. Meskipun, teori semacam ini paling dibenci oleh mereka kaum sejarahwan yang nasionalis-fundamentalis di negeri kita.

Dan, tulisan ini sebenarnya tidak sedang membahas tentang sejarah secara spesifik meskipun ada unsur sejarah yang terkait. Karena sebenarnya, saya ingin membahas film yang baru saja saya tonton kemarin, berjudul sama dengan judul blog ini. Little Boy.

Film yang digawangi oleh sutradara kang Alejandro Gomez Monteverde (panggilannya kang Ale) ini memang cukup ciamik, terbukti dari rating yang tertulis di situs nonton film gratisan langganan saya, ratingnya cukup tinggi 7.2.

Ya, maafkan saya yang kang, hamba hanya bisa bermodal gratisan untuk film bergenre seperti ini. Saya nonton di bioskop hanya untuk film-film 3D, seperti Ant-Man yang saya tonton akhir-akhir ini. Dan sekali lagi, maafkan saya kalau ini dikatakan ‘pembajakan’, meskipun secara harfiah saya tidak melakukkannya, melainkan sebatas hanya numpang nonton.

Plot

Film dengan bintang utama Jakob Salvati yang memerankan sebagai Pepper -bocah ‘ajaib’ berumur 7 tahun. Melihat tampang nan menggemaskan dari Pepper ini, saya jadi teringat dengan keponakan saya, makanya saya langsung jatuh hati untuk menuntaskan film ini, meskipun sebenarnya banyak urusan yang menanti.

Alkisah, James Busbee (ayah Pepper) diharuskan untuk berangkat menjadi tentara sukarela US Army dalam Perang Dunia II melawan Jepang. James harus berangkat sebagai ganti anak sulungnya (London) karena anaknya tersebut tidak lolos test ketentaraan, sebab karena masalah di kakinya.

Seperti halnya London, Pepper dianugerahi dengan kelainan fisik pula. Tubuhnya lambat berkembang, jika dibanding anak-anak seusianya. Maka dari itu ia dijuluki sebagai the Little Boy oleh orang-orang disekitarnya, -sebuah penghalusan makna daripada kata dwarf (cebol).

Film ini, mengisahkan tentang perjuangan the Little Boy (Pepper) dalam menuntaskan deretan kebaikan yang terdapat di dalam ‘the ancient lists’ pemberian seorang pastur. Pastur itu berkata, “Kalau kamu berhasil menuntaskan list tersebut, maka kamu akan mendapatkan kejaiban, berupa memindahkan gunung sampai membuat ayahmu kembali”.

Petualangan Pepper pun akhirnya dimulai, satu persatu list dari the ancient list berhasil ia penuhi, termasuk juga berteman dengan Hashimoto, orang Jepang-Amerika.

Pertemanan Pepper dengan Hashimoto menimbulkan friksi, wajar waktu itu musuh terbesar Amerika adalah Jepang. Setelah, satu persatu list berhasil ia penuhi, maka mulailah terbukti satu persatu keajaiban. Dari memindahkan gunung, menjatuhkan “the Little Boy” yang sebenarnya di Hiroshima, hingga keajaiban yang Pepper paling tunggu-tunggu. Yaitu kembalinya sang Ayah ke rumah.

Penilaian

Dalam dunia perfilman, saya sebenarnya lebih cenderung suka nonton film bergenre science-fiction, action, war atau movie yang banyak gelut-gelutnya gitu. Namun, sesekali beralih ke genre yang tidak begitu butuh adrenaline, lebih mengedepankan permainan rasa yaitu drama.

Dan film Little Boy ini, berhasil mempermainkan perasaan saya. Film yang bisa dikatagorikan film keluarga (maksudnya film yang recommended jika ditonton bareng-bareng sekeluarga) ini benar-benar menyentuh, namun tetap tidak cengeng, elegan dan tidak bertele-tele. Banyak sekali pelajaran-pelajaran berharga, terutama pelajaran berkaitan hubungan antara ayah-anak.

Selain plot yang cukup epic, karakter pemainnya pun benar-benar ajib. Terutama si-pemeran Pepper si ‘Little Boy’ sendiri, Jakob Salvati. Secara total, saya memberikan nilai 7.5 lebih tinggi dari nilai versi IMDB.

