Ada Apa Dengan (Media) Kita?

“Pernahno sing sak penere, ojo gawe-gawe, ora becik”

Sudah lebih dari setahun saya akhirnya memutusan menutup akun Facebook pribadi. Dengan keputusan itu, ternyata membawa beragam respon terutama dari para fans teman maupun saudara saya sendiri. Padahal kan masih ada WA, Line dll. Ya, sebelum saya tutup akun, memang tidak sempat ada woro-woro atau ucapan good bye (ini mah lebay) hanya tiba-tiba menghilang begitu saja.

Keputusan saya itu dilatarbelakangi oleh makin banyaknya postingan ‘sampah’ dari pendukung dua kubu yang bersaing di pilpres tahun lalu. Kebetulan saya bukan voter keduannya. Dan apalagi, waktu itu menjelang Ramadhan. Saya berniat mengasingkan diri dari ‘kebisingan’ yang tak berujung itu.

Sejauh ini, saya cukup bahagia dengan keputusan saya itu. Tidak lagi melihat, sampah-sampah berserakan. Medsos yang masih saya gunakan sekarang ini cenderung lebih private dan tidak banyak ‘kegaduhan’ di dalamnya, lebih banyak informasi dan ilmu yang saya butuhkan ketimbang hal-hal yang cenderung diperdebatkan.

Efek negatifnya, saya jadi kurang update tentang isu-isu terkini. Termasuk berkaitan tentang isu yang berkaitan dengan teman dalam pertemanan. Ketika ada dua teman yang berselisih gegara ada yang update status yang menyinggung, saya pun telat mengetahuinya. Baru mengetahui, setelah teman yang lain bercerita. Dan sebenarnya, buat apa saya tahu? ah dunia pertemanan itu.

Nah, kemarin. Di salah satu grup medsos yang masih saya gunakan (yang sebenarnya lebih private dan sebenarnya orang-orang didalamnya pun yang saya kenal) muncul sesuatu yang sebenarnya saya hindari. Dari tema-nya saja, saya sudah tahu bahwa kalau dilanjutkan berdebat maka tidak akan pernah berujung.

Awalnya salah satu teman mengshare berita tentang Ahok berkurban 30 sapi disertai sebuah komen darinya.

“Wiih hebat ya Ahok, non muslim aja mau berkurban 30 ekor sapi”

Teman-teman yang lain lantas merespon dengan,

“Wahh keren!!!, hebat!!, pemimpin yang patut dicontoh” dan seterusnya…

Kemudian, saya merespon postingan teman saya itu seperti ini.

“Duh hebat ya, Pak Ahok. Ada kemajuan. Saya doakan setelah ini beliau mau berhijab dan tahun depan bisa berangkat umroh”

Saya sadar, komentar ‘sindiran prinsipil’ saya itu tak akan memberikan apa-apa pada berubahan pola pikir, tapi justru memancing perdebatan yang sudah saya perkirakan. Kenapa pakai istilah “sindiran prinsipil” karena komentar saya itu memang tidak sedang main-main.

Dan benar, teman saya (yang sepertinya Ahok lover) merespon.

“Ini dia komen kampungan mulai muncul”

Tak mau kalah, teman yang lain menambahi,

“Waras ra sing komen ki…mosok laki laki berhijab…
Ra masuk…”

Yang lebih sadis,

“Kayaknya perlu obat”

Tapi ada yang agak bijak,

“Beliau yg tidak merayakan aja jg ikut berpartisipasi kok, kenapa sih kok pikirannya selalu jelek ke orang, kan gak salah jg tho kalo Ahok ikut berkurban”

Setelah agak lama saya diamkan, kemudian saya berbalas.

“Lho yang mana sih di berita itu yang menjelekkan, komentar saya juga malah mendoakan yang baik2 kok. Atau jangan-jangan menurut sampeyan semua hijab itu tidak baik? mari terus dukung Ahok.”

Kemudian seorang teman merespon,

“Doa mana yg baik menurutmu? Menyuruh Ahok berhijab?”

Saya membalasnya dengan,

“Lha bukannya berhijab itu baik tho?”

Seperti masuk perangkap, akhirnya ada yang komen begini.

“Kenapa ngga kamu aja yang berhijab? masak lelaki (Ahok) berhijab? bakal gimana modelnya entar.”

Nah, akhirnya saya ada kesempatan menjelaskan pernyataan retorik saya diawal tadi.

“Nah itu kamu paham, kalau laki-laki itu tidak wajib berhijab (meskipun hijab itu baik) dan belum lagi tidak pantas laki-laki memakainya. Lha ini (Pak Ahok), yang belum muslim (bersyahadat) kok ikutan2 ibadah agama lain -berkurban (yang bukan kewajiban dia) dan pantas ngga yang semacam itu?”

“Kalau Filsafat Jawi bilang: ‘Pernahno sing sak penere, ojo gawe-gawe, ora becik.'” komentar penutup saya.

Jleebb. Grup-pun sepi. Tak ada komentar lanjutan. Berharap teman-teman saya itu paham dengan apa yang ingin saya sampaikan. Namun, ternyata kembali ke hepothesis awal, diskusi seperti ini tidak akan pernah berujung.

Karena masih aja ada yang berkomentar putus asa seperti ini, yang intinya diputar-putar lagi.

“Tidak perlu bergeser dari inti masalah, semua amalan bukan manusia yg menilai. Tidak ada kebaikan yg didapat dari menilai orang lain yang mungkin lebih baik dari diri sendiri.”

“Emang kamu lebih baik dari Ahok?”

Nah, begitulah kurang lebih diskusi tak berujung itu. Lemahnya diskusi dengan tema seperti ini dan dengan mereka yang hati dan pemikirannya sudah terlanjur ‘memilih’ memang tidak mudah. Dan kadang kita juga merasa susah jikasudah berada di dunia maya, susah mengontrol tutur kata.

Penjelas

  1. “Pernahno sing sak penere, ojo gawe-gawe, ora becik” Artinya, tempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan membuat-buat (mencampur-adukkan), karena hal itu tidak baik.
  2. Dalam kasus ini. Ahok mungkin tidak paham bahwa Berkurban adalah bagian dari ritual ibadah agama Islam, yang cukup berbeda dengan sedekah (sumbangan) biasa. Seperti halnya, beda antara infaq dan zakat. Karena, Kurban dalam Islam ada syarat dan rukunnya. Karena beliau tidak paham (tentu, karena beliau belum muslim) jadinya menganggap biasa membahasakan sumbangannya itu sebagai kurban. Jadi kalau pak ahok berniat menyumbang, ya menyumbang saja jangan dibahasakan sebagai berkurban. Dan terlepas, jika memang ada agenda yang lain.
  3. Media yang lebay. Kita tahu, bahwa Ahok memang lagi menjadi media darling-nya media-media utama di tanah air (termasuk Kompas, Tribun, Detik dll). Membahasakan sumbangan sapi Ahok menjadi “Ahok berkurban” ingin membuat matri pemikiran kepada pembacanya (khususnya penduduk DKI) bahwa “Ahok lebih Islami, Ahok dekat dengan Islam, dan Ahok pantas menjadi pemimpin umat Islam”. Mereka lupa, bahwa apa yang mereka lakukan itu sebenarnya sudah intoleransi terhadap aturan (syariat) yang ada di dalam agama.
  4. Andai Pak Ahok dan Media, menggunakan istilah “Ahok berlatih berkurban” atau “Ahok belajar berkurban” tentu suasananya lebih adem. Seperti halnya, seorang non muslim yang “belajar puasa” , “belajar berhijab” dll. Yang namanya belajar, saya pikir sah-sah saja. Asal, bukan “Belajar Khitan”. Ini yang susah. 😀
  5. Umat yang kian bodoh. Salah satu bentuk kebodohan era sekarang ini bukan masalah buta huruf, gaptek atau akses pendidikan yang kurang. Bukan. Generasi sekarang secara pendidikan boleh jadi jauh lebih maju. Namun, ada satu kebodohan yang susah bagi kita untuk dihilangkan. Yaitu susahnya kita menerima nasehat dan ikhlas mengakui kebenaran. Kebodohan kita, sudah membutakan kita. Menolak kebenaran dengan melakukan pembenaran.