Ditulis di malam takbiran, hanya dikamar berteman segelas teh melati dan beberapa butir kacang almond. Duh, nikmat manaMu lagi yang hambamu ini dustai. Ampuni, Gusti.

Selamat Menonton dan Selamat Hari Raya!

*gambar ilustrasi dari sini

Advertisements

23 thoughts on “Little Boy

    • Biasanya sih merk Tuqba mba… tapi yang kali ini tak bermerk, soalnya dibawain oleh2 temen yang habis pulang kampung ke negaranya, dan kebetulan dikampungnya dia punya kebun kacang almond hehe… jadi merk gratisan hoho

  1. Ngebom tahun 1945 kalo dilakukan amrik gak termasuk kejahatan perang. Kalo orang Palestina mempertahan diri dan tanah airnya dengan senjata di abad 21 baru termasuk teroris. Itu menurut penilaian amrik & genk-nya. Grrrrrhhhhh…..benci aku.

    Selamat idul adha mas. Semoga nanti kalo pulang ke tanah air berpartisipasi meningkatkan penggunaan panas bumi buat sumber setrum. Sekarang pemerintah bikin target buat listrik sebanyak 35 ribu mw, tapi yang pakai energi panas bumi berapa? Sangat kecil sekali.
    Harusnya pemimpin negara bernama Indonesia malu. Negara tetangga, Pilipina, sudah menggunakan panas bumi sebagai sumber pembangkit listrik sebanyak 25%. Lha, ini panas bumi melimpah, tapi berlomba membakar batu bara dan energi fosil. Grrrhhhhh…geram aku.

    • Yup, begitulah Pak dunia hari ini, semua serba terbalik. Masalah energi di indonesia juga bukan masalah sederhana, selalu aja ada konglomerat minyak dibelakang pemenang pilpres, sehingga main policy di bidang energi tdk pernah ramah dengan renewable energi.

  2. Doh, film drama menguras perasaan, saya bisa membayangkannya. Setuju Mas, sesekali memang perlu menonton film yang menguras emosi seperti ini :hehe. Tapi Mas, dirimu ditemani kacang almond, saya ditemani kacang mete :eaaak. Terus, saya setuju dengan logika di atas soal kemerdekaan dan bom di dua kota itu. Bahkan kalaupun dua kejadian itu berkaitan, apa yang terjadi lebih dulu belum tentu merupakan penyebab dari apa yang muncul belakangan :)).

    • Haha nonton film drama sesekali biar hati sedikit melow #tsaah

      Saya juga suka kacang mete kok mas, kebetulan dekat rumah saya (beda kecamatan) ada sentra kebun dan industri mete. Cuma, mete kalo kebanyakan eneg dan bikin mual, tapi kalo almond rasanya kaya makan kuaci alias ngga mau berhenti hehe

    • Hmm kurang tau bakal tayang dibioskop di Indonesia apa tidak, secara film ini sudah release sejak februari kemarin, dan disitus2 kesayangan sudah ada yang kualitas HD, jd kalo penasaran you know the way hehe

      • Oh ya, pas baca postingan ini jadi ingat film contact. Suka film yang mikir gitu nggak mas? Kalau ada rekomendasi, bolehlah kapan-kapan diposting.

      • iya, sama, lebih dari sekali baru ngeh maksudnya apa. Film-filmnya Nolan kata temen recommended sih rata-rata. Macam inception, the prestige, insomnia, rata-rata Nolan menciptakan film dengan menganggap bahwa penonton itu cerdas

      • Iya, the dark knight 1-2, lanjutan batman begins. Keren juga. Khususnya, tokoh utama yang tetap manusiawi 🙂 Kalau the prestige tentang dunia sulap.

        Btw, kalimat ini nih “di situs nonton film gratisan langganan saya……….., maafkan saya kalau ini dikatakan ‘pembajakan’, meskipun secara harfiah saya tidak melakukkannya, melainkan sebatas hanya numpang nonton.” Haha masih mending deh kayaknya. Lha sayah? sekali duduk dekat surga (baca: wifi) bisa ngunduh sampai 20 film! :”D *tidakuntukditiru*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s