Ahok

Sumber gambar dari sini

Advertisements

25 thoughts on “Ada Apa Dengan (Media) Kita?

  1. Sepaham dgn Anda! Memang betul, ibadah kurban sangat berbeda dgn sedekah / berbagi. Ini bagian ibadah dlm Islam. Kita doakan sj mudah-mudahan beliau diberi hidayah utk menjadi Muslim. Amin. 😊

  2. Aku mau berkomentar banyak *tuman-ribut di lapak orang :p

    1. Media jelas framing. DKI “jantung” indonesia. Eks-DKI 1 adalah jalan mulus jadi RI 1. Ahok kelihatan banget di-pursue untuk jadi DKI 1 kemudian selanjutnya jadi RI 1. Let see. Kalau nggak waspada aja dari awal.

    2. Pilpres tahun lalu bukan sekedar milih nomer satu atau dua. Pilpres dengan kandidat 2 bijih itu mapping. Lihat aja deh pendukung nomer x ternyata pendukung pornografi, liberalisme, LGBT, sinkretisme, pluralisme, dkk. Contoh sederhana aja nih. Waktu masjid di Tolikara dibakar, ternyata yang ambil posisi jadi muslim dayus (toleransi salah kamar) juga pendukung nomer yg sama. Dan sekarang mereka ini adalah mereka mendewakan ahok. Keren kan?

    3. Tugas kita yang masih waras untuk memberi penyadaran. Lawan sesat logika dan sihir media. Gak masalah sekecil apa pun implikasi dr usaha kita. Toh hak kita cuma berusaha kan? Biar Allah kasih pertolongan-Nya dr arah yang tak disangka-sangka. Kalau kita memilih diam atau lari, ya bisa jadi karena itu Allah gak mau nolong.

    Cheers ^_^

    • Ya arahnya memang kesana, semoga aja AD atau mentok2nya SU bisa menyukseskan suksesi di DKI.

      Pilpres = mapping? kalau yang ngga milih masuk peta ngga? dan pilpres kemarin Tuhanpun sepertinya menyuruh unt golput (surat suara telat sampai alamatku, maklum nyoblos via pos). hehe

    • Jdi inget pas pilpres. Seorang pernah berkata, “nomor satu itu baik nomor dua juga baik”.
      Klo nomor dua menang, yg mimpin ibukota itu otomatis sang wakil. Apakah mau dipimpin oleh yg non muslim ?”
      Bukan ingin membedakan. Tp itu faktanya 🙂
      Media kita memang sepeti itu. Pemikiran masyarakat seakan diseret dan dibawa sesua keinginan mereka, seenaknya saja tergantung keinginan si pemilik media. Jgn heran orang bilang “BAD NEWS IS A GOOD NEWS”

  3. Btw Mas Parmanto skrg di fb ada pilihan unfollow. Tujuannya untuk berhenti melihat kegiatan seorang teman di timeline/newsfeed tanpa menghapusnya dari daftar pertemanan. Ini sangat membantu saya ketika jaman pilpres hingga sekarang. 🙂

    Saya juga ndak pernah menganggap terlalu serius berita-berita yang ada di internet, pun kalimat yang digunakan. Tujuannya agar saya tidak berburuk sangka; terjebak dalam framing ataupun media darling. Toh lebih asik blogwalking, hehe

    • Haha iya sih waktu itu udah ada fitur unfollownya, tp akhirnya saya milih ditutup sekalian. Ntar kalo emang lg butuh bisa diaktifin lagi hehe

      Iya, blogwalking emang lbh asyik. Sya juga jadi (agak) rajin ngeblog sejak tutup akun fb. hehe

  4. Nyimak. Sekarang medsos pada rame ya kalo punya kolom komentar. Apalagi lovers dan haters yang saling perang kata2. Tapi itu istilah “berhijab”nya keren. lho. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